Selasa, 14 Juni 2016

Al-Hikam 5 : Orang 'Arif Tidak Mencampuri Urusan Allah III


 اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ

 "Kegigihanmu dalam mencari apa yang telah dijamin untukmu
dan kekuranganmu dalam melaksanakan apa yang diminta darimu
menjadi bukti butanya mata hatimu."

-Ibnu Atha'illah al-Iskandari-


MAKSUD DARI "apa yang telah dijamin" ialah rezeki dan karunia Allah.
     Allah swt. Berfirman, "Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (QS.al-Ankabut[29]:60)
     Sementara itu, maksud dari "kekuranganmu dalam melaksanakan apa yang diminta darimu" ialah kekurangan dalam melaksanakan amalan-amalan yang bisa membimbingmu menempuh jalan menuju Tuhanmu, seperti zikir, shalat, dan wirid. Allah swt berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku," (QS.adz-Dzariyat[51]:56)
     Yang dituntut dari seorang murid ialah terus berusaha memberi makan tuh dengan zikir-zikir kepada Allah dan melakukan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada-Nya; bukan meberi makan yang lainnya karena itu sudah menhadi wewenang Tuhannya.
     Buta mata hati maknanya, hati tidak bisa lagi melihat berbagai perkara makanawi, sebagaimana mata dapat melihat perkara-perkara indrawi.
     Dalam hikmah diatas, Ibnu Atha'illah menggunakan lafal "kegigihan" untuk menyatakan bahwa mencari rezeki yang dilakukan sekadarnya dan tanpa kegigihan tidak dilarang bagi seorang murid karena tidak menyebabkan buta mata hatinya.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar