Sekilas Tentang Syech Ibnu Atha'illah al-Iskandari
Ia bernama lengkap Abu al-Fadl Ibnu Atha'illah al-Iskandari ( ada yang menyebutnya as-Sakandar ). Dia merupakan salah satu Imam Sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang dai (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadist, dan ahli fikih Mazhab Maliki sehingga kredibilitas Ibnu Atha'illah dalam kancah intelektualitas dan keulamaan tak perlu diragukan lagi. Beliau lahir di kota iskandariah,Mesir, sebuah negara yang penduduknya selalu bangga menyebut negaranya sebagai "Ummu ad-Dunya" (Ibu Dunia). Sejak kecil, Ibnu Atha'illah sudah cukup akrab dengan literatur-literatur Islam dan pernah belajar berbagai macam cabang ilmu kepada kiai-kiai besar Mesir pada zamannya.
Hal itu tak mengherankan karena ia termasuk orang yang beruntung, yaitu lahir di tengah lingkungan bangsawan penganut Mazhab Maliki. Padd umumnya yang masih relatif belia, dikabarkan bahwa ia juga telah menguasai beberapa disiplin ilmu, sperti ilmu nahwu, tafsir, ushul fiqih, fikih, dan hadis, Bahkan, Ibnu Atha'illah masih sangat muda ketika ia terkenak sebagai salah seorang pakat Mazhab Maliki.
Karya-Karya Ibnu Atha'illah al-Iskandari
Singkat cerita, setelah mengalami berbagai macam fase kehidupan yang penuh dinamika intelektual dan spiritual, Ibnu Atha'illah pun dinobatkan oleh umat menjadi seorang guru ketiga tarekat asy-Syadziliyah. Padhal, seperti diceritakan banyak orang, sebelumnya ia termasuk orang yang paling kritis terhadap ilmu tasawuf dan tarekat.
Sebagai seorang guru tarekat, Ibnu atha'illah bukanlah guru tarekat biasa. Ia juga seorang intelek yang berkarya. Selain al-Hikam, ia juga menulis buku-buku lain, misalnya Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikirillah al-Karim, al-Fattahull-Muraqqi ilal-Qadir. 'Unwanut-Taufiq fi Ada'it Thariq, dan al-Qaulul-Mujarrad fil-Ismil-Mufrad.
Meninggal Pun saat Mengajar
Ini kenyataan, bukan dramatisasi untuk melebih-lebihkan kehebatan tokoh yang satu ini. Alkisah, setelah mengarungi samudra kehidupan dengan segala macam amal ibadah dan karya-karya sosialnya yang nyata bagi umat Islam, akhirnya ia pun wafat, yaitu pada usia 60 tahun di Kairo, pada tahun 709H/1309M.
Entah bagaimana-tentunya karean takdir Allah-Malikat Izrail menjemputnya ketika beliau sedang mengajar murid-muridnya di Madrasah Manshuriyah, Kairo Mesir. Duka cita pun membahana di seantero Mesir, bahkan dunia. Orang-orang berduyun-duyun melayat untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Sampai saat ini, tak ada cerita sedikitpun tentang warisan harta yang ditinggalkannya. Yang ada bahwa ia telah mewariskan ilmu yang luar biasa dan masih kita nikmati sampai sekarang;termasuk di dalamnya adalah kitab yang sedang Anda pelajari ini.
Kesimpulan
Tentu saja, pembaca Kitab al-Hikam tak pelu khawatir akan melenceng dari ajaran agama Islam bila membaca Kitab ini, karena petikan-petikan hikmahnya mengandung makna mendalam dan senantiasa didasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah. Bahkan, buku ini menjadi penting karena menjelaskan kedua landasan utama agama Islam tersebut dalam masalah yang berkaitan dengan tauhid, etika, dan perilaku sehari-hari
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya,Amiin
Label
- Al-Hikam
- Al-Kisah
- Amalan Para Wali
- Biografi dan Kisah Waliyullah
- Biografi Nabi Muhammad SAW
- Fadhilah Amal
- Humor
- Kumpulan Doa
- Nasehat Ulama
Tampilkan postingan dengan label Biografi dan Kisah Waliyullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi dan Kisah Waliyullah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Juni 2016
Rabu, 04 Maret 2015
Biografi dan Kisah Al-Habib Abdullah bin Alwiy Al Haddad
As-Sayyid Al-Quthb Al-Ghauts 'Abdullah bin Alwiy Al Haddad r.a. terkenal luas di kalangan kaum muslimin, khususnya di negeri beliau sendiri Tarim, Hadramaut dan di negeri-negeri lain pada umumnya, termasuk indonesi dan kawasan-kawasan sekitar. Di negeri kita beliau dikenal melalui ratib-ratibnya yang lazim disebut "Ratib Al-Haddad" Pengalaman yang membaca Ratib Al-Haddad dirasakan oleh mereka yang mengamalkannya sebagai amalan rutin yang mendatangkan manfaat. Ratib yang beliau susun itu hanya merupakan sekelumit saja dari keluasan pandangan batin yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.
Di Hadramaut dan kawasan kawasan sekitarnya beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama yang hidup saleh dan zuhud. Di kalangan ulama yang hidup sezaman dengan beliau, beliau dikenal dan sangat dihormati sebagai Al-Arif Billah yang mencapai maqam demikian tinggi sehingga memperoleh karunia Allah SWT berupa karamah. Bahkan penduduk hadramaut dan daerah-daerah sekitarnya mengenal beliau sebagai seorang sufi(penghayat ajaran tasawuf). Akan tetapi beliau bukan orang sufi yang eksentrik, menyimpang dari rel agama islam,seperti yang bermunculan pada masa di berbagai negeri dan kawasan. Beliau adalah penghayat tasawuf Islami yang lurus berdasarkan ajaran Kitabullah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. DEngan demikian beliau termasuk di dalam lingkungan Ahlus-Sunnah Wa-Jamaah.
Secercah Riwayat Hidup Beliau
Penulis kitab syarah Ratib Al-Haddad,Al Habib 'Alawi bin Ahmad bin Al-Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad Ba'Alawi (cucu almarhum AS-Sayyid Al-Qutbh Al-Ghauts Abdullah bin Alwi Al-Haddad r.a.) pada bab khatimatul kitab, halaman 490, menuturkan sebagai berikut :
Sayyidina Al-Arif Billah Ta'ala, Al Habib Muhammad bin Zain bin Sumaith Ba'Alawi, didalam kitabnya yang berjudul Bahjatul Fuad Mukhtashar Ghayatil-Qashd Wal-Murad mengenai manaqib(kebaikan sifat-sifat), Al-Qutbh Al-Ghauts 'Abdullah bin 'Alwi Al-Haddad mengatakan :
Di Hadramaut dan kawasan kawasan sekitarnya beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama yang hidup saleh dan zuhud. Di kalangan ulama yang hidup sezaman dengan beliau, beliau dikenal dan sangat dihormati sebagai Al-Arif Billah yang mencapai maqam demikian tinggi sehingga memperoleh karunia Allah SWT berupa karamah. Bahkan penduduk hadramaut dan daerah-daerah sekitarnya mengenal beliau sebagai seorang sufi(penghayat ajaran tasawuf). Akan tetapi beliau bukan orang sufi yang eksentrik, menyimpang dari rel agama islam,seperti yang bermunculan pada masa di berbagai negeri dan kawasan. Beliau adalah penghayat tasawuf Islami yang lurus berdasarkan ajaran Kitabullah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. DEngan demikian beliau termasuk di dalam lingkungan Ahlus-Sunnah Wa-Jamaah.
Secercah Riwayat Hidup Beliau
Penulis kitab syarah Ratib Al-Haddad,Al Habib 'Alawi bin Ahmad bin Al-Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad Ba'Alawi (cucu almarhum AS-Sayyid Al-Qutbh Al-Ghauts Abdullah bin Alwi Al-Haddad r.a.) pada bab khatimatul kitab, halaman 490, menuturkan sebagai berikut :
Sayyidina Al-Arif Billah Ta'ala, Al Habib Muhammad bin Zain bin Sumaith Ba'Alawi, didalam kitabnya yang berjudul Bahjatul Fuad Mukhtashar Ghayatil-Qashd Wal-Murad mengenai manaqib(kebaikan sifat-sifat), Al-Qutbh Al-Ghauts 'Abdullah bin 'Alwi Al-Haddad mengatakan :
Selasa, 03 Maret 2015
Biografi dan Kisah Imam Ghazali
Nama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali Ath-Thusi tidaklah asing bagi dunia ilmu,khususnya islam.Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir pada tahun 450H di Thus.kedua orang tua beliau berasal dari keluarga miskin yang baik.Ayah beliau seorang pemintal kain yang suka mengunjungi para ulama,menghadiri majelis ilmu dan membantu mereka sesuai dengan kemampuanya.Jika mendengar untaian nasihat mereka.ia menangis;memohon agar Allah mengarunianya seorang putra yang berilmu.Allah pun mengabulkan doanya.Beliau memperoleh seorang putra yang bernama Muhammad yang di kemudian hari kita kenal sebagai Imam Ghazali.
Sayang,ayah yang saleh ini belum sempat melihat secara langsung keberhasilam putranya dan buah dari doanya.ketika Imam Ghazali masih kanak kanak.ayah beliau meninggal dunia.sebelum meninggal,ia telah menitipkan Imam Ghazali dan kakanya bernama Ahmad kepada seorang sufi yang miskin.Dalam pesannya kepada sufi tersebut ia berkata "selama hidupku,aku tidak sempat belajar menulis.hali ini membuatku sangat sedih.Kuharap kedua anakku ini dapat menutupi kekuranganku ini.Ajarilah keduanya menulis.Tak jadi soal jika kau habiskan sedikit warisan ini untuk membiayai keperluan mereka."
Setelah ayah beliau meninggal.Imam Ghazali dan kakaknya,tinggal bersama sufi tersebut. Ia mengajar keduanya dengan tekun hingga harta warisan tersebut habis. Pada saat itulah ia berkata kepada mereka, "Ketahuilah seluruh harta warisan kalian telah kugunakan untuk membiayai semua keperluan kalian. Aku seorang miskin yang tidak memiliki cukup harta untuk membiayai kalian berdu. Menurutku, lebih baik kalian tinggal di sekolah(pesantren),bukankah sekarang kalian telah menjadi penuntut ilmu? Disana kalian akan mendapatkan makanan gratis."
Keduanya menyutujui usulan sang sufi kemudian menuntut ilmu di sebuah sekolah guna mendapatkan makanan penyambung nyawa. Pengalaman masa kecil ini selalu beliau kenang, Imam Ghazali berkata, "Dahulu kami menuntut ilmu bukan karena Allah (untuk mencari makan), tetapi ilmu itu tidak mengizinkannya,sehingga akhirnya kami mencari ilmu hanya karena Allah."
Dari Thus, Imam Ghazali menuju jurjan dan belajar kepada sejumlah ulama di kota tersebut. Meskipun masih kecil tetapi beliau rajin mencatat berbagai keterangan yang disampaikan para gurunya. Catatan-catatan itu kemudian beliau jilid menjadi sebuah buku. Karena memiliki buku catatan, Imam Ghazali tidak menghapal ilmunya. Suatu hari.dalam sebuah perjalanan menuju kota kelahirannya,rombongan beliau dihalang oleh sekawanan perampok. Mereka merampok segalanya. Segala perlengkapan beliau termasuk buku catatan tersebut juga diambil. Dengan berani, Imam Ghazali mengejar kawanan perampok itu. Merasa dibuntuti, pimpinan perampok itu berpaling dan berkata, "Celakalah kau,kembalilah atau kubunuh kau."
Imam Ghazali tak gentar, beliau berkata kepadanya, "Dengan kebesaran Allah yang kepada-Nya kau memohon keselamatan,tolong kembalikan bukuku. Ia tidak bermanfaat bagi kalian,"
"Buku apa?"tanya pimpinan perampok itu.
"Sebuah buku di dalam tas kecil itu. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan petuah para ulama dan kemudian semua keterangan kucatat dalam buku itu,"jawab Imam Ghazali.
Pimpinan perampok itu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata,"Sekarang kau tidak mengetahui apa-apa.Bukumu bersama kami. Kau tidak memiliki ilmu lagi."
Kemudian ia perintahkan anak buahnya untuk menyerahkan buku itu kepada Imam Ghazali. Imam Ghazali menyadari bahwa Allahlah yang menuntun pimpinan perampok tersebut untuk berbicara seperti itu.
Setibanya di Thus, Imam Ghazali berjuang menghapal semua catatannya. Dalam waktu 3 tahun,beliau berhasil menghapalnya. Setelah itu tidak ada lagi perampok yang dapat merampas ilmunya.
Setelah itu Imam Ghazali merantau keberbagai kota untuk menuntut ilmu hingga menjadi ulama besar yang berjiwa mulia. Akhirnya pada hari senin 505 H,dalam usia 55 tahun,Imam GHazali berpulang ke rahmatullah. Kakak beliau Ahmad berkata,"Pada subuh hari senin,adikku berwudhu menunaikan shalat. setelah itu ia berkata,'ambilkan aku kain kafan.' setelah menciumi kain kafan itu dan meletakknaya di atas kedua matanya,ia berkata. 'Aku siap meghadap Alllah yang Maha Memiliki.' Ia lalu menjulurkan kedua kakinya,berbaring menghadap kiblat,dan meninggalkan dunia yang fana ini menuju keridhaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah menempatkan beliau di Surga yang paling tinggi,bersama para Nabi, syuhada dan shalihin.
Sumber : Habib Novel bin Muhammad Alaydrus
Makam Imam Al-Ghazali ra
Sayang,ayah yang saleh ini belum sempat melihat secara langsung keberhasilam putranya dan buah dari doanya.ketika Imam Ghazali masih kanak kanak.ayah beliau meninggal dunia.sebelum meninggal,ia telah menitipkan Imam Ghazali dan kakanya bernama Ahmad kepada seorang sufi yang miskin.Dalam pesannya kepada sufi tersebut ia berkata "selama hidupku,aku tidak sempat belajar menulis.hali ini membuatku sangat sedih.Kuharap kedua anakku ini dapat menutupi kekuranganku ini.Ajarilah keduanya menulis.Tak jadi soal jika kau habiskan sedikit warisan ini untuk membiayai keperluan mereka."
Setelah ayah beliau meninggal.Imam Ghazali dan kakaknya,tinggal bersama sufi tersebut. Ia mengajar keduanya dengan tekun hingga harta warisan tersebut habis. Pada saat itulah ia berkata kepada mereka, "Ketahuilah seluruh harta warisan kalian telah kugunakan untuk membiayai semua keperluan kalian. Aku seorang miskin yang tidak memiliki cukup harta untuk membiayai kalian berdu. Menurutku, lebih baik kalian tinggal di sekolah(pesantren),bukankah sekarang kalian telah menjadi penuntut ilmu? Disana kalian akan mendapatkan makanan gratis."
Keduanya menyutujui usulan sang sufi kemudian menuntut ilmu di sebuah sekolah guna mendapatkan makanan penyambung nyawa. Pengalaman masa kecil ini selalu beliau kenang, Imam Ghazali berkata, "Dahulu kami menuntut ilmu bukan karena Allah (untuk mencari makan), tetapi ilmu itu tidak mengizinkannya,sehingga akhirnya kami mencari ilmu hanya karena Allah."
Dari Thus, Imam Ghazali menuju jurjan dan belajar kepada sejumlah ulama di kota tersebut. Meskipun masih kecil tetapi beliau rajin mencatat berbagai keterangan yang disampaikan para gurunya. Catatan-catatan itu kemudian beliau jilid menjadi sebuah buku. Karena memiliki buku catatan, Imam Ghazali tidak menghapal ilmunya. Suatu hari.dalam sebuah perjalanan menuju kota kelahirannya,rombongan beliau dihalang oleh sekawanan perampok. Mereka merampok segalanya. Segala perlengkapan beliau termasuk buku catatan tersebut juga diambil. Dengan berani, Imam Ghazali mengejar kawanan perampok itu. Merasa dibuntuti, pimpinan perampok itu berpaling dan berkata, "Celakalah kau,kembalilah atau kubunuh kau."
Imam Ghazali tak gentar, beliau berkata kepadanya, "Dengan kebesaran Allah yang kepada-Nya kau memohon keselamatan,tolong kembalikan bukuku. Ia tidak bermanfaat bagi kalian,"
"Buku apa?"tanya pimpinan perampok itu.
"Sebuah buku di dalam tas kecil itu. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan petuah para ulama dan kemudian semua keterangan kucatat dalam buku itu,"jawab Imam Ghazali.
Pimpinan perampok itu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata,"Sekarang kau tidak mengetahui apa-apa.Bukumu bersama kami. Kau tidak memiliki ilmu lagi."
Kemudian ia perintahkan anak buahnya untuk menyerahkan buku itu kepada Imam Ghazali. Imam Ghazali menyadari bahwa Allahlah yang menuntun pimpinan perampok tersebut untuk berbicara seperti itu.
Setibanya di Thus, Imam Ghazali berjuang menghapal semua catatannya. Dalam waktu 3 tahun,beliau berhasil menghapalnya. Setelah itu tidak ada lagi perampok yang dapat merampas ilmunya.
Sumber : Habib Novel bin Muhammad Alaydrus
KITAB IHYA ‘ULUMIDDIN KARYA IMAM AL-GHAZALI ADALAH KITAB YANG DICINTAI RASULULLAH SAW.
Al-Habib Umar bin Hafidz BSA pernah mengatakan bahwa: “Diantara tanda ulama akhirat adalah ia akan mencintai kitab-kitabnya Imam al-Ghazali. Sedangkan diantara tanda ulama dunia adalah ia membenci dan mengingkari terhadap kitab-kitabnya Imam al-Ghazali, khususnya Ihya ‘Ulumiddin (magnum opusnya Imam al-Ghazali).”
Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 10-13 pada bagian hamisy (pinggir)nya, yakni Kitab Ta’rif al-Ahya’ Biy bi Fadhail al-Ihya’, terdapat kisah yang cukup menarik yang dituturkan oleh Syaikh Abdullah bin As’ad al-Yafi’i, yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang shahih dari waliyullah ke waliyullah, yaitu dari asy-Syaikhul Kabir al-Quthb Syihabuddin Ahmad bin al-Mailaq Asy-Syadzali dari asy-Syaikhul Kabir al-‘Arif Billah Yaqut asy-Syadzali dari asy-Syaikhul Kabir al-‘Arif Billah Abil Abbas al-Mursi dari Syaikusy Syuyukh al-‘Arif Billah Imam Abil Hasan Ali asy-Syadzali. Radhiyallahu’anhum. Kisahnya adalah bahwa:
Asy-Syaikhul Imam al-Kabir Abul Hasan Ali bin Harzahim al-Faqih yang masyhur dengan “al-Maghrabi”, dahulunya adalah orang sangat mengingkari terhadap kitab Ihya ‘Ulumiddin. Saat itu dia adalah orang yang sangat ditaati dan didengarkan kata-katanya oleh banyak orang. Maka dia perintahkan orang-orang untuk mencari dan mengumpulkan naskah-naskah kitab Ihya’ yang bermaksud untuk membakar naskah-naskah tersebut di masjid Jami’ pada suatu hari Jum’at.
Dan ternyata, pada malam Jum’atnya dia bermimpi seakan-akan sedang masuk ke masjid Jami’, tiba-tiba di situ dia mendapati Nabi Saw. yang disertai oleh Sahabat Abu Bakar Ra., Sahabat Umar Ra. dan Imam al-Ghazali sedang berada di hadapan Nabi Saw.
Ketika dia (Ibnu Harzahim) datang, Imam al-Ghazali berkata: “Ya Rasulullah, dialah orangnya yang memusuhiku. Jika yang benar adalah seperti yang dia yakini, maka aku bertaubat kepada Allah. Dan jika yang benar adalah apa yang aku tulis, karena mengharap berkahmu dan mengikuti sunnahmu, maka ambilkan untukku hakku dari orang yang rnemusuhiku.”
Kemudian Nabi Saw. meminta kitab Ihya’, dan dibukanya lembaran demi lembaran dari awal sampai akhir. Lalu beliau Saw. berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang bagus!”
Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ra. berganti membuka dan memandangi isinya, demikian juga Sayidina Umar Ra., yang keduanya sama-sama berkomentar bagus.
Maka Nabi Saw. memerintahkan agar baju al-Faqih Ali bin Harzahim dilepas untuk menerima cambukan dan hadd (hukuman) sebagai pembohong. Ketika sampai cambukan yang kelima, Sahabat Abu Bakar Ra. memintakan tolong untuknya dan berkata: “Ya Rasulullah, barangkali dia mengira telah mengikuti sunnahmu dan ternyata dia keliru.”
Dan Imam al-Ghazali juga berkenan serta menerima permintaan tolongnya Sahabat Abu Bakar Ra.
Sampai di situ, terbangunlah Ibnu Harzahim dan di punggungnya terdapat bekas cambukan itu. Lalu dia beritahukan hal tersebut kepada kawan-kawannya, dan menyatakan bertaubat kepada Allah atas keingkarannya terhadap Imam al-Ghazali dan beristighfar kepadaNya.
Selama beberapa waktu, dia masih merasakan kesakitan dari bekas cambukan itu. Maka dia tadharru’ (mengiba) kepada Allah dan memohon pertolongan Rasulullah Saw. Sampai kemudian dia bermimpi lagi bertemu beliau Saw. yang datang kepadanya dan mengusapkan tangannya yang mulia pada punggungnya. Maka sembuhlah dia atas izin Allah Swt.
Kemudian setelah itu, dia menekuni untuk muthala’ah (menelaah) kitab Ihya’, dan lewat itu Allah Swt. memberikan futuh kepadanya serta memperoleh ma’rifat billah dan menjadi salah seorang pembesarnya para masyayikh, menjadi orang yang ahli ilmu lahir dan ilmu bathin rahimahullah.
Sayyidi asy-Syaikh Abul Hasan Ali asy-Syadzali, yang hidupnya semasa dengan Ibnu Harzahim, mengatakan: “Dan pada hari wafatnya Syaikh Abul Hasan bin Harzahim rahimahullah, bekas cambukan itu masih tampak jelas pada punggung beliau.”
Sumber : Aswaja ITB
Al-Habib Umar bin Hafidz BSA pernah mengatakan bahwa: “Diantara tanda ulama akhirat adalah ia akan mencintai kitab-kitabnya Imam al-Ghazali. Sedangkan diantara tanda ulama dunia adalah ia membenci dan mengingkari terhadap kitab-kitabnya Imam al-Ghazali, khususnya Ihya ‘Ulumiddin (magnum opusnya Imam al-Ghazali).”
Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 10-13 pada bagian hamisy (pinggir)nya, yakni Kitab Ta’rif al-Ahya’ Biy bi Fadhail al-Ihya’, terdapat kisah yang cukup menarik yang dituturkan oleh Syaikh Abdullah bin As’ad al-Yafi’i, yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang shahih dari waliyullah ke waliyullah, yaitu dari asy-Syaikhul Kabir al-Quthb Syihabuddin Ahmad bin al-Mailaq Asy-Syadzali dari asy-Syaikhul Kabir al-‘Arif Billah Yaqut asy-Syadzali dari asy-Syaikhul Kabir al-‘Arif Billah Abil Abbas al-Mursi dari Syaikusy Syuyukh al-‘Arif Billah Imam Abil Hasan Ali asy-Syadzali. Radhiyallahu’anhum. Kisahnya adalah bahwa:
Asy-Syaikhul Imam al-Kabir Abul Hasan Ali bin Harzahim al-Faqih yang masyhur dengan “al-Maghrabi”, dahulunya adalah orang sangat mengingkari terhadap kitab Ihya ‘Ulumiddin. Saat itu dia adalah orang yang sangat ditaati dan didengarkan kata-katanya oleh banyak orang. Maka dia perintahkan orang-orang untuk mencari dan mengumpulkan naskah-naskah kitab Ihya’ yang bermaksud untuk membakar naskah-naskah tersebut di masjid Jami’ pada suatu hari Jum’at.
Dan ternyata, pada malam Jum’atnya dia bermimpi seakan-akan sedang masuk ke masjid Jami’, tiba-tiba di situ dia mendapati Nabi Saw. yang disertai oleh Sahabat Abu Bakar Ra., Sahabat Umar Ra. dan Imam al-Ghazali sedang berada di hadapan Nabi Saw.
Ketika dia (Ibnu Harzahim) datang, Imam al-Ghazali berkata: “Ya Rasulullah, dialah orangnya yang memusuhiku. Jika yang benar adalah seperti yang dia yakini, maka aku bertaubat kepada Allah. Dan jika yang benar adalah apa yang aku tulis, karena mengharap berkahmu dan mengikuti sunnahmu, maka ambilkan untukku hakku dari orang yang rnemusuhiku.”
Kemudian Nabi Saw. meminta kitab Ihya’, dan dibukanya lembaran demi lembaran dari awal sampai akhir. Lalu beliau Saw. berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang bagus!”
Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ra. berganti membuka dan memandangi isinya, demikian juga Sayidina Umar Ra., yang keduanya sama-sama berkomentar bagus.
Maka Nabi Saw. memerintahkan agar baju al-Faqih Ali bin Harzahim dilepas untuk menerima cambukan dan hadd (hukuman) sebagai pembohong. Ketika sampai cambukan yang kelima, Sahabat Abu Bakar Ra. memintakan tolong untuknya dan berkata: “Ya Rasulullah, barangkali dia mengira telah mengikuti sunnahmu dan ternyata dia keliru.”
Dan Imam al-Ghazali juga berkenan serta menerima permintaan tolongnya Sahabat Abu Bakar Ra.
Sampai di situ, terbangunlah Ibnu Harzahim dan di punggungnya terdapat bekas cambukan itu. Lalu dia beritahukan hal tersebut kepada kawan-kawannya, dan menyatakan bertaubat kepada Allah atas keingkarannya terhadap Imam al-Ghazali dan beristighfar kepadaNya.
Selama beberapa waktu, dia masih merasakan kesakitan dari bekas cambukan itu. Maka dia tadharru’ (mengiba) kepada Allah dan memohon pertolongan Rasulullah Saw. Sampai kemudian dia bermimpi lagi bertemu beliau Saw. yang datang kepadanya dan mengusapkan tangannya yang mulia pada punggungnya. Maka sembuhlah dia atas izin Allah Swt.
Kemudian setelah itu, dia menekuni untuk muthala’ah (menelaah) kitab Ihya’, dan lewat itu Allah Swt. memberikan futuh kepadanya serta memperoleh ma’rifat billah dan menjadi salah seorang pembesarnya para masyayikh, menjadi orang yang ahli ilmu lahir dan ilmu bathin rahimahullah.
Sayyidi asy-Syaikh Abul Hasan Ali asy-Syadzali, yang hidupnya semasa dengan Ibnu Harzahim, mengatakan: “Dan pada hari wafatnya Syaikh Abul Hasan bin Harzahim rahimahullah, bekas cambukan itu masih tampak jelas pada punggung beliau.”
Sumber : Aswaja ITB
Makam Imam Al-Ghazali ra
Langganan:
Postingan (Atom)