Senin, 06 Juni 2016

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 20

Mukjizat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam
Salah satu mukjizat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam adalah Alquran al-Karim, dan ini merupakan mukjizat terbesar. Mukjizat yang lain adalah: pembedahan dada beliau oleh Malaikat; Isra’ mi‘raj; kabar beliau (kepada kaum Quraisy) tentang Bait al-Muqaddas; bulan terbelah dua; peristiwa yang terjadi ke­tika beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam keluar rumah berangkat hijrah (ketika itu kaum Musyrik Quraisy bersepakat untuk membunuh beliau. Pada saat itu beliau keluar dari rumah, mereka yang mengepung beliau semuanya mengantuk hingga beliau dengan leluasa dapat melewati mereka). Dalam Perang Badr beliau meng­ambil segenggam pasir lalu dilemparkan ke arah pasukan musuh, sehingga setiap musuh yang terkena butiran pasir jatuh terjungkal dan mati. Demikian pula yang beliau la­kukan pada Perang Hunain sehingga musuh berhasil dikalahkan. Ketika Suraqah bin Malik mengejar beliau dalam perjalanan hijrah ke Madinah, kaki kuda yang ditunggangi­nya terperosok ke tanah dan teijepit di dalamnya. Kambing betina milik Ummu Ma‘bad yang belum pernah kawin, ke­tika teteknya diusap-usap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., tiba-tiba dapat mengeluarkan susu demikian banyak untuk diminum rombongan beliau bersama Ummu Ma’bad. Bahkan dapat mengisi penuh qirbah (wadah air terbuat dari kulit) untuk bekal me­lanjutkan perjalanan ke Madinah. Terkabulnya doa beliau ketika memohon kepada Allah agar agama Islam diperkuat dengan masuknya ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu Terkabulnya doa beliau ketika memohon kepada Allah agar Ali bin Abi Thalib disembuhkan dari penyakit mata dan dikebalkan ba­dannya dari gangguan udara panas dan dingin. Seketika itu juga doa beliau terkabul dan Ali dapat memimpin pasu­kan bersenjata dalam Berang Khaibar melawan Yahudi. Da­lam suatu peperangan, mata Qatadah bin Numan terkena senjata musuh hingga biji matanya keluar. Dengan perto­longan Allah, Rasululllah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berhasil mengembalikan biji mata Qatadah dan sembuh seketika itu juga. Terkabulnya doa beliau ketika mohon kepada Allah agar Abdullah bin al-Abbas dikaruniai kecerdasan untuk menakwil dan men­dalami ilmu-ilmu agama. Unta milik Jabir yang pada mula­nya kalah berpacu, namun setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendoa­kan, unta itu menang berpacu saat itu. Terkabulnya doa beliaa agar Anas dikaruniai umur panjang, mempunyai ba­nyak harta dan anak keturunan. Pohon kurma milik Jabir yang mulanya berbuah sedikit, setelah didoakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bisa berbuah banyak sehingga Jabir dapat melunasi Utang-utangnya. Bahkan buah kurmanya masih tersisa 13 takar (wusq). Terkabulnya doa beliau ketika memohon agar Allah menurunkan hujan: Seketika itu juga hujan turun sela­ma satu minggu penuh. Setelah itu beliau-memohon agar hujan berhenti, awan sirna dan cuaca berubah menjadi cerah. ‘Utaibah bin Abu Lahab, orang yang sangat memusuhi Al­lah dan Rasul-Nya, atas permohonan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan doa beliau, ia mati diterkam singa, di daerah az-Zarqa’, negeri Syam.
Pada malam bi’tsah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam batu dan pohon me­ngucap salam, ‘Assalamu ‘alaikum, yd Rasulallah!” Mengenai hal itu beliau mengatakan, “Aku tahu bahwa ada batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku beberapa saat sebelum aku diangkat menjadi Nabi dan Rasul.” Ada pula sebatang pohon yang bergerak mendekati beliau, dan batu yang digenggamnya bertasbih (mengagungkan kesu­cian Allah),
Ketika beliau hendak dibunuh dengan racun dalam ma­kanan yang dihadiahkan seorang perempuan Yahudi, tiba- tiba daging masakan di dalam hidangan itu memberi tahu beliau.
Seekor unta mengeluh kepada beliau karena diberi ma­kan sedikit dan dipekerjakan terlalu berat.
Beliau memberitahu para sahabat bahwa kelak akan ada kelompok dari umatnya yang akan mengarungi samudera, termasuk di dalamnya seorang wanita bernama Ummu Ha­ram binti Milhan. Dan ucapan beliau menjadi kenyataan.
Kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu anhu beliau memberitahu bah­wa dia akan menghadapi malapetaka besar. Itu juga terbukti di kemudian hari. ‘Utsman radhiallahu anhu  mati terbunuh saat berkedu­dukan sebagai Khalifah.
Kepada kaum Anshar beliau mengatakan, “Sepening­galku, kalian akan mengutamakan golongan sendiri.”Itu juga terbukti beberapa saat setelah beliau wafat.
Mengenai cucu beliau, al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu anhu beliau berka­ta, “Anakku ini—yakni Hasan—seorang Sayyid (Pemimpin). Dengannya Allah akan mendamaikan dua golongan besar kaum Muslim.” Itu terbukti dengan terwujudnya kesepa­katan antara para pengikut Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan para pengikut Mu‘awiyah bin Abi Sufyan.
Beliau memberitahu para sahabat tentang terbunuhnya al-‘Unsi al-Kadzdzab dan orang yang membunuhnya. Pada­hal di malam terjadinya pembunuhan itu al-‘Unsi berada di Shan‘a’ (Yaman) dan beliau berada di Madinah.
Kepada Tsabit bin Qais beliau berkata, “Engkau akan hidup terpuji dan akan mati syahid.” Kemudian terbukti Tsabit gugur sebagai pahlawan dalam Perang di Yamamah.
Seorang lelaki meninggalkan agama Islam (murtad) dan kembali bergabung dengan kaum Musyrik. Ketika Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  mendengar berita kematiannya, beliau berkata, “Bu­mi tidak sudi menerimanya.” Itu terbukti ketika mayatnya dibuang ke laut.
Seorang lelaki diminta oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam supaya ma­kan dengan tangan kanannya, tetapi ia menjawab, “Tidak bisa.” Beliau berkata, “Engkau tidak akan bisa.” Sejak itu orang tersebut tidak bisa sama sekali mengangkat tangan kanannya sampai ke mulut.
Pada hari jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Mus­lim, banyak berhala terpancang di sekitar Ka’bah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dengan tongkat pendeknya menuding ke arah berhala- berhala itu sambil berucap, “Kebenaran telah tiba dan keba­tilan pasti lenyap.” Seketika itu juga berhala-berhala itu run­tuh berjatuhan.
Dalam Perang Khandaq, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memberi ma­kan pasukan Muslim dengan setakar gandum. Semuanya makan hingga kenyang, bahkan sisanya masih banyak. Pada waktu makan berikutnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam hanya mempunyai sedikit kurma bagi pasukan Muslim. Beliau lalu menyuruh orang mengumpulkan sisa-sisa kurma yang tercecer di atas hamparan, lalu beliau berdoa mohon berkah. Sisa-sisa kur­ma yang terkumpul itu kemudian menjadi banyak hingga cukup dibagikan kepada semua pasukan. Pada saat yang lain Abu Hurairah radhiallahu anhu datang kepada Rasulullah membawa sedikit kurma. Ia minta agar beliau berdoa memohon ber­kah. Permintaannya dikabulkan dan beliau berdoa. Abu Hu­rairah menceritakan kesaksianya sendiri sebagai berikut, “Dari kurma itu saya keluarkan sekian takar untuk perjuang­an dijalan Allah. Kami sendiri makan dari kurma itu dan baru habis pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhu.” Abu Hurairah na. menuturkan, pada suatu hari dia me­minta Rasulullah saw. berdoa agar tsarid (semacam bubur kental terbuat dari terigu dan susu) yang berada di dalam qush‘ah (piring besar) cukup untuk dimakan bersama oleh be­berapa orang sahabat. Setelah berdoa beliau mengambil se­jumput tsarid yang belepotan di pinggir qush ‘ah dengan jari-jari tangannya, kemudian berkata, “Makanlah, Bismillah !” Abu Hurairah mengakhiri penuturannya dengan berucap, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, baru saja makan sedikit,aku sudah kenyang.”
Pernah terjadi air memancar dari sela-sela jari Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  hingga semua rombongan beliau dapat minum sepuas-puasnya dan dapat berwudhu. Padahal jumlah me­reka tidak sedikit, yaitu sekitar 1400 orang.
Pada suatu musim kering, di tengah perjalanan disertai rombongan, beliau menyuruh orang mencari air semang­kuk. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memasukkan jari-jarinya ke dalam air itu Seraiya berkata, “Marilah semua ke sini!’ Semuanya datang mendekati beliau lalu berwudhu. Air di dalam mangkuk itu tak kunjung habis, padahal jumlah me­reka antara 70 sampai 80 orang.
Dalam Perang Tabuk hampir tak seorang pun dari pasu­kan Muslim yang menemukan air untuk diminum. Karena nyaris tak sanggup menahan dahaga, mereka melapor ke­pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Beliau lalu mengambil anak panah dari Kinanah lalu beliau tancapkan di tanah. Alir memancar sangat deras sehingga semua pasukan yang berjumlah 30.000 orang dapat minum sepuas-puasnya.
Di suatu tempat yang disinggahi Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam pen­duduknya mengeluh karena semua air di sana bercampur kotoran dan tidak dapat diminum. Bersama beberapa orang sahabat, beliau mendatangi sebuah sumur lalu meludahinya. Tiba-tiba sumur itu menggelegak penuh dengan air sejuk dan bersih, hingga semua penduduk dapat tertolong.
Pada suatu hari seorang wanita datang menghadap Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  membawa anak kecil berkepala botak karena penyakit. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  lalu mengusapkan tangannya pa­da kepala anak itu, dan seketika itu juga rambutnya tumbuh meratai kepala dan sembuh pula penyakit yang dideritanya. Ketika penduduk Yamamah mendengar kejadian itu ada seorang wanita mencoba datang kepada Musailamah (tokoh setempat yang mengaku dirinya “Nabi”) membawa juga anak kecil tidak berambut. Musailamah mengusap kepala­nya berulang-ulang, tetapi kepala anak itu tetap botak.
Dalam Perang Badr, pedang ‘Ukasyah patah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  memberinya sebatang kayu sebagai pengganti. Di ta­ngan ‘Ukasyah kayu itu berubah menjadi pedang. Usai pe­rang kayu itu masih tetap dia pegang.
Dalam Perang Khandaq (Perang Ahzab) pasukan Mus­lim menghadapi kesulitan memecahkan sebuah batu besar dan keras pada saat mereka sedang menggali parit-parit pertahanan. Batu yang tak dapat dipecah dangan palu besar itu pada akhirnya dipukul oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  dengan ta­ngan hingga hancur berkeping-keping.
Seorang yang menderita patah kaki datang kepada Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mohon pertolongan. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  lalu meng­usap kaki yang patah itu, dan sembuhlah seketika, hingga orang itu seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya.
Bentuk-bentuk mukjizat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam banyak sekali, nyaris tak dapat dihitung dan dicatat seluruhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar