Senin, 20 Juni 2016

Udin Jadi Dokter

Ada seorang pengangguran bernama Udin. Dalam kejenuhan mencari pekerjaan, akhirnya dia pun mencoba membuka sebuah klinik pengobatan, walaupun dia bukan dokter ataupun pernah kuliah kedokteran.
Supaya orang-orang mau berobat ke klinik nya, Udin membuat iklan menarik :
"Kalau sembuh cukup bayar 100 ribu, kalau tidak sembuh kami bayar anda 1 juta".
Konon ada seorang dokter tak sengaja membaca iklan itu dan langsung ingin mencoba.
Udin : "Sakit apa Pak..?"
Dokter : "Mulut hambar, kalau makan tak terasa apa- apa ".
Udin : "Oh baiklah. Itu cukup diberi obat nomer 22 sebanyak 3 tetes di dalam mulut".
Dokter : "Wah! Minyak rem ini, bukan obat.!"
Udin : "Hah, bapak sudah bisa merasakan lagi. Silahkan bayar 100 ribu".
Dokter itu jengkel karena merasa dikerjain, selang seminggu kemudian dia datang lagi.
Udin : "Sakit apa lagi..?"
Dokter : "Saya hilang ingatan".
Udin : "Baiklah, saya akan memberikan obat nomer 22 dan gunakan sebanyak 3 tetes dalam mulut".
Dokter : "Wah! gak mau, itu minyak rem yang kemarin kan.?"
Udin : "Wah, bapak udah bisa mengingat lagi? Berarti sudah sembuh. Tolong bayar 100 ribu".
Dokter tersebut makin jengkel karena merasa dikerjain lagi. Seminggu kemudian dia datang lagi berniat balas dendam. Kali ini dia mau pura-pura sakit yang parah biar dokter gadungan itu tidak mampu menyembuhkan.
Udin : "loh.. sakit apa lagi, Pak.?"
Dokter : "Mata saya rabun tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas".
Udin : "Mohon maaf, Pak.., kalau sakit seperti itu saya tidak bisa menyembuhkan. Ini silahkan ambil 1 juta (sambil menyerahkan selembar uang dua ribu rupiah)".
Dokter : "Wah! Ini kan cuma dua ribu rupiah ! ".
Udin: Wah, bapak sudah bisa melihat dengan jelas? Berarti anda sudah sembuh. Silahkan bayar 100 ribu".

Sumber : Islamuna.info

Rabu, 15 Juni 2016

Doa Cinta


Seorang wanita bercerita kepada Kiai Hamdani, bahwa setelah umur pernikahannya memasuki tahun ke-10, suaminya menjadi sangat sibuk dengan tugas dan pekerjaannya. Perhatian sang suami kepada istrinya seakan hilang. Wanita itu berkata, “Mengapa semakin saya mengharapkan perhatian, cinta dan kerinduannya kepada saya, justru apa yang saya harapkan itu semakin menjauh.”
Wanita itu lalu mengadu kepada Allah. Bertahun-tahun ia habiskan malamnya bersama Allah Swt. Sehingga akhirnya cinta dan kerinduannya terhadap suami berpindah kepada Allah. Ketika cinta kepada Allah mulai bersemi di hati si wanita, terjadi perubahan luar biasa pada diri sang suami. Si suami kembali menyintai istrinya dan selalu merindukannya.
Sejak saat itu apabila ada wanita mengalami hal yang sama, Pak Kiai selalu menyarankan agar lebih dahulu meraih cinta dan kerinduan kepada Allah. Karena Allah adalah sumber cinta dan kerinduan.
(diceritakan kembali dari buku Psikologi Kenabian oleh Hamdani Bakran Adz-Dzakiey)

CINTA adalah milik kita yang sangat mahal.
CINTA tidak boleh kita berikan kepada sembarang pihak.
Hanya yang pantas saja yang boleh menerima CINTA kita.
Siapa sebenarnya yang paling cinta dan sayang kpd kita?
Siapa yang pemberiannya tidak pernah putus siang dan malam?
Siapa yang bantuannya bisa kita harapkan siang dan malam?
Siapa yang pintunya bisa diketuk setiap saat?
Siapa yang tidak pernah bosan mendengarkan keluh kesah kita?
Siapa yang tidak mengharapkan apa-apa kecuali kebaikan bagi kita?
Siapa yang memberikan kehidupan kepada kita?
Siapa yang bisa menyelesaikan persoalan kita?
Siapa yang bisa memberikan ketenangan di hati kita?
Siapa yang bertanggung jawab atas rezeki kita?
Siapa yang memberikan balasan sangat besar atas perbuatan kita yang kecil dan penuh kekurangan?
Siapa…
siapa….siapa…


Sumber : Habib Muhammad bin Husein bin Anis al-Habsyi

DOA YANG SERBA MENCAKUP

Abu Umamah bercerita bahwa Rasulullah Saw banyak berdoa tapi kami sedikit pun tak ada yang hafal. Lalu aku berkata, “Ya Rasulullah engkau memanjatkan banyak doa tapi tak ada satu pun yang dapat kami hafal.”
Beliau Saw berkata, “Maukah kutunjukkan satu doa yang mencakup semua doa itu? Katakanlah:
Allohumma innaa nas-aluka min khoiri maa sa-alaka minhu nabiyyuka Muhammad shollolloohu ‘alaihi wa sallam wa na-‘uudzu bika min syarri mas ta-‘aadzaka minhu nabiyyuka Muhammad shollol-loohu ‘alaihi wa sallam, wa antal musta-‘aan wa ‘alaikal balaaghu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan yang dimohon oleh nabi-Mu Muhammad Saw, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Nabi-Mu Muhammad Saw memohon perlindungan-Mu darinya, dan hanya Engkaulah tempat memohon pertolongan dan hanya kepada-Mu permohonan itu disampaikan, dan tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sumber : Habib Muhammad bin Husein bin Anis al-Habsyi

Al-Hikam 6 : Ditundanya Pemberian Allah Jangan Melemahkan Semangatmu untuk Meminta



لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ

"Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu,
setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa.
Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu.
Pada waktu yang diinginkan-Nya. bukan pada waktu yang kau inginkan."

-Ibnu Atha'illah al Iskandari- 


ALLAH SWT. Menegaskan bahwa Dia akan mengabulkan semua doa. Dia berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." (QS. al-Mu'min[40] : 60)
     Doa yang pengabulannya ditunda, mungkin lebih baik bagi seorang murid daripada doa yang pengabulannya disegerakan. Karena bisa jadi, penundaan doa itu ditujukan agar ia semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan merasa semakin takut kepada Allah. Dalam situasi ini, biasanya setan akan dan membisikannya, "Jika benar tekadmu kuat, Tuhan pasti sudah mengabulkan doamu, menghilangkan sifat-sifat kemanusianmu yang buruk, dan mewujudkan segala keinginanmu. : sehingga sang murid pun tidak sadar bahwa ditundanya pengabulan doa itu adalah lebih baik baginya.
     Bisa jadi pula, ditundanya pengabulan doa tersebut, disebabkan oleh sifat buruk sang murid yang terlalu banyak dan tidak bisa dihilangkan kecuali dalam waktu yang lama, sehingga mujahaddah dan riyadhah yang dilakukannya masih belum berpengaruh pada pengabulan doa-doanya.
     Orang-orang 'arif mengumpamakan alam ini dengan tanah yang dipenuhi tumbuhan berduri. Kadang durinya besar-besar dan banyak sehingga sulit dilalui dan melukai. Kadan durinya kecil-kecil, sedikit, dan mudah dihilangkan. Demikian pula sifat-sifat jiwa, ada yang sangat buruk dan berjumlah banyak sehingga untuk menghilangkannya membutuhkan waktu yang lama dan perjuangan panjang. Terkadang sifat-sifat itu tidak terlalu buruk dan hanya sedikit sehingga tidak perlu waktu lama dan perjuangan panjang untuk membersihkanyya. Ketika tujuan utama seorang murid adalah menghilangkan sifat buruk jiwa, meskipun itu memkan waktu yang lama dan berakhir di ujung usia, semua penderitaan dan perjuangannya selama masa itu tidaklah seberapa dibandingkan sengan tujuan utama itu.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Selasa, 14 Juni 2016

Nasehat Lukman Al-Hakim pada anaknya

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul, tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur'an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hakikat hidup.
"Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir."
"Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya."
"Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu."
"Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya."
"Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan."
"Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang."
"Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:
1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسل
___________
Allahuma sholii alaa sayyidina muhammad wa alaa aalihi wa shohbihi wa salim....

Al-Hikam 5 : Orang 'Arif Tidak Mencampuri Urusan Allah III


 اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ

 "Kegigihanmu dalam mencari apa yang telah dijamin untukmu
dan kekuranganmu dalam melaksanakan apa yang diminta darimu
menjadi bukti butanya mata hatimu."

-Ibnu Atha'illah al-Iskandari-


MAKSUD DARI "apa yang telah dijamin" ialah rezeki dan karunia Allah.
     Allah swt. Berfirman, "Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (QS.al-Ankabut[29]:60)
     Sementara itu, maksud dari "kekuranganmu dalam melaksanakan apa yang diminta darimu" ialah kekurangan dalam melaksanakan amalan-amalan yang bisa membimbingmu menempuh jalan menuju Tuhanmu, seperti zikir, shalat, dan wirid. Allah swt berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku," (QS.adz-Dzariyat[51]:56)
     Yang dituntut dari seorang murid ialah terus berusaha memberi makan tuh dengan zikir-zikir kepada Allah dan melakukan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada-Nya; bukan meberi makan yang lainnya karena itu sudah menhadi wewenang Tuhannya.
     Buta mata hati maknanya, hati tidak bisa lagi melihat berbagai perkara makanawi, sebagaimana mata dapat melihat perkara-perkara indrawi.
     Dalam hikmah diatas, Ibnu Atha'illah menggunakan lafal "kegigihan" untuk menyatakan bahwa mencari rezeki yang dilakukan sekadarnya dan tanpa kegigihan tidak dilarang bagi seorang murid karena tidak menyebabkan buta mata hatinya.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi

Lebih Dekat Mengenal Syech Ibnu Atha'illah al Iskandari

Sekilas Tentang Syech Ibnu Atha'illah al-Iskandari
     Ia bernama lengkap Abu al-Fadl Ibnu Atha'illah al-Iskandari ( ada yang menyebutnya as-Sakandar ). Dia merupakan salah satu Imam Sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang dai (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadist, dan ahli fikih Mazhab Maliki sehingga kredibilitas Ibnu Atha'illah dalam kancah intelektualitas dan keulamaan tak perlu diragukan lagi. Beliau lahir di kota iskandariah,Mesir, sebuah negara yang penduduknya selalu bangga menyebut negaranya sebagai "Ummu ad-Dunya" (Ibu Dunia). Sejak kecil, Ibnu Atha'illah sudah cukup akrab dengan literatur-literatur Islam dan pernah belajar berbagai macam cabang ilmu kepada kiai-kiai besar Mesir pada zamannya.
     Hal itu tak mengherankan karena ia termasuk orang yang beruntung, yaitu lahir di tengah lingkungan bangsawan penganut Mazhab Maliki. Padd umumnya yang masih relatif belia, dikabarkan bahwa ia juga telah menguasai beberapa disiplin ilmu, sperti ilmu nahwu, tafsir, ushul fiqih, fikih, dan hadis, Bahkan, Ibnu Atha'illah masih sangat muda ketika ia terkenak sebagai salah seorang pakat Mazhab Maliki.

Karya-Karya  Ibnu Atha'illah al-Iskandari
     Singkat cerita, setelah mengalami berbagai macam fase kehidupan yang penuh dinamika intelektual dan spiritual, Ibnu Atha'illah pun dinobatkan oleh umat menjadi seorang guru ketiga tarekat asy-Syadziliyah. Padhal, seperti diceritakan banyak orang, sebelumnya ia termasuk orang yang paling kritis terhadap ilmu tasawuf dan tarekat.
     Sebagai seorang guru tarekat, Ibnu atha'illah bukanlah guru tarekat biasa. Ia juga seorang intelek yang berkarya. Selain al-Hikam, ia juga menulis buku-buku lain, misalnya Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikirillah al-Karim, al-Fattahull-Muraqqi ilal-Qadir. 'Unwanut-Taufiq fi Ada'it Thariq, dan al-Qaulul-Mujarrad fil-Ismil-Mufrad.

Meninggal Pun saat Mengajar
     Ini kenyataan, bukan dramatisasi untuk melebih-lebihkan kehebatan tokoh yang satu ini. Alkisah, setelah mengarungi samudra kehidupan dengan segala macam amal ibadah dan karya-karya sosialnya yang nyata bagi umat Islam, akhirnya ia pun wafat, yaitu pada usia 60 tahun di Kairo, pada tahun 709H/1309M.
     Entah bagaimana-tentunya karean takdir Allah-Malikat Izrail menjemputnya ketika beliau sedang mengajar murid-muridnya di Madrasah Manshuriyah, Kairo Mesir. Duka cita pun membahana di seantero Mesir, bahkan dunia. Orang-orang berduyun-duyun melayat untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Sampai saat ini, tak ada cerita sedikitpun tentang warisan harta yang ditinggalkannya. Yang ada bahwa ia telah mewariskan ilmu yang luar biasa dan masih kita nikmati sampai sekarang;termasuk di dalamnya adalah kitab yang sedang Anda pelajari ini.

Kesimpulan
     Tentu saja, pembaca Kitab al-Hikam tak pelu khawatir akan melenceng dari ajaran agama Islam bila membaca Kitab ini, karena petikan-petikan hikmahnya mengandung makna mendalam dan senantiasa didasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah. Bahkan, buku ini menjadi penting karena menjelaskan kedua landasan utama agama Islam tersebut dalam masalah yang berkaitan dengan tauhid, etika, dan perilaku sehari-hari

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya,Amiin

Minggu, 12 Juni 2016

Adab Dalam Ilmu

Kehebatan Imam Malik tidak lepas dari peranan ibunya. Wanita pendidik sejati yang benar-benar perhatian terhadap urusan tarbuyah. Ibunya ingin agar Imam Malik tumbuh menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama Rabi’ah bin Abdurrahman. Ibunya membelikannya pakaian terbaik, dan sebelum berangkat, ibunya berpesan ; “Pelajarilah adab Syaikh Rabi’ah sebelum belajar ilmu darinya”.
Adab memang sangat penting dalam menuntut ilmu, kini ada begitu banyak orang yang berilmu tinggi namun cacat adabnya. Padahal pendahulu kita para ulama sangat memperhatikan hal itu.
Betapa pentingnya adab juga terlihat dari kisah Abdurrahman bin al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab”.
Semoga kita bisa menjadi orang yang memiliki adab yang baik.
Amiinn Yaa Robbal 'Alamin.

Keindahan Wajah Sayyidina Muhammad SAW

Dijelaskan oleh Abbuya Al Allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Jika para wanita memotong jari-jarinya karena terpesona saat melihat wajah nabi Yusuf As (QS. Yusuf : 31), Abbuya As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa wajah Rasulullah yang ada didunia ini hanya dilihatkan yang 1 bagian dari 10 bagian keindahan wajah rasulullah, yang 9 bagian lainnya akan di perlihatkan kelak di telaga haudh, Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi karena jika yang 9 bagian itu ditampakkan dibumi maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Subhanallah… wallahu a’lam

Al-Hikam 4 : Orang 'Arif Tidak Mencampuri Urusan Allah II

أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ

"Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu.
Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk ikut campur." 


-ibnu Atha'illah al Iskamdari-



SESEORANG KERAP merencanakan berbagai hal bagi dirinya sendiri sesuai keinginan nafsunya.
Kemudian, untuk menggapai rencana yang telah ditetapkannya itu, ia melakukan berbagai pekerjaan yang menyibukkan dirinya. Tentu saja, hal ini akan membuatnya lelah. Bahkan mungkin pula kecewa, terutama bila sebagian besar perkara yang telah direncanaknnya itu tidak berhasil diwujudkan.
     Dengan menggunakan lafal "Istirahat" , Ibnu Atha'illah ingin menjelaskan kepada para murid bahwa mereka dituntut untuk meninggalkan segala perkara yang menyebabkan keletihan dan penderitaan. Kecuali, jika perencanaan atau pengaturan tersebut ditujukan untuk sekedar memenuhi tuntutan hidup dan tak sampai memberatkan. Tentu saja, hal ini tidak merugikan diri. Bahkan pepatah mengatakan " Perencanaan adalah setengah dari kehidupan."
     Urusan-urusan yang telah diatur Allah hendaknya dijauhi oleh seorang murid. Ia tak perlu lagi sibuk mengurusi apa yang telah ditangani Allah karena tindakan seperti itu termasuk sikap "sok tahu" yang tak layak dilakukan oleh orang yang berakal. Lagi pula, tindakan itu bertentangan dengan prinsip rububiyah (kepengaturan) dak takdir Allah, selain juga bisa melalaikan ibadah.
     Hikmah ditas ditujukan sebagai peringatan bagi para murid karena biasanya apabila seseorang murid sedang menghadap Tuhannya dan sibuk dengan dzikir-dzikir dan ibadah-ibadahnya, seluruh sebab penghidupan duniawi akan terputus darinya. Saat itulah, setan datang dan mulai membisikinya, ,mengiming-iminginya dengandengan berbagai hal yang sebagian besarnya tidak akan pernah terwujud. Bisikan setan itu kemudian akan membuat si murid lalai, bahkan meninggalkan kebiasaan zikir dan ibadah. Tips untuk menghindari hal itu ialah banyak berxikir dan riyadhah(olah jiwa). Dengan xikir dan riyadhah, seseorang murid akan dijauhi setan dan terhindar dari kesibukkan menyusun rencana ini dan itu yang membuatnya letih.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Tips Agar Terhindar dari Sifat Sombong

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz :"Melawan kesombongan adalah dengan merasa hina, memberantas hawa nafsu adalah dengan selalu mengerjakan sunnah, melawan rasa bangga diri adalah dengan menyadari bahwasannya semua itu semata mata hanyalah anugrah"
Suatu ketika (dalam bahasa jawa) kami ditanya oleh Hadratus Syekh KHA. Nawawi Abd. Djalil Pengasuh PP. Sidogiri tentang makna kalimat dalam doa iftitah yang kita baca setiap shalat:
ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillahi rabbil aalamiin
Kami jawab, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semua aku lakukan (ikhlash) hanya karena Allah"
Kemudian beliau KHA. Nawawi berkata, "Itu kan makna secara fiqih. Kalau makna dalam ilmu tauhid bagaimana?"
Kami diam sejenak lalu berkata, "Maaf kami tidak tahu"
Beliau lalu dawuh, "Semua shalatmu, ibdahmu, hidup dan matimu itu karena dikehendaki Allah. Artinya semua itu atas kehendak Allah"
Jadi bersyukurlah kita yang shalat, kita yang puasa karena Allah menghendaki kita menjadi orang baik. Ketika kita melihat pemabuk, pencuri, pelacur, para pelaku ma'shiyat, cepat-cepatlah kita pegang dada kita, bersyukur kepada Allah karena kita oleh Allah tidak dikehendaki menjadi ahli ma'shiyat. Dan jangan sekali-kali merasa lebih baik dari mereka. Karena pada hakikatnya yang kita lakukan dan yang mereka lakukan, semua atas kehendak Allah.
Dengan berpikir demikian insya allah kita bisa untuk tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Jangan Salah Mencintai


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seseorang bersama dengan yang dicintainya (di akhirat kelak)”
(HR Al-Bukhari no 6169)
Sungguh menyedihkan, tatkala banyak kaum muslimin terutama dari golongan pemuda yang sangat mencintai para pelaku maksiat, bahkan dari kalangan orang-orang kafir!!! (terutama para pemain film dan para penyanyi serta para olahragawan). Foto orang-orang kafir tersebut mereka pajang di kamar-kamar mereka, menjadi penyejuk pandangan mereka, sebelum tidur dan tatkala bangun tidur.
Bahkan mereka meniru gaya berpakaian orang-orang kafir tersebut, mereka hafalkan lantunan-lantunan orang-orang kafir tersebut, mereka pelajari perjalanan hidup orang-orang kafir tersebut…!! Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang sejarah…, nama…, dan nasehat-nasehat Sayyidina Abubakar, Imam­ Syafii??, maka terdiamlah ia !!!
Bahkan kecintaan sebagian mereka sudah sangat mendalam kepada orang-orang kafir tersebut, terbukti tatkala para artis tersebut datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, hingga ada yang histeris tatkala menyaksikan idolanya, bahkan ada diantara mereka yang pingsan karena terlalu gembira !!!.
Apa yang akan mereka perbuat dengan sabda Nabi “Seseorang (dikumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!
Karenanya, cintailah orang-orang sholeh. Tirulah gaya hidup mereka, patuhilah petuah-petuah mereka, yaitu orang-orang yang jika kita mengingat mereka maka kita mengingat akhirat
Anas Bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:
“Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka” (HR Al-Bukhari no 3688).

Terlanjur Basah


Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata:
"Barang siapa pada mulanya merasa berat untuk melakukan perbuatan maksiat, kemudian ia mencoba untuk melakukannya satu kali saja, maka setelah itu ia akan merasa ringan untuk melakukannya lagi secara berulang-ulang.
Sebagaimana diceritakan, pernah seseorang berjalan dipinggir tanah yang berlumpur sambil mengangkat ujung celananya tinggi-tinggi. Ia sangat berhati-hati agar tidak jatuh serta tidak terkena percikan lumpur dan tanah kotor tersebut. Namun akhirnya ia terjatuh juga. Ia pun kemudian berjalan ditengah lumpur dan membiarkan celananya terjulur hingga menyentuh tanah sambil menangis.
Ketika ditanya mengapa menangis, ia menjawab, "Sebelumnya saya takut terjatuh dalam tanah lumpur ini, akan tetapi baru saja saya jatuh di sana, dan setelah itu hati saya merasa ringan untuk berjalan di tengah lumpur yang kotor tersebut. Demikian pula dengan maksiat."

Tips Memilih Istri

KH. Maimun Zubair dhawuh,
Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune.
(Kalau memilih istri itu yang kurang begitu paham urusan dunia. Sebab seberapa sholehnya anakmu, seberapa sholehnya ibunya)

Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas.
(Sahabat Abbas itu punya istri tidak suka berhias, sampai sahabat Abbas malu jika keluar dengan istrinya. Tapi beliau memiliki putra alimnya minta ampun, yakni Abdullah bin Abbas)
Sayyidina Husain nduwe bojo anake rojo rustam (rojo persia). Walaupun asale putri rojo, sakwise dadi bojone sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi.
(Sayyidina Husain punya istri putri raja Rustam (raja Persia). Walaupun asalnya putri raja, setelah menjadi istri Sayyidina Husain sudah tidak begitu suka dunia. Makanya punya putra Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alimnya keturunan Kanjeng Nabi.)
Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng POSO.
(Kiai-kiai Sarang alim-alim seperti itu, sebab nenek-neneknya suka puasa)
Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal padang yang tinggal di mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng
transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin.
(Syekh Yasin al-Padangi itu punya istri pandai dagang, punya dua orang putra. Yang satu menjadi ahli bangunan. Yang lain ahli transportasi. Semua putranya tidak ada yang meneruskan dakwah Syekh Yasin)
Neng Al Qur-an (di al-Qur'an)
نساؤكم حرث لكم
Istri iku ladang kanggo suami. (Istrimu ladang suami)
Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik.
(Seberapapun bagusnya bibit (padi) tapi jika tanah atau ladangnya tidak baik, maka tidak akan bisa menghasilkan padi yang bagus.)
Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ORA PATIYO NGURUSI DUNYO LAN KHIDMAH POLL KARO SUAMINE.
(Intinya bisa punya anak alim, kalau istrinya TIDAK BEGITU PEDULI URUSAN DUNIA DAN KHIDMAH TANPA BATAS KEPADA SUAMI)
Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat.
(Kalau kamu memilih istri pandai urusan dunia, kamu harus berani tirakat)
Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo.
(Kalau tidak berani tirakat, ya carilah isgri yang ahli dzikir, kamu yang berpikir urusan dunia alias kerja)

Keutamaan Basmalah

Foto islamuna.info Googlenya Aswaja. Islamuna.info - Diceritakan bahwa Abu Muslim al-khoulani mempunyai budak perempuan yang tak suka padanya, suatu ketika budak tersebut meracuninya dalam minuman tapi sama sekali tak mempan, selah waktu yang cukup lama akhirnya si budak tertanya padanya
" sungguh aku telah meracunimu dalam minuman diwaktu yang sudah lama tapi kenapa hal itu tak berpengaruh apa-apa padamu ? "
Abu Muslim bertanya padanya
" kenapa kau melakukan hal itu ? "
Si budak menjawab
" karena kau sudah tua renta "
Abu Muslim menjawab
" karena sesungguhnya aku setiap mau makan maupun minum selalu memulainya dengan mengucapkan BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM "
Lalu akhirnya Abu Muslim memerdekakan budak tersebut
حكى أنه كان لأبى مسلم الخولانى جارية تبغضه فكانت تسقيه السم فلا يؤثر فيه فلما طال عليها ذلك قالت له إنى سقيت السم زمنا طويلا وهو لا يؤثر فيك فقال لها لماذا ؟ فقالت لأنك صرت شيخا كبيرا فقال لها لأنى أقول عند الأكل و الشرب " بسم الله الرحمن الرحيم " ثم اعتقها
Sumber : An-nawadir hal 63

Kisah Qarun

KISAH QARUN
Foto islamuna.info Googlenya Aswaja. Jakarta, CyberDakwah.COM – Qarun adalah orang yang sangat kaya berasal dari golongan Bani Israil. Allah menganugerahkan kekayaan yang sangat melimpah kepadanya. Akan tetapi, Qarun tak pernah mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Ia tak membantu orang-orang miskin disekitarnya. Sungguh ia merupakan orang sombong pada saat itu.
Kekayaan yang dimilikinya menyilaukan mata hatinya. Ia tertipu daya oleh harta, emas dan perak miliknya. Ia memperlakukan kebanyakan orang dengan kesombngannya. Baginya, harta yang ia miliki adalah sumber kekayaan. Ia juga meniru gaya pakaian Firaun. Hidup dalam kemewahan dan glamour.
Orang-orang beriman mencoba menasehati Qarun agar tak tertipu oleh permata dunia. Mengingatkannya bahwa semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Mereka berharap Qarun menghentikan kesombongannya.
Orang-orang beriman berkata kepada Qarun, “Jangan lupakan hari akhir. Jangan lupakan kehidupan yang akan datang. Berbuatlah untuk kehidupanmu yang akan datang. Keluarkanlah emas dan perakmu untuk orang-orang miskin. Bersyukurlah kepada Allah karena apa yang telah Dia berikan padamu. Berbuatlah kebaikan pada sesama sebagaimana Allah berbuat kebaikan untukmu. Jangan berbuat kerusakan di negeri ini.”
.
Mendengar perkataan orang-orang beriman, Qarun malah menjawabnya dengan sombong. Ia berkata, “Aku telah mengumpulkan kekayaanku ini dengan tanganku sendiri. Aku tahu bagaimana cara mendapatkan uang. Aku telah mengumpulkan kekayaanku dengan pengetahuanku!”
Meski sifat dan sikapnya yang angkuh lagi sombong, sebagian orang menyukai dan mentaatinya. Mereka mematuhi apa yang diperintah Qarun dan ingkar terhadap Nabi Musa. Harapan mereka begitu besar terhadap Qarun. Suatu saat mereka berharap Qarun memberikan uangnya.
Suatu hari Qarun keluar mengenakan pakaian berhiaskan emas. Begitu bangganya dia mengenakan pakaian tersebut. Beberapa orang miskin yang melihatnya, merasa iri akan apa yang Qarun miliki. Mereka berkata, “Betapa bahagianya Qarun! Betapa beruntungnya ia! Jika saja kami memperoleh apa yang telah diperoleh Qarun! Sungguh ia memperoleh keberuntungan yang luar biasa!”
Orang-orang beriman yang mendengar perkataan orang-orang iri terhadap kekayaan Qarun, begitu sedih. Mereka mencoba menasehati orang-orang tersebut agar tak silau akan kekayaan dunia. Lebih baik mencari pahala ketimbang mencari harta yang bisa melupakan Allah Yang Maha Kuasa.
Nabi Musa mendatangi Qarun. Ia berkata padanya, “Jangan berbuat kerusakan di negeri ini. Janganlah tertipu dengan harta dan kekayaanmu.”
Apa yang dikatakan oleh Nabi Musa terhadap Qarun tidak dipedulikannya. Justru Qarun makin sombong dan ingin balas dendam kepada Qarun.
Qarun menaruh dendam terhadap Nabi Musa. Ia bersekongkol menentang Nabi Musa. Bahkan ia menuduh dan menyebarkan kepada Bani Israil tentang kepalsuan Musa. Ia melawan dan menentang akan apa yang Musa lakukan.
Nabi Musa berdoa kepada Allah agar menghukum Qarun yang sombong dengan hukuman seberat-beratnya. Allah pun juga murka akan apa yang dilakukan Qarun. Allah hendak menghukum orang yang sombong dan tertipu oleh harta.
Hukuman pun datang kepada Qarun. Ia melihat istana miliknya bergetar. Ia ketakutan dan hendak melarikan diri. Tapi naas, ia tak sempat melarikan diri karena bumi menelan jasadnya. Pada saat itulah, Qarun beserta semua harta kekayaan yang dimiliki hilang ditelan oleh bumi.
Kejadian yang menimpa Qarun merupakan suatu pelajaran bagi orang-orang yang melihatnya. Mereka yang awalnya iri dan ingin hidup seperti Qarun, menyesal dan mengerti setelah mengetahui apa yang menimpa Qarun. Mereka sadar bahwa perbuatan baik itu lebih utama ketimbang harta. Sikap baik hati kelak akan menolong dan tentu bermanfaat bagi sesama manusia. Sedangkan harta, emas, kekayaan, kesombongan justru akan menghancurkan pemiliknya.
–> Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid
Ayo Berbagi:

Di sebuah hutan belantara Papua ( Kisah Al-Habib Munzir al-Musawa )

“Hujan mulai deras, saya ( Munzir Al Musawa) tak tahan lagi dan memegang tangan Asri (Sopir bak terbuka), ‘Berhentilah Asri, berhenti !. Maka Asri pun menghentikan mobil. Saya katakan kepadanya: ‘Saya mau pindah ke belakang untuk menggantikan posisi ibu (biarawati) itu dan biarkan ia naik di depan tempat saya duduk."
Asri kaget bukan kepalang: ‘Tidak mungkin Habib turun pindah ke bak ke belakang ini ! Ini hujan deras Habib !!.
Saya berkata lagi, ‘Hati saya tercekik, sungguh walaupun ia non muslim, bagaimanapun ia seorang wanita cukup tua dan duduk di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia tabah dalam berjuang demi agamanya meski harus diterpa hujan dan panas. Sedangkan aku seorang penyeru ke Jalan Allah SWT, aku malu kepada Allah. Patutnya aku berjalan kaki 200 km bukan duduk di bak terbuka yang masih santai. Hati saya tercabik-cabik, saya malu, malu sekali”
--- Dikutip dari Buku "ENGKAU T'LAH MENGAJARKANKU CINTA... Mengenang Habib Munzir Al Musawa Pendiri Majelis Rasulullah SAW, karya Sayyid Abdullah Ba'alawi, Pustaka Basma, Malang ---
Al Fatihah Ila Rukhi HABIBANA MUNZIR BIN FUAD AL MUSAWA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Yang Mendambakan Keturunan

Dari: Ummi Salim (Istri dari Guru Sayyid Alwalid Al Habib Umar bin Hafidz)


Bismillahir Rahmanir Rahiim.
- Untuk siapa yang Mendambakan Kehamilan (walau telah di vonis dokter mandul)
1.Baca istighfar 10.000 kali setiap hari, selama 1 minggu, Boleh dicicil, dengan syarat menghadap kiblat dan dalam keadaan berwudhu'.
2.Baca surat Alfateha 41 kali, setelah sholat sunnah fajar (sebelum sholat subuh) selama 40 hari, Agar bisa genap 40 hari, orang perempuan dianjurkan mengkonsumsi obat penunda haid.
-Agar kehamilan kuat dan tak gugur ijasah dari Guru Mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz :
Disarankan membaca "Yaa Hasiib" 7 kali, setiap selesai sholat wajib (sambil mengelus perut).
Adab dan do'a bagi wanita hamil hingga proses melahirkan :
Para salafus sholeh mendidik anak-anak mereka semenjak dari kandungan dengan cara mengajak istrinya diwaktu hamil untuk selalu melakukan amalan yang baik seperti membaca alqur'an hingga hattam berkali-kali, bersholawat, dzikir dan selalu mendo'akan anak yang dikandung dengan harapan supaya menjadi anak yang sholeh, qurrotul 'ain Rasulullah SAW, berbakti kepada orang tuanya, mengikuti jejak para salafussholeh, menjadi orang yang bermanfaat dalam agama untuk dirinya dan umat islam dll.
Adapun do'a buat wanita hamil banyak dan diantarannya :
Do'a untuk wanita hamil (dari Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf)
Dibaca setiap habis sholat lima waktu
بسم الله الرّحمن الرّحيم
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، اللَّهُمَّ احْفَظْ وَلَدِيْ مَا دَامَ فِيْ بَطْنِي وَاشْفِهِ مَعَ أُمَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَبِيِّكَ وَ رَسُوْلِكَ، أَنْتَ شَافٍ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ شِفَاءً عَاجِلاً لاَيُغَادِرُ سَقَمًا، اللَّهُمَّ صَوِّرْهُ فِيْ بَطْنِيْ صُوْرَةً حَسَنَةً، وَثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيْمَانًا بِكَ وَ بِرَسُوْلِكَ، اللَّهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِيْ وَقْتَ وِلاَدَتِيْ سَهْلاً وَ سَلِيْمًا فِيْ الدُّنْيا و الآخرة، و تقبل دعاءنا كما تقبلت دعاء نبيك و رسولك سيدنا محمد صلى الله عليه و آله و سلم، اللهم احفظ الولد الذي أَخْرَجَكَ مِنْ عَالَمِ الظَّلاَمِ إِلَى عَالَمِ النُّوْرِ وَ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلاً عَاقِلاً لَطِيْفَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ شَهِيْدًا وَ مُبَارَكًا و َعَالِمًا وَ حَافِظًا مِنْ كَلاَمِكَ اْلمَكْنُوْنِ وَكِتَابِكَ الْمَحْفُوْظِ، اللّهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَ صَحِّحْ جَسَدَهُ وَأَفْصِحْهُ لِقِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَبْرًا مِنَ اْلمَرَضِ وَ اْلأَسْقَامِ وَالْعَطَشِ بِبَرْكَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلهِ وَ سَلَّمَ وَ جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.آمين
Do'a dari Al Habib Ahmad bin Hasan Al Athos di dalam kitab tadzkirun nas agar tidak keguguran insyaallah, maka dianjurkan bagi wanita hamil untuk meletakkan tangannya diatas perutnya sambil membaca ya Hasiib 7 kali disetiap habis sholat 5 waktu :
يا حسيب x٧
Dan adapun do'a untuk memudahkan proses melahirkan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al- Adzkar dari hadist Rasulullah SAW dan diamalkan salafussholeh, yaitu terlebih dahulu membaca ayat kursi :
اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ و َلاَ نَوْمُُ، لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَا فِي اْلأَرْضِ، مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَ مَاخَلْفَهُمْ و َلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضَ، و َلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا و َهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم.
Lalu bacalah ayat dibawah ini 3 kali:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ و الأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش. يغشي الليل و النهار يطلبه حثيثا و الشمس و القمر و النجوم مسخرات بأمره. الا له الخلق و الأمر. تبارك الله رب العالمين x٣
Kemudian baca surat al Ikhlas dan Mu'awwidzatain dan al Fatehah :
بسم الله الرحمن الرحيم
قل هو الله أحد، الله الصمد، لم يلد و لم يولد، و لم يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ.

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، و َمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، و َمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، و َمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد.

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الذي يوسوس في صدور الناس، من الجنة و الناس.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، إياك نعبد و إياك نستعين، اهدنا الصراط المستقيم، صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم و لا الضآلين. آمين

Kemudian perbanyaklah do'a alkarb :
لا إله إلا الله اْلعَظَيم الحليمِْ، لا إله إلا الله رب العرش العظيم، لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ الأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ.
Kemudian bagi suami dianjurkan untuk memperbanyak bacaan do'a dibawah ini ketika istrinya sudah ada tanda2 melahirkan :
حنا ولدت مريم، مريم ولدت عيسى أخرج أيها المولود بإذن الملك المعبود.
Apabila bayi lahir maka lakukanlah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam , yaitu adzan ditelinga kanan dan iqomat ditelinga kiri kemudian membaca surat al ikhlas :
بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُل ْهُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ
.
Dan diantara amalan salafuna sholeh membacakan dan tangan diatas kepala anak kecil atau masih bayi surat Al Qodar 3x :
بسم الله الرحمن الرحيم
إنا أنزلنه في ليلة القدر، و مآ أدرىك ما ليلة القدر، ليلة القدر خير من ألف شهر، تنزل الملائكة و الروح فيها بإذن ربهم من كل أمر، سلام هي حتى مطلع الفجر
.
Kemudian membaca surat alam nasyroh dan tangan didada bayi atau anak kecil :
بسم الله الرحمن الرحيم
ألم نشرح لك صدرك، و وضعنا عنك وزرك، الذي أنقض ظهرك، و رفعنا لك ذكرك، فإن مع العسر يسرا، إن مع العسر يسرا، فإذا فرغت فانصب، و إلى ربك فارغب
.
Didalam kitab ALFAWAIDUL MUKHTAROH
OLEH HABIB ZEIN BIN SUMAITH Yang ditulis murid beliau Al Habib Ali bin Hasan Baharun dinukil dari amalan salaf, dianjurkan agar (orang tua) memegang kepala anaknya sambil membaca do'a :
الشهيد الشهيد x٧ البار البار x٧
Dan disebutkan didalam nasehat Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi tentang amalan diatas insyaallah kelak ketika dewasa menjadi anak yang sholeh sesuai apa yang diharapkan orang tuanya.
Ada sebagian amalan ketika bayi baru lahir yaitu dengan menulis dikening dihari kelahiran bayi kalimat basmalah
بسم الله الرحمن الرحيم
Kemudian hari berikutnya ditulis huruf-huruf hijaiyah begitu seterusnya ditiap harinya sampai selesai dari huruf-huruf tersebut, setelah itu tulislah asma'ul husna ditiap harinya dari kalimat Allah sampai Asshobur.
Jika perilaku dan sikap anak anda tidak sesuai dengan tabiat anda yaitu tidak berbudi baik, maka do'akanlah mereka :
اللهم بارك لي في أولادي، و احفظهم و لا تضرهم، و ارزقني برهم.
Disamping mereka para salafussholeh menekankan pendidikan agama dan keteladanan akhlak yang terpuji untuk anak dan keluarga dirumah mereka, dahulu kaum salafussholeh mendidik anak2 mereka agar percaya penuh kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintahnya sejak mereka masih kecil.
Orang maghrabi menyuruh kaum ibu yang sedang menyusui anak-anaknya untuk berdzikir kepada Allah sembari memberikan air susu kepada anaknya (sebagaimana disebutkan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi).
Sesungguhnya perempuaan yang sedang hamil memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di jalan Allah.
Semoga bermanfaat.
Amiinn Yaa Robbal 'Alamin.
✒️ Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi

Sabtu, 11 Juni 2016

Al-Hikam 3 : Orang 'Arif Tidak Mencampuri Urusan Allah I

  
سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

"Tekad yang kuat takkan mampu menembus dinding takdir."


-Ibnu Atha'illah al iskandari- 
TEKAD adalah kekuatan jiwa yang bisa mempengaruhi segala sesuatu, orang-orang sufi menyebutnya dengan himmah. Tekad ini takkan berpengaruh apa-apa, kecuali dengan takdir dan ketentuan Allah.
     Hikmah di atas menguatkan hikmah sebelum dan sesudahnya. Seakan Ibnu Atha'illah ingin menyatakan bahwa keinginamu tidak akan ada gunanya bila berbeda dengan keinginan Tuhanmu. Jika tekad yang kuat saja tidak akan membuahkan hasil apa-apa, kecuali dengan takdir dan izin Allah, apalagi tekad yang lemah, seperti halnya tekadmu, wahai murid. Hikmah ini ditujukan untuk mendinginkan api ketamakan yang menyala-nyala di dalam hatimu yang selalu yakin bahwa segala sesuatu itu bergantung pada usahamu sendiri dan pasti berhasil
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Jumat, 10 Juni 2016

Al-Hikam 2 : Sikap Orang 'Arif ketika Dianugerahi Ahwal Tajrid dan Ahwal Isytighal

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

"Keinginanmu untuk lepas dari kesibukkan urusan duniawi.
padahal Allah telah menempatkanmu disana, termasuk syahwat yang tersamar.
Dan keinginanmu untuk masuk ke dalam kesibukan urusan duniawi, padahal Allah telah
melepaskanmu dari itu, sama saja dengan mundur dari tekad luhur,

-Ibnu Atha'illah al iskandari- 


TAJRID adalah sebuah kondisi dimana seseorang tidak memiliki kesibukan duniawi.
Sebaliknya, ISYTIGHAL adalah sebuah kondisi dimana seseorang memiliki kesibukan duniawi. Dan yang dimaksud kesibukan duniawi adalah kesibukan-kesibukan yang tujuan akhirnya bersifat keduniaan, seperti bekerja atau berdagang.
     Keinginanmu untuk menjauhi semua sarana penghidupan duniawi dan tidak mau berpayah-payah dalam menjalaninya, padahal Allah telah menyediakan semua sarana itu untuk kau jalani, bahkan saat menjalaninya pun agamamu tetap terjaga, sifat tamak tetap jauh darimu, ibadah lahir dan keadaan batinmu juga tidak terganggu, maka keinginamu semacam itu termasuk syahwat yang tersamar.
     Dianggap "syahwat" karena kau tidak mau menjalani kehendak Tuhanmu dan lebih memilih kehendakmu sendiri. Disebut "Tersamar" karena sekalipun pada lahirnya keinginanmu ialah menjauhi dunia dan mendekatkan diri kepada Allah, namun keinginan batinmu yang sebenarnya ialah agar mendapatkan popularitas dengan ibadah dan kewalianmu, supaya orang-orang mendatangimu dan menjadikanmu panutan. Untuk itulah, kau pun rela meninggalkan apa yang telah menjadi kebiasaanmu, yaitu mencari penghidupan duniawi.
     Orang-orang 'Arif menyatakan bahwa kedekatan manusia dengan seorang murid yang belum mencapai kesempurnaan bisa menjadi racun pembunuh bagi para murid itu. Karena bisa jadi, murid itu akan terdorong untuk menjauhi kewajiban-kewajiban ibadah dan zikirnya karena ia lebih suka mengharap apa yang akan diberikan oleh manusia.
     Sebaliknya, keinginanmu untuk bekerja dan berusaha keras mencari penghidupan duniawi, padahal Allah telah menyediakannya untukmu dengan mudah tanpa harus bersusah payah, misalnya dengan dipenuhinya semua sandang panganmu, dan kau pun tetp merasa tenang dan damai meski kekurangan, bahkan kau tetap bisa terus beribadah dengan tekun, meski sikap seperti itu sama saja dengan mundur dari tekad luhur. Karena , kau sekarang cenderung bergantung kepada makhluk, padahal sebelumnya kau bergantung kepada sang Khalik.
     Sebenarnya, berbaur dengan orang-orang yang sibuk mengurusi dunia saja sudah cukup membuat tekad luhurmu tenodai. Oleh karena itu, yang wajib bagi para salik (peniti jalan menuju Allah)   ialah tetap diam ditempat yang telah ditetapkan dan diridhoi oleh Allah untuknya, sampai Allah sendiri yang akan mengeluarkannya dari tempat itu. Hendaknya ia tidak keluar sendiri dari sana atas kehendak sendiri atau karena bisikan setan sehingga ia akan tercebur ke lautan keterasingan dan jauh dari Allah, na'udzu billah
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Rabu, 08 Juni 2016

Al-Hikam 1 : Sikap Orang 'Arif Ketika Khilaf

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

"Di antara tanda sikap mengandalkan amal ialah
berkurangnya harap kepada Allah takala khilaf"

-Ibnu Atha'illah al Iskandari- 


Amal yang dimaksud disini adalah amal ibadah,seperti shalat dan zikir.
Ada 2 kelompok orang yang mengandalkan amal mereka atau menggantungkan keselamatan diri mereka pada amal ibadah (bukan pada Allah secara murni).Mereka itu adalah para 'abid (Orang yang tekun beribadah) dan para murid (Orang yang menghendaki kedekatan dengan Allah).
Golongan pertama menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya sarana untuk meraih surga dan menghindari siksa Allah.
Sementara itu, golongan kedua menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya cara yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah,menyingkap tirai penghalang hati,membersihkan keadaan batin,mendalami hakikat ilahiah (mukasyafah),dan mengetahui rahasia ketuhanan lainnya.
       Kedua golongan ini sama-sama tercela, karena tindakan dan keinginan mereka itu terlahir dari dorongan hawa nafsu dan sikap percaya diri berlebih. Mereka menganggap amal ibadah sebagai perbuatan diri mereka sendiri dan yakin bahwa amal ibadah itu pasti akan membuahkan hasil yang mereka unginkan.
       Berbeda halnya dengan orang-orang yang mengenal Tuhan dengan baik ('arif). Mereka tidak bergantung sedikit pun pada amal ibadah yang mereka lakukan. Menurut mereka, pelaku hakiki dari semua amal ibadah itu ialah Allah swt. semata, sedangkan mereka hanyalah objek penampakan dari semua tindakan dan ketentuan Allah swt.
       Dalam hikma di atas, Ibnu Atha'illah menyebut salah satu tanda orang-orang yang menggantungkan keselamatan diri mereka pada amal ibadah yang mereka lakukan, bukan pada Allah secara murni. Tujuannya, suapaya setiap hamba bisa mengenali siapa dirinya dan termasuk golongan mana ia. Apabil, di saat melakukan maksiat dan dosa, ia kehilangan harapan pada Allah Yang Maharahmatyang akan memasukkannya ke surga, menyelamtkan dari azab, dan mewujudkan semua keinginannya, ia dianggap termasuk golongan 'abid atau 'murid. Namun apabila merasa dirinya nihil dan tak berdaya, ia termasuk golongan 'arif. Jika melakukan kesalahan atau maksiat dan lalai, seseorang yang termasuk golongan 'arif akan melihat perbuatannya itu sebagai ketetapan dan takdir Allah atas dirinya.
       Demikian pula saat melakukan ketaatan atau mengalami musyahaddah (merasa melihat Tuhan), golongan 'arif tidak memandang bahwa segala daya dan upayanyalah yang melakukan ketaatan dan kebajikan itu. Baginya, tak ada beda saat benar atau salah, saat taat maupun khilaf, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. Rasa takut dan harapanya dalam kondisi tetap dan seimbang. Maksiat tak pernah mengurangi ras atakutnya kepada Allah, dan ketaatan pun tidak menambah rasa harapnya kepada-Nya.
       Maka dari itu, siapa yang tidak mendapati tanda seperti ini dalam dirinya, hendaknya ia berusaha mencapai maqam (kedudukan) 'arif dengan banyak melakukan olah batin (riyadhah) dan wirid
      Melalui hikah diatas, Ibnu Atha'illah ingin medorong para salik (Peniti jalan menuju Allah) agar menghindari sikap bergantung pada sesuatu selain Allah ; termasuk bergantung pada amal ibadah.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Senin, 06 Juni 2016

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 33

Tahun Kesebelas Hijriyyah
  • Pada tahun kesebelas hijriyyah ini datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam utusan an-Nakha‘, kabilah dari Yaman. Mereka adalah utusan terakhir yang datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Mereka berjumlah 200 orang dan datang untuk memeluk Islam. Di tengah mereka ada yang bernama Zararah bin ‘Amr. Dia pernah bermimpi aneh. Lalu dia menceritakannya pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan beliau menakwilkan mimpinya. Beberapa lama kemudian apa yang beliau katakan menjadi kenyataan.
  • Pada tahun ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memerintahkan pe­nyiagaan pasukan yang hendak diberangkatkan ke negeri Syam (termasuk wilayah Romawi). Beliau mengangkat Usa- mah bin Zaid sebagai panglima. Akan tetapi keberangkatan pasukan tertunda karena wafatnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu. tidak si­buk memikirkan masalah kekhalifahan (penerus kepe­mimpinan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam). Ia sibuk mengatur persiapan pasukan yang berada di bawah pimpinan Usamah. Setelah beberapa orang menyarankan agar pasukan Usamah jangan dulu diberangkatkan, menunggu sampai suasana menjadi tenang, atau Usamah diganti saja dengan orang lain, Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, saya tidak akan menahan pasukan yang telah disiagakan oleh Rasulullah, dan saya juga tidak akan memberhentikan seorang pemimpin yang telah diangkat oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.”
  • Pada tahun kesebelas hijriyyah ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat. Peristiwa ini telah kami kemukakan rinciannya dalam bagian awal buku ini.
  • Masih pada tahun ini, muncul persoalan Sajjah binti al-Harits at-Tamimiyyah (seorang wanita dari Bani Tamim). Dia mengaku dirinya sebagai nabi dan diikuti banyak orang dari kaumnya (kabilahnya). Dia bersama gerombolannya bermaksud hendak memerangi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu  anhu yang baru saja dibaiat sebagai Khalifah di Madinah. Tetapi para pengikut Sajjah mengusulkan lebih baik memerangi Musailamah al-Kadzdzab (yang mengaku sebagai nabi) le­bih dulu. Bersama pasukannya, Sajjah berangkat keYamamah. Mendengar berita itu Musailamah segera mencari cara untuk membujuk dan menggagalkan niat Sajjah. Musailaf mah mengirimkan kepadanya berbagai hadiah, dia terpikat dan akhirnya dinikahi oleh Musailamah. Setelah Musailamah mati terbunuh oleh pasukan Muslim, Sajjah pergi kepada para pamannya dari Bani Taghlib. Pada akhirnya Sajjah memeluk Islam, dan keislamannya pun baik. Dia kemudian pindah ke Bashrah dan wafat di sana. Jenazahnya dishalati oleh Samrah bin Jundub, gubernur Bashrah pada masa ke­kuasaan Muawiyah bin Abl Sufyan.
  • Juga pada tahun ini, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu memberangkatkan Khalid bin Walid bersma sejumlah pasukan untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi. Sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, Thulaihah sudah mengaku dirinya sebagai nabi dan mengatakan bahwa dia didatangi Ma­laikat Jibril. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam masih hidup, dia meme­luk agama Islam, tetapi kemudian murtad, menjadi tukang tenung dan mengaku diri sebagai nabi. Setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. wafat, masalah Thulaihah menjadi semakin gawat. Ba­nyak orang dari Bani Ghathafan dan Bani Hawazin berga­bung dengan Thulaihah. Selain mereka, ‘Uyainah bin Hishn al-Fazari juga turut murtad dan bersatu dengan gerombolan Thulaihah. Oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid mereka semuanya dihancurkan dalam suatu peperangan besar, dan ‘Uyainah bin Hishn sendiri menjadi tawanan perang. Dia dikirim ke Madinah menghadap Abu Bakar radhiallahu anhu Dia menyatakan kesediannya memeluk agama Is­lam, dan keislamannya diterima oleh Abu Bakar radhiallahu anhu.
Sedangkan Thulaihah, setelah para pengikutnya dihan­curkan oleh pasukan Muslim, dia lari ke negeri Syam dan tinggal di sana hingga Abu Bakar radhiallahu anhu wafat. Kemudian dia memeluk agama Islam dan keislamannya baik. Ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu diangkat sebagai Khalifah, Thulaihah ikut membaiatnya. Thulaihah meninggalkan kesan baik di kalangan kaum Muslim, ketika dia turut berperang dipihak Muslim melawan Persia. Dia termasuk priyurit yang terkenal gagah berani menghadapi musuh. Thulaihah gugur sebagai pahlawan syahid dalam pertempuran di Nihawand pada tahun 18 hijriyyah.
  • Atas perintah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu (sebagai kha­lifah), Khalid bin Walid bersama pasukannya bergerak me­merangi Musailamah al-Kadzdzab pada tahun itu juga. Da­lam peperangan ini pasukan Muslim mengalami berbagai kesukaran dan penderitaan. Tetapi kemudian Allah menu­runkan pertolongan-Nya hingga Musailamah dapat dibu­nuh oleh Wahsyi, seorang bekas budak negro yang sebelum memeluk Islam membunuh paman Nabi, Hamzah bin Ab­dul Muththalib radhiallahu anhu dalam Perang Uhud. Karena itulah dia berkata setelah berhasil membunuh Musailamah al-Kadzdzab, “Di masa jahiliyyah saya membunuh orang terbaik, dan saya membunuh orang terjahat di masa Islam.”
Islam meraih kemenangan gilang-gemilang dan Allah menakdirkan bagi kaum Muslim kemuliaan, kehormatan, keunggulan dan kesentosaaan Alhamdu lillahi Rabbil- ‘alamin.
Buku ini selesai ditulis bulan Rabiul-Awwal tahun 1379 Hyriyyah. Allahlah Sang Penolong, tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Semo­ga shalawat dan salam Allah dilimpahkan kepada kekasih- Nya, Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para saha­batnya.
Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 32

Tahun Kesepuluh Hijriyah
  • Pada tahun ini, seorang pemimpin bujailah (kabilah) dari Yaman bernama Jarir bin ‘Abdullah al-Bajli masuk Is­lam. Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan. Muslim) disebut­kan bahwa dia (Jarir) pernah berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak lagi menghijabku[1] dan saat melihatku beliau tertawa (tersenyum).” ‘Umar bin al-Khathab radhiallahu anhu menamainya, “Yusuf umat ini” karena sangat tam­pan paras mukanya. Kendati dia masuk Islam agak bela­kangan, namun dia memainkan peranan yang besar dalam perjuangan membela Islam.
  • Pada tahun ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Jarir bin ‘Abdullah mendatangi Takhrib (Dzil-Khulshah), nama sebuah berhala milik Bani Khats’am. Mereka naik haji ke sana, berthawaf mengitarinya dan menyembelih kurban di depannya. Mereka menyamakannya dengan Ka’bah. Karena itu mereka menamainya Ka‘bah Yamaniyyah (Ka’bah Yaman). Jarir membakar berhala itu.
  • Di tahun ini pula Jarir diutus lagi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ke Yaman untuk menemui Dzu Kila‘ dan Dza ‘Amr. Dua-duanya adalah raja-raja yang berkuasa di negeri Yaman. Jarir mengajak keduanya memeluk agama Islam.
  • Juga, pada tahun ini datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam utusan dari Bani al-Harits bin Ka‘ab mewakili pendu­duk Najran. Mereka datang menghadap beliau diantar oleh Khalid bin Walid.
  • Di tahun itu turun firman Allah tentang wasiat, yaitu:

يآَيّها الذين آمنوا شهادة بينِكم إذا حضرَ أحدكم الموتُ حين الوصيّةِ  اثنان ذوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ… [المائدة : 106]

Hai orang-orang beriman, apabila ada seorang dari kalian yang menghadapi kematian dan dia hendak berwasiat, maka hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang  yang adil di antara kalian… (QS 5:106)
  • Pada tahun kesepuluh hijriyyah ini, Farwah bin ‘Amr al-Judzami mengirim utusan untuk memberi tahu beliau tentang keislamannya. Dia menghadiahkan seekor kuda dan bagal betina kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Farwah adalah orang Arab yang bekerja sebagai pejabat pemerintahan Romawi untuk mengurus kepentingan masyarakat Arab yang ting­gal berdekatan dengan wilayah kekuasaan Romawi. Farwah sendiri bertempat tinggal di Mu‘an. Ketika berita keislaman­nya didengar oleh penguasa Romawi, dia ditangkap, dijeb­loskan ke dalam penjara dan dipancung kepalanya. Waktu diseret hendak dibunuh dia mendendangkan sebuah bait:
Kuraih kemuliaan Muslimin karena diriku
menyerahkan diri dan kedudukanku kepada Tuhanku.
  • Di tahun ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ke Yaman menggantikan Khalid bin Walid. Ali radhiallahu anhu kembali dari yaman di bulan haji (dzul-hijjah) dalam keadaan memakai pakaian ihram, dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Sedang berada di Makkah untuk menunaikan ibdah Haji Wada‘. Beliau bertanya, “Dengan apa engkau menenang­kan (penduduk Yaman)?” Ali menjawab, “Dengan (cara) yang ditempuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.”
  • Di tahun ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy‘ari ke Yaman.
  • Masih di tahun yang sama, muncul orang yang berna­ma al-Aswad al-‘Unsi. Dia seorang tukang tenung, kemudian mengaku dirinya sebagai “nabi” dan raja Yaman, dan hari demi hari masalah itu bertambah besar. Karena itu, berang­katlah Mu‘adz bin Jabal dan bertemu dengan Abu Musa di Marib. Untuk menghindari bahaya dari al-‘Unsi, dua orang sahabat itu menuju Hadhramaut (tidak langsung ke Ya­man). Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengirim surat kepada orang- orang yang masih tetap beriman di Yaman. Kepada mereka beliau menyuruh berusaha keras untuk membunuh al-‘Unsi. Pada akhirnya al-‘Unsi mati dibunuh oleh Bahmah Fairuz, salah seorang Raja di Yaman. Sejak kemunculan hingga kematiannya kurang lebih empat bulan. Demikian menurut Ibn al-‘Imad di dalam kitab Syadmrat.
  • Di tahun ini pula Ibrahim, putra Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari istri beliau Mariyah al-Qibthiyyah, wafat dalam usia satu setengah tahun.
  • ‘Adi bin Hatim datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam lalu memeluk Islam, juga di tahun kesepuluh ini, dan keis­lamannya baik.
  • Terjadi pula di tahun ini, Musailamah al-Kadzdzab mengaku dirinya seorang “nabi.” Di dalam suratnya yang dikirim kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., Musailamah mengatakan bahwa dia adalah mitra (syarik) Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dalam tugas kenabian. Beliau menjawabnya dengan tegas, mendustakan­nya, dan menyebutnya dengan al-Kadzdzab (Pendusta).
  • Pada akhir tahun kesepuluh hijriyyah ini, dilaksanakan ibadah Haji Wada‘ atau Hijjatul-Wada’ (Ibadah Haji Perpisah­an). Disebut demikian karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam akan mening­galkan umatnya dan tidak akan menunaikan ibadah haji lagi. Disebut juga dengan Hijjatul-Islam, karena beliau tidak pernah berangkat haji dari Madinah kecuali pada saat itu. Pada waktu-waktu sebelumnya beliau menunaikan ibadah haji beberapa kali di Makkah. Disebut dengan nama Hijjatul-Balagh karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyampaikan syariat Allah kepada manusia pada waktu ibadah haji ini, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Tidak ada lagi prinsip-prinsip ajaran Islam dan kaidah-kaidahnya yang belum dijelaskan oleh beliau. Setelah beliau menjelaskan syariat haji, mene­rangkan serta menguraikannya, Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau ketika sedang wuquf di ‘Arafah :

… اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً…

 [ الما ئدة : 3]

… Hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian… (QS 5:3)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berangkat dari Madinah pada hari Sab­tu, minggu terakhir bulan Dzul-Qa‘dah, bersama semua istri beliau dan anggota keluarga dari Dzul-Halifah. Para ahli riwayat berbeda pendapat mengenai tempat beliau ber­ihram. Pendapat yang kuat (mendekati kebenaran) ialah bahwa beliau sekaligus berihram di tempat itu, mengingat peijalanan itu merupakan peijalanan terakhir. Setelah se­mua berkumpul di Dzul-Halifah, Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu) melahirkan anak lelaki, Muhammad bin Abu Bakar. Oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Asma’ disu­ruh mandi, mengencangkan perut sedikit (dengan kain), dan mengenakan secarik kain yang agak lebar pada tempat yang mengeluarkan darah, lalu berihram.
Pada hari minggu tanggal 4 Dzul-Hijjah, beliau beserta rombongan memasuki kota Makkah siang hari melalui da­taran tinggi. Beliau tinggal di Makkah hingga tanggal dela­pan. Selama tinggal di Makkah beliau shalat di tempat beliau tiba, di pinggiran Makkah, bersama kaum Muslim. Beliau meng-qashar (menyingkat, mengurangi jumlah rakaat) sha­lat pada hari Minggu, Senin, Selasa dan Rabu. Dan pada hari Kamis beliau bersama kaum Muslim berangkat ke Mina dan menginap di sana malam Jumat. Hari Jumat beliau wuquf di ‘Arafah. Di sana beliau mengucapkan khutbah yang amat penting. Dalam khutbah itu beliau mengokohkan kaidah-kaidah agama Islam sekaligus menghancurkan kai­dah-kaidah syirik danjahiliyah. Di dalam khutbahnya, be­liau menetapkan pengharaman perbuatan-perbuatan yang diharamkan juga oleh agama-agama lain, yaitu pembunuh­an (pertumpahan darah), perkosaan terhadap harta milik orang lain dan mencemarkan kehormatan orang lain. Beliau menempatkan kebiasan-kebiasan buruk jahiliyyah di bawah telapak kaki (yakni harus dibuang) dan mengharamkan se­mua bentuk riba jahiliyyah.
Beliau mewasiatkan (mewanti-wanti) agar kaum pria (kaum suami) berlaku baik terhadap kaum wanita (para is­tri). Beliau menyebut apa yang menjadi kewajiban dan hak kaum istri. Yang menjadi kewajiban para suami terhadap para istrinya antara lain adalah jaminan penghidupan (pem­berian rezeki, nafkah) dan pakaian secara baik-baik serta tidak mempersempitnya dengan cara apa pun. Kaum sua­mi dibolehkan memukul (dengan batas tertentu) istri-istri yang memasukkan lelaki lain yang tidak disukai suami ke dalam rumahnya. Beliau juga mewanti-wanti umatnya agar tetap berpegang terguh pada Kitab Allah. Beliau menegas­kan bahwa mereka (kaum Muslim) tidak akan sesat selagi mereka tetap memegang teguh Kitabullah. Beliau memberi semua yang telah beliau sampaikan kepada mereka. Beliau minta kepada mereka agar mengucapkan apa yang akan mereka katakan dan akan mereka saksikan. Mereka (seren­tak) menyatakan, “Kami bersaksi bahwa Anda telah me­nyampaikan, menunaikan (risalah) dan telah memberi pe­tunjuk (nasihat).” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kemudian menengadah ke langit mohon kesaksian Allah atas (pernyataan) mereka, tiga kali berulang-ulang. Beliau lalu menyuruh semua orang yang hadir (mendengarkan wasiat beliau) supaya menyam­paikannya kepada yang tidak hadir.
[1]     Yang dimaksud dengan “tidak lagi menghijabku” adalah mengizinkan aku berbicara dan bergaul dengan siapa pun.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 31

Tahun Kesembilan Hijriyyah
Dalam sejarah Islam, tahun ini disebut sanah al-wufud (tahun perutusan), karena banyaknya utusan yang datang ke Madi­nah untuk menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Di antara mereka adalah utusan dari Najran (beragama Nasrani), mereka da­tang untuk menyampaikan sanggahan tentang kenabian ‘Isa alaihissalam Berkaitan dengan peristiwa itu turun firman Allah dalam Alquran:

إنَّ مَثَلَ عِيْسَى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ  خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قاَلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

 [آل عمران : 59]

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, ke­mudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah (manusia)!” Maka jadilah dia. (QS3:59)
Mengenai mereka turun pula firman Allah:

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ العِلْمِ فَقُلْ تَعاَلَوْا نَدْعُ اَبْنَآءَنَا وَاَبْنَآءَكُمْ وَنِسَآءَنَاوَنِسَآءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْ  ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللهِ عَلىَ الكذِبِيْنَ

 [آل عمران :61]

Barangsiapa yang  menyanggahmu  tentang ‘Isa a.s. setelah engkau (hai Nabi) mendapat pengetahuan dari Allah, maka katakanlah kepadanya, “Mari kita panggil (kumpulkan) anak-anak  kami dan anak-anak  kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; lalu marilah kita bermubahalah[1] kepada Allah dan kita mohon kepada Allah  agar melimpahkan laknat-Nya kepada orang-orang yang berdusta. (QS 3:61)
Perutusan kabilah Bani Tamim, yang ketika datang ke rumah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., mereka berteriak memanggil-mang­gil, seperti kebiasaan orang-orang Arab masa jahiliyyah. Mengenai kejadian ini turun firman Allah:

إنَّ الَّذِينَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَّرَآءِ الحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُوْنَ [الحجرات :4]

Sesungguhnya  mereka  yang  memanggil-manggilmu (hai Na­bi) dari luar kamar (rumahmu) kebanyakan adalah orang- orang yang tidak mengerti. (QS49:4)
Perutusan Bani Hanifah, turut bersama mereka Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Di hadapan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., dia diam membisu. Sepulang dari pertemuannya dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan setiba mereka di daerah mereka sendiri, yaitu wilayah Yamamah, dia (Musailamah) berbalik haluan dan kembali pada kepercayaan semula, bahkan mengaku- ngaku bahwa dirinya adalah seorang “nabi.” Dia merekayasa kebohongan kepada orang lain.
Perutusan Bani Thay’, yang dipimpin oleh Zaid al-Khail (Kuda Tambahan). Mereka masuk Islam dengan baik. Di dalam pertemuan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata kepada Zaid, “Engkau adalah Zaid al-Khair (Tambahan Kebajikan). Se­orang Arab berkata kepadaku bahwa engkau mempunyai keutamaan. Setelah datang sendiri kepadaku, kulihat engkau tidak mempunyai kekurangan selain nama Zaid al-Khail (Ku­da Tambahan). Nama ini tidak sesuai dengan keutamaan yang kau miliki.”
Juga ada utusan dari Bani Zabid yang dipimpin oleh ‘Amr bin Ma‘ad Yakrib. Semuanya masuk Islam kemudian pulang ke daerahnya. Tetapi setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, ‘Amr bin Ma’ad kembali menjadi murtad.
Juga datang utusan dari Yaman. Mereka itulah yang oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dikatakan kepada para sahabat, “Da­tang kepada kalian penduduk Yaman, orang-orang yang berhati lembut dan berperasaan halus; iman adalah Yaman, dan hikmah adalah Yamaniyyah.” (Penduduk Yaman terke­nal dengan kebijaksanaannya—penerj.)
Utusan dari Bani Kindah, Bani Tsaqif, dan lain-lain da­tang pula kepada Rasulullah saw. di Madinah.
  • Di tahun kesembilan hijriyyah ini, terjadi Ghazwah Tabuk, dan merupakan peperangan satu-satunya yang ter­jadi di tahun itu. Dan hingga saat wafatnya, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak pernah lagi ikut serta dalam peperangan. Allah me­nyebut tahun itu di dalam Alquran dengan sebutan Sa’ah al-Usrah (masa sulit), karena pada tahun itu terjadi musim kering (gersang); udara amat panas; bahan pangan dan perbekalan serta ternak angkutan sangat minim. Menurut suatu riwayat, setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak lagi disibukkan oleh perjuangan melawan kaum Musyrik Arab, beliau memerintahkan kaum Muslim untuk siap-siap berperang melawan Romawi. Beliau menganjurkan orang-orang yang kehidupannya longgar supaya membantu mereka yang men­derita kesukaran hidup. ‘Utsman bin ‘Affan r.a. menyam­but anjuran beliau dengan menginfakkan uang 1.000 dinar, 950 ekor unta, dan 50 ekor kuda. Karena besarnya harta kekayaan yang dia infakkan, dia disebut Mujahhiz Jaisy al-‘Usrah (orang yang menyiapkan pasukan di masa sulit).
Atas kedermawanan ‘Utsman, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, limpahkan keridhaan-Mu kepada ‘Utsman, karena aku ridha kepadanya.” Kepada para sahabat beliau berkata, “Utsman tidak akan rugi dengan apa yang dilakukannya saat ini.” Kemudian, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bekerja keras menyiap­kan tempat pemusatan pasukan Muslim di Tsaniyyah al- Wada. Mereka berkekuatan 70.000 orang (riwayat yang lain mengatakan 30.000 orang). ‘Abdullah bin Ubay bersama konco-konconya tidak turut serta dalam pasukan Muslim, karena mereka pengecut, munafik dan bermaksud jahat. Mengenai mereka, Allah berfirman dalam Surah al-Bara’ah (Surah at-Taubah), yang oleh Ibn ‘Abbas radhiallahu anhu disebut dengan nama Surah al-Fadhihah. Dia (Ibnu ‘Abbas) mengatakan: “Surah itu menyebut.. .di antara mereka .. .di antara mereka… hingga mereka mengira tak seorang pun dari mereka yang tidak disebut dalam surah itu.” Selain mereka, ada sejumlah orang yang tidak turut bergabung dengan pasukan bukan karena munafik atau ragu, melainkan karena hendak men­cari keselamatan dan malas. Kemudian setelah mereka bertobat, Allah berkenan menerima tobatnya. Ada pula seba­gian kaum Muslim yang tidak turut bergabung dalam pasu­kan karena memang benar-benar berhalangan, dan mereka ini dimaafkan Allah, melalui firman-Nya di dalam Alquran:

ليس على الضعفآء ولا على المرضى ولا على الذين لا يجدون وما ينفقون حرج إذا نصحوا لله ورسوله…

[التوبة :91]

Tiada dosa (karena tidak turut perang) mereka  yang lemah, sakit dan tidak mempunyai sesuatu yang mereka nafkahkan; bila mereka itu benar-benar setia kepada Allah dan Rasul- Nya. (QS 9:91)
Mengenai mereka, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata di Tabuk, “Di Madinah terdapat sejumlah orang yang selalu ber­sama kami, baik pada saat kami melintas lembah atau pun lereng gunung, namun sekarang mereka berhalangan.”
Rasulullah saw. berangkat meninggalkan Madinah pa­da hari Kamis. Beliau lebih menyukai berangkat pada hari itu yang jatuh pada akhir bulan Rajab. Semua urusan ke­luarga yang beliau tinggal di Madinah, dipercayakan kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Mengetahui hal itu kaum munafik memperolok-oloknya sebagai orang yang sengaja minta di­tinggalkan. Mendengar olokan-olokan itu dia segera mene­mui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda membiarkan aku tinggal di tengah perempuan dan anak-anak?” Beliau menjawab, “Apakah engkau tidak ridha mendapat kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, namun tiada lagi nabi sesudahku.”
Berangkatlah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama pasukan Mus­lim. Ketika dalam perjalanan melewati daerah bekas pemu­kiman kaum Tsamud, kepada pasukannya beliau mempe­ringatkan, “Janganlah kalian memasuki bekas pemukiman suatu kaum yang telah berbuat zalim pada diri mereka sen­diri, agar kalian tidak ditimpa musibah seperti yang dahu­lu pernah menimpa mereka, sehingga kalian akan menyesal dan hanya bisa menangis.” Kemudian beliau menutup ke­palanya dan mempercepat peijalanan hingga tiba di Tabuk. Semua pasukan tinggal di Tabuk kurang lebih sepuluh hari. Karena tidak menjumpai pasukan musuh, beliau pulang kembali ke Madinah, tanpa mengalami bentrokan senjata.
Dalam Ghazwah Tabuk itu Dzul-Bijadain al-Muzni wa­fat. Mengenai kejadian ini Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu  menuturkan: “Saya melihat sendiri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari liang lahad ber­kata kepada Abü Bakar (yang bersama Ibnu Mas’ud sedang mengangkat jenazah Dzul-Bijàdain untuk dimasukkan ke dalam lahad), ‘Ulurkan saudara kalian itu kepadaku.’ Beliau lalu berdoa, ‘Ya Allah, aku sungguh ridha kepadanya, maka hendaklah Engkau meridhainya’.” Pada saat itu, Ibn Mas’ud berucap, “Alangkah bahagia bila aku yang menjadi penghuni lahad itu.”
Peristiwa lain yang teijadi pada waktu Ghazwah Tabük ialah wafatnya Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah di Madinah. Ra­sulullah saw. menshalati jenazahnya dari Tabük. Saat itu turun malaikat Jibril alaihissalam bersama 70.000 malaikat lainnya. Malaikat jibril meletakkan sayap kanannya di atas gunung- gunung sekitar kawasan hingga semuanya menjadi datar dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dapat melihat Makkah dan Madinah dengan jelas dari Tabük. Beliau kemudian melakukan shalat jenazah bersama Jibril dan para malaikat yang hadir. Usai shalat beliau bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, apa sebab Mu’awiyah sampai mendapat kedudukan setinggi itu?” Jibril menjawab, “Karena dia selalu membaca QulHuwallahu ahad, baik pada saat berdiri, rukuk, duduk di atas tunggang­an maupun sedang berjalan kaki.” Demikian menurut se­buah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn as-Sani dan al-Baihaqï.
  • Pada tahun itu sekelompok orang dengan sengaja membangun sebuah masjid untuk menggangu atau me­nyaingi Masjid Quba’. Mereka yang membangun masjid itu menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam saat beliau sedang dalam perja­lanan pulang dari Tabuk. Mereka minta agar beliau sing­gah di masjid mereka. Turunlah firman Allah:

وَالّّذِيْنَ اتّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيْقاً بَيْنَ المُؤْمِنِيِْنَ وَإرْصَاداً لِمَنْ حَارَبَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ… [ التوبة : 107]

Dan (di antara kaum Munafik) ada yang  mendirikan masjid  untuk menimbulkan kemudharatan (gangguan) untuk mem­bangkitkan kekufuran, untuk  memecah-belah kaum beriman dan untuk menampung kedatangan orang-orang yang sejak dahulu memerangi Allah dan Rasul-Nya… (QS 9:107)
Dengan turunnya firman Allah tersebut beliau segera memanggil beberapa sahabat dan memerintahkan mereka, “Berangkatlah ke masjid yang didirikan orang-orang zalim itu! Hancurkan dan bakarlah!”
  • Ada tiga orang yang dengan sengaja dan tanpa halang­an tidak mau bergabung dengan pasukan Muslim yang be­rangkat ke Tabuk. Mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Hilal bin ‘Umayyah, dan Mararah bin ar-Rabi’. Mengenai sikap itu Allah berfirman :

وعلى الثلثة الذين خلِّفوا حتى إذا ضاقت عليهم الأرض بما رحبت وضاقت عليهم أنفسهم وظنوآ أن لّا ملجَاَ من الله إلّآ إليه  ثم تاب عليهم ليتوبوا  إنّ الله هو التواب الرحيم  [ التوبة : 118]

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan . tobatnya) hingga bumi yang luas ini mereka rasakan sempit, dan sampai mereka menyadari tak ada tempat untuk berlin­dung dari siksaan Allah selain berlindung kepada-Nya. Allah kemudian menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS 9:118)
  • Pada tahun itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menjauhi para istrinya. Mengenai hal itu Allah menurunkan ayat takhyir (ayat yang mempersilakan para istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memi­lih):

يآَيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحيوة الدّنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحا جميلا .وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة َ فإنّ الله أعد للمحسنات منكن أجرا عظيما [الاحزاب : 28ـ29]

‘
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kalian meng­inginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah kube­rikan mut’ah[2] dan kalian kuceraikan secara baik-baik. Na­mun, jika kalian menghendaki (keridhaan) Allah  dan Rasid- Nya serta (kebahagiaan) di negeri akhirat, maka sesungguh­nya Allah menyediakan pahala besar bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik. ” (QS 33:28-29)
  • Di tahun itu pula turun ayat tahrim (ayat tentang peng­haraman sesuatu), yaitu :

يآيّها النبي لم تحرم مآ احلّ الله لك تبتغي مرضات أزواجك  والله غفورٌرحيمٌ

[التحريم :1]

Hai Nabi, mengapa engkau mengharamkan  sesuatu yang di­halalkan Allah bagimu (hanya karena) engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu… (QS 66:1)
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bagi diri beliau sendiri. Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bah­wa beliau mengharamkan madu untuk dirinya. Sementara ulama yang lain mengatakan bukan madu.
  • Di tahun itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallammemutuskan kasus dua orang bersaudara dari Bani ‘Ajian yang saling mengutuk (melaknat). Karena peristiwa itu, berlakulah ketetapan hu­kum syariat tentang li’an, yaitu suatu pernyataan yang di­ucapkan sebagai hujjah bagi pihak yang menuduh orang lain telah berbuat mencemarkan kehormatan istrinya sehingga dia (suaminya) sangat dipermalukan.
Ketentuan hukum syariat seperti itu dinamai “hukum li’an,” karena bunyi kalimat yang diucapkan dalam pernya­taan itu adalah, “Laknat Allah atas dirinya jika dia berdusta.” Mengenai kisah turunnya ayat li’an di dalam Alquran, para ulama tafsir sependapat bahwa penerapan hukum li’an di masa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam hanya satu kali, yaitu antara Hilal bin Umayyah dan ‘Uwaimir al-‘Ajlani.
  • Terjadi pula di tahun itu peristiwa antara seorang pe­rempuan bernama al-Ghamidiyyah dan seorang lelaki bernama Ma‘iz bin Malik. Dua orang itu datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan mengaku telah berbuat zina. Beliau menjatuhkan hukuman (hadd) atas keduanya. Mengenai al-Ghamidiyyah, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata, “Dia telah bertobat dengan tobat yang jika dibagi di antara 70 orang penduduk Madinah, niscaya akan meliputi mereka semua. Apakah ada tobat yang lebih tinggi nilainya (lebih afdhal) dibanding tobat kepada Allah yang diusahakan sendiri oleh yang bersangkutan?”
  • Pada tahun ini pula, Ummu Kaltsum binti Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat. Dia adalah istri kedua ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhu.
  • Juga di tahun ini, An-Najasyi (nama aslinya: Ashhamah, yang berarti pemberian) meninggal dunia. Mengenai wafatnya itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata kepada para sahabat, “Hari ini orang salih dari Habasyah meninggal dunia.”
  • Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kaum Muna­fik, juga meninggal dunia di tahun ini Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menshalatinya, kemudian turun firman Allah berupa tegur­an:

وَلا تُصَلِّ عَلىَ أحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ أبَدًا… [التوبة : 84]

Dan janganlah sekali-kali engkau menyembahyangkan (jena­zah) seorang pun dari mereka (kaum Munafik)… (QS 9:84)
Demikian menurut sebagian besar riwayat.
  • Di tahun ini pula, ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi wafat. Ia dibunuh oleh kaumnya sendiri saat mengajak mereka memeluk Islam. Dia dianggap sebagai pembawa bencana bagi masyarakat Arab.
  • Juga wafat ditahun ini Suhail bin Baidha’al-Fihri Rasu­lullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menshalati jenazahnya di Madinah.
  • Maharaja Persia mati terbunuh juga di tahun ini. Kedu­dukannya digantikan oleh putrinya, Bauran. Mengenai pe­nobatannya sebagai ratu, beliau berkata kepada para sahabat, “Tidak akan sukses suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.”
  • Pada tahun ini Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu ditugasi Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallamuntuk memimpin jamaah menunaikan iba­dah haji. Namun kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu  menyusul dengan unta tunggangan Rasu­lullah yang bernama ‘Udhba’. Dia ditugasi memimpin pem­batalan perjanjian dengan kaum Musyrik Quraisy, dan mem­bacakan ayat-ayat permulaan Surah at-Taubah kepada kaum Muslim. Pada yaum an-nahr (hari penyembelihan hewan kur­ban) diumumkan: sesudah tahun itu tak dibolehkan lagi seorang Musyrik menunaikan ibadah haji, dan tidak dibolehkan lagi ada orang berthawaf tanpa busana (telanjang). Para ulama berkata, “Diutusnya ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ber­angkat menyusul Abu Bakar radhiallahu anhu karena menurut etika ma­syarakat Arab, yang berwenang mengadakan perjanjian dan membatalkan hanyalah pemimpin mereka atau orang dari kabilah (rahth) mereka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu untuk menghilangkan salah pengertian, agar tidak ada orang yang berkata: Kami tidak mengenal dia dan tidak menganggapnya berwenang (untuk mengadakan atau membatalkan perjanjian).”

[1]     Mubahalah: pihak-pihak yang berbeda pendapat mohon bersama- sama kepada Allah agar menimpahkan laknat kepada pihak yang berdusta.
[2]     Pemberian suami kepada istrinya yang dicerai, menurut kemampuan­nya.