Tampilkan postingan dengan label Biografi Nabi Muhammad SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Nabi Muhammad SAW. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Keindahan Wajah Sayyidina Muhammad SAW

Dijelaskan oleh Abbuya Al Allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Jika para wanita memotong jari-jarinya karena terpesona saat melihat wajah nabi Yusuf As (QS. Yusuf : 31), Abbuya As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa wajah Rasulullah yang ada didunia ini hanya dilihatkan yang 1 bagian dari 10 bagian keindahan wajah rasulullah, yang 9 bagian lainnya akan di perlihatkan kelak di telaga haudh, Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi karena jika yang 9 bagian itu ditampakkan dibumi maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Subhanallah… wallahu a’lam

Senin, 06 Juni 2016

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 33

Tahun Kesebelas Hijriyyah
  • Pada tahun kesebelas hijriyyah ini datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam utusan an-Nakha‘, kabilah dari Yaman. Mereka adalah utusan terakhir yang datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Mereka berjumlah 200 orang dan datang untuk memeluk Islam. Di tengah mereka ada yang bernama Zararah bin ‘Amr. Dia pernah bermimpi aneh. Lalu dia menceritakannya pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan beliau menakwilkan mimpinya. Beberapa lama kemudian apa yang beliau katakan menjadi kenyataan.
  • Pada tahun ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memerintahkan pe­nyiagaan pasukan yang hendak diberangkatkan ke negeri Syam (termasuk wilayah Romawi). Beliau mengangkat Usa- mah bin Zaid sebagai panglima. Akan tetapi keberangkatan pasukan tertunda karena wafatnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu. tidak si­buk memikirkan masalah kekhalifahan (penerus kepe­mimpinan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam). Ia sibuk mengatur persiapan pasukan yang berada di bawah pimpinan Usamah. Setelah beberapa orang menyarankan agar pasukan Usamah jangan dulu diberangkatkan, menunggu sampai suasana menjadi tenang, atau Usamah diganti saja dengan orang lain, Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, saya tidak akan menahan pasukan yang telah disiagakan oleh Rasulullah, dan saya juga tidak akan memberhentikan seorang pemimpin yang telah diangkat oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.”
  • Pada tahun kesebelas hijriyyah ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat. Peristiwa ini telah kami kemukakan rinciannya dalam bagian awal buku ini.
  • Masih pada tahun ini, muncul persoalan Sajjah binti al-Harits at-Tamimiyyah (seorang wanita dari Bani Tamim). Dia mengaku dirinya sebagai nabi dan diikuti banyak orang dari kaumnya (kabilahnya). Dia bersama gerombolannya bermaksud hendak memerangi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu  anhu yang baru saja dibaiat sebagai Khalifah di Madinah. Tetapi para pengikut Sajjah mengusulkan lebih baik memerangi Musailamah al-Kadzdzab (yang mengaku sebagai nabi) le­bih dulu. Bersama pasukannya, Sajjah berangkat keYamamah. Mendengar berita itu Musailamah segera mencari cara untuk membujuk dan menggagalkan niat Sajjah. Musailaf mah mengirimkan kepadanya berbagai hadiah, dia terpikat dan akhirnya dinikahi oleh Musailamah. Setelah Musailamah mati terbunuh oleh pasukan Muslim, Sajjah pergi kepada para pamannya dari Bani Taghlib. Pada akhirnya Sajjah memeluk Islam, dan keislamannya pun baik. Dia kemudian pindah ke Bashrah dan wafat di sana. Jenazahnya dishalati oleh Samrah bin Jundub, gubernur Bashrah pada masa ke­kuasaan Muawiyah bin Abl Sufyan.
  • Juga pada tahun ini, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu memberangkatkan Khalid bin Walid bersma sejumlah pasukan untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi. Sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, Thulaihah sudah mengaku dirinya sebagai nabi dan mengatakan bahwa dia didatangi Ma­laikat Jibril. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam masih hidup, dia meme­luk agama Islam, tetapi kemudian murtad, menjadi tukang tenung dan mengaku diri sebagai nabi. Setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. wafat, masalah Thulaihah menjadi semakin gawat. Ba­nyak orang dari Bani Ghathafan dan Bani Hawazin berga­bung dengan Thulaihah. Selain mereka, ‘Uyainah bin Hishn al-Fazari juga turut murtad dan bersatu dengan gerombolan Thulaihah. Oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid mereka semuanya dihancurkan dalam suatu peperangan besar, dan ‘Uyainah bin Hishn sendiri menjadi tawanan perang. Dia dikirim ke Madinah menghadap Abu Bakar radhiallahu anhu Dia menyatakan kesediannya memeluk agama Is­lam, dan keislamannya diterima oleh Abu Bakar radhiallahu anhu.
Sedangkan Thulaihah, setelah para pengikutnya dihan­curkan oleh pasukan Muslim, dia lari ke negeri Syam dan tinggal di sana hingga Abu Bakar radhiallahu anhu wafat. Kemudian dia memeluk agama Islam dan keislamannya baik. Ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu diangkat sebagai Khalifah, Thulaihah ikut membaiatnya. Thulaihah meninggalkan kesan baik di kalangan kaum Muslim, ketika dia turut berperang dipihak Muslim melawan Persia. Dia termasuk priyurit yang terkenal gagah berani menghadapi musuh. Thulaihah gugur sebagai pahlawan syahid dalam pertempuran di Nihawand pada tahun 18 hijriyyah.
  • Atas perintah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu (sebagai kha­lifah), Khalid bin Walid bersama pasukannya bergerak me­merangi Musailamah al-Kadzdzab pada tahun itu juga. Da­lam peperangan ini pasukan Muslim mengalami berbagai kesukaran dan penderitaan. Tetapi kemudian Allah menu­runkan pertolongan-Nya hingga Musailamah dapat dibu­nuh oleh Wahsyi, seorang bekas budak negro yang sebelum memeluk Islam membunuh paman Nabi, Hamzah bin Ab­dul Muththalib radhiallahu anhu dalam Perang Uhud. Karena itulah dia berkata setelah berhasil membunuh Musailamah al-Kadzdzab, “Di masa jahiliyyah saya membunuh orang terbaik, dan saya membunuh orang terjahat di masa Islam.”
Islam meraih kemenangan gilang-gemilang dan Allah menakdirkan bagi kaum Muslim kemuliaan, kehormatan, keunggulan dan kesentosaaan Alhamdu lillahi Rabbil- ‘alamin.
Buku ini selesai ditulis bulan Rabiul-Awwal tahun 1379 Hyriyyah. Allahlah Sang Penolong, tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Semo­ga shalawat dan salam Allah dilimpahkan kepada kekasih- Nya, Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para saha­batnya.
Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 32

Tahun Kesepuluh Hijriyah
  • Pada tahun ini, seorang pemimpin bujailah (kabilah) dari Yaman bernama Jarir bin ‘Abdullah al-Bajli masuk Is­lam. Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan. Muslim) disebut­kan bahwa dia (Jarir) pernah berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak lagi menghijabku[1] dan saat melihatku beliau tertawa (tersenyum).” ‘Umar bin al-Khathab radhiallahu anhu menamainya, “Yusuf umat ini” karena sangat tam­pan paras mukanya. Kendati dia masuk Islam agak bela­kangan, namun dia memainkan peranan yang besar dalam perjuangan membela Islam.
  • Pada tahun ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Jarir bin ‘Abdullah mendatangi Takhrib (Dzil-Khulshah), nama sebuah berhala milik Bani Khats’am. Mereka naik haji ke sana, berthawaf mengitarinya dan menyembelih kurban di depannya. Mereka menyamakannya dengan Ka’bah. Karena itu mereka menamainya Ka‘bah Yamaniyyah (Ka’bah Yaman). Jarir membakar berhala itu.
  • Di tahun ini pula Jarir diutus lagi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ke Yaman untuk menemui Dzu Kila‘ dan Dza ‘Amr. Dua-duanya adalah raja-raja yang berkuasa di negeri Yaman. Jarir mengajak keduanya memeluk agama Islam.
  • Juga, pada tahun ini datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam utusan dari Bani al-Harits bin Ka‘ab mewakili pendu­duk Najran. Mereka datang menghadap beliau diantar oleh Khalid bin Walid.
  • Di tahun itu turun firman Allah tentang wasiat, yaitu:

يآَيّها الذين آمنوا شهادة بينِكم إذا حضرَ أحدكم الموتُ حين الوصيّةِ  اثنان ذوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ… [المائدة : 106]

Hai orang-orang beriman, apabila ada seorang dari kalian yang menghadapi kematian dan dia hendak berwasiat, maka hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang  yang adil di antara kalian… (QS 5:106)
  • Pada tahun kesepuluh hijriyyah ini, Farwah bin ‘Amr al-Judzami mengirim utusan untuk memberi tahu beliau tentang keislamannya. Dia menghadiahkan seekor kuda dan bagal betina kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Farwah adalah orang Arab yang bekerja sebagai pejabat pemerintahan Romawi untuk mengurus kepentingan masyarakat Arab yang ting­gal berdekatan dengan wilayah kekuasaan Romawi. Farwah sendiri bertempat tinggal di Mu‘an. Ketika berita keislaman­nya didengar oleh penguasa Romawi, dia ditangkap, dijeb­loskan ke dalam penjara dan dipancung kepalanya. Waktu diseret hendak dibunuh dia mendendangkan sebuah bait:
Kuraih kemuliaan Muslimin karena diriku
menyerahkan diri dan kedudukanku kepada Tuhanku.
  • Di tahun ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ke Yaman menggantikan Khalid bin Walid. Ali radhiallahu anhu kembali dari yaman di bulan haji (dzul-hijjah) dalam keadaan memakai pakaian ihram, dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Sedang berada di Makkah untuk menunaikan ibdah Haji Wada‘. Beliau bertanya, “Dengan apa engkau menenang­kan (penduduk Yaman)?” Ali menjawab, “Dengan (cara) yang ditempuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.”
  • Di tahun ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam juga mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy‘ari ke Yaman.
  • Masih di tahun yang sama, muncul orang yang berna­ma al-Aswad al-‘Unsi. Dia seorang tukang tenung, kemudian mengaku dirinya sebagai “nabi” dan raja Yaman, dan hari demi hari masalah itu bertambah besar. Karena itu, berang­katlah Mu‘adz bin Jabal dan bertemu dengan Abu Musa di Marib. Untuk menghindari bahaya dari al-‘Unsi, dua orang sahabat itu menuju Hadhramaut (tidak langsung ke Ya­man). Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengirim surat kepada orang- orang yang masih tetap beriman di Yaman. Kepada mereka beliau menyuruh berusaha keras untuk membunuh al-‘Unsi. Pada akhirnya al-‘Unsi mati dibunuh oleh Bahmah Fairuz, salah seorang Raja di Yaman. Sejak kemunculan hingga kematiannya kurang lebih empat bulan. Demikian menurut Ibn al-‘Imad di dalam kitab Syadmrat.
  • Di tahun ini pula Ibrahim, putra Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari istri beliau Mariyah al-Qibthiyyah, wafat dalam usia satu setengah tahun.
  • ‘Adi bin Hatim datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam lalu memeluk Islam, juga di tahun kesepuluh ini, dan keis­lamannya baik.
  • Terjadi pula di tahun ini, Musailamah al-Kadzdzab mengaku dirinya seorang “nabi.” Di dalam suratnya yang dikirim kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., Musailamah mengatakan bahwa dia adalah mitra (syarik) Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dalam tugas kenabian. Beliau menjawabnya dengan tegas, mendustakan­nya, dan menyebutnya dengan al-Kadzdzab (Pendusta).
  • Pada akhir tahun kesepuluh hijriyyah ini, dilaksanakan ibadah Haji Wada‘ atau Hijjatul-Wada’ (Ibadah Haji Perpisah­an). Disebut demikian karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam akan mening­galkan umatnya dan tidak akan menunaikan ibadah haji lagi. Disebut juga dengan Hijjatul-Islam, karena beliau tidak pernah berangkat haji dari Madinah kecuali pada saat itu. Pada waktu-waktu sebelumnya beliau menunaikan ibadah haji beberapa kali di Makkah. Disebut dengan nama Hijjatul-Balagh karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyampaikan syariat Allah kepada manusia pada waktu ibadah haji ini, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Tidak ada lagi prinsip-prinsip ajaran Islam dan kaidah-kaidahnya yang belum dijelaskan oleh beliau. Setelah beliau menjelaskan syariat haji, mene­rangkan serta menguraikannya, Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau ketika sedang wuquf di ‘Arafah :

… اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً…

 [ الما ئدة : 3]

… Hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian… (QS 5:3)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berangkat dari Madinah pada hari Sab­tu, minggu terakhir bulan Dzul-Qa‘dah, bersama semua istri beliau dan anggota keluarga dari Dzul-Halifah. Para ahli riwayat berbeda pendapat mengenai tempat beliau ber­ihram. Pendapat yang kuat (mendekati kebenaran) ialah bahwa beliau sekaligus berihram di tempat itu, mengingat peijalanan itu merupakan peijalanan terakhir. Setelah se­mua berkumpul di Dzul-Halifah, Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu) melahirkan anak lelaki, Muhammad bin Abu Bakar. Oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Asma’ disu­ruh mandi, mengencangkan perut sedikit (dengan kain), dan mengenakan secarik kain yang agak lebar pada tempat yang mengeluarkan darah, lalu berihram.
Pada hari minggu tanggal 4 Dzul-Hijjah, beliau beserta rombongan memasuki kota Makkah siang hari melalui da­taran tinggi. Beliau tinggal di Makkah hingga tanggal dela­pan. Selama tinggal di Makkah beliau shalat di tempat beliau tiba, di pinggiran Makkah, bersama kaum Muslim. Beliau meng-qashar (menyingkat, mengurangi jumlah rakaat) sha­lat pada hari Minggu, Senin, Selasa dan Rabu. Dan pada hari Kamis beliau bersama kaum Muslim berangkat ke Mina dan menginap di sana malam Jumat. Hari Jumat beliau wuquf di ‘Arafah. Di sana beliau mengucapkan khutbah yang amat penting. Dalam khutbah itu beliau mengokohkan kaidah-kaidah agama Islam sekaligus menghancurkan kai­dah-kaidah syirik danjahiliyah. Di dalam khutbahnya, be­liau menetapkan pengharaman perbuatan-perbuatan yang diharamkan juga oleh agama-agama lain, yaitu pembunuh­an (pertumpahan darah), perkosaan terhadap harta milik orang lain dan mencemarkan kehormatan orang lain. Beliau menempatkan kebiasan-kebiasan buruk jahiliyyah di bawah telapak kaki (yakni harus dibuang) dan mengharamkan se­mua bentuk riba jahiliyyah.
Beliau mewasiatkan (mewanti-wanti) agar kaum pria (kaum suami) berlaku baik terhadap kaum wanita (para is­tri). Beliau menyebut apa yang menjadi kewajiban dan hak kaum istri. Yang menjadi kewajiban para suami terhadap para istrinya antara lain adalah jaminan penghidupan (pem­berian rezeki, nafkah) dan pakaian secara baik-baik serta tidak mempersempitnya dengan cara apa pun. Kaum sua­mi dibolehkan memukul (dengan batas tertentu) istri-istri yang memasukkan lelaki lain yang tidak disukai suami ke dalam rumahnya. Beliau juga mewanti-wanti umatnya agar tetap berpegang terguh pada Kitab Allah. Beliau menegas­kan bahwa mereka (kaum Muslim) tidak akan sesat selagi mereka tetap memegang teguh Kitabullah. Beliau memberi semua yang telah beliau sampaikan kepada mereka. Beliau minta kepada mereka agar mengucapkan apa yang akan mereka katakan dan akan mereka saksikan. Mereka (seren­tak) menyatakan, “Kami bersaksi bahwa Anda telah me­nyampaikan, menunaikan (risalah) dan telah memberi pe­tunjuk (nasihat).” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kemudian menengadah ke langit mohon kesaksian Allah atas (pernyataan) mereka, tiga kali berulang-ulang. Beliau lalu menyuruh semua orang yang hadir (mendengarkan wasiat beliau) supaya menyam­paikannya kepada yang tidak hadir.
[1]     Yang dimaksud dengan “tidak lagi menghijabku” adalah mengizinkan aku berbicara dan bergaul dengan siapa pun.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 31

Tahun Kesembilan Hijriyyah
Dalam sejarah Islam, tahun ini disebut sanah al-wufud (tahun perutusan), karena banyaknya utusan yang datang ke Madi­nah untuk menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Di antara mereka adalah utusan dari Najran (beragama Nasrani), mereka da­tang untuk menyampaikan sanggahan tentang kenabian ‘Isa alaihissalam Berkaitan dengan peristiwa itu turun firman Allah dalam Alquran:

إنَّ مَثَلَ عِيْسَى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ  خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قاَلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

 [آل عمران : 59]

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, ke­mudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah (manusia)!” Maka jadilah dia. (QS3:59)
Mengenai mereka turun pula firman Allah:

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ العِلْمِ فَقُلْ تَعاَلَوْا نَدْعُ اَبْنَآءَنَا وَاَبْنَآءَكُمْ وَنِسَآءَنَاوَنِسَآءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْ  ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللهِ عَلىَ الكذِبِيْنَ

 [آل عمران :61]

Barangsiapa yang  menyanggahmu  tentang ‘Isa a.s. setelah engkau (hai Nabi) mendapat pengetahuan dari Allah, maka katakanlah kepadanya, “Mari kita panggil (kumpulkan) anak-anak  kami dan anak-anak  kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; lalu marilah kita bermubahalah[1] kepada Allah dan kita mohon kepada Allah  agar melimpahkan laknat-Nya kepada orang-orang yang berdusta. (QS 3:61)
Perutusan kabilah Bani Tamim, yang ketika datang ke rumah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., mereka berteriak memanggil-mang­gil, seperti kebiasaan orang-orang Arab masa jahiliyyah. Mengenai kejadian ini turun firman Allah:

إنَّ الَّذِينَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَّرَآءِ الحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُوْنَ [الحجرات :4]

Sesungguhnya  mereka  yang  memanggil-manggilmu (hai Na­bi) dari luar kamar (rumahmu) kebanyakan adalah orang- orang yang tidak mengerti. (QS49:4)
Perutusan Bani Hanifah, turut bersama mereka Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Di hadapan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., dia diam membisu. Sepulang dari pertemuannya dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan setiba mereka di daerah mereka sendiri, yaitu wilayah Yamamah, dia (Musailamah) berbalik haluan dan kembali pada kepercayaan semula, bahkan mengaku- ngaku bahwa dirinya adalah seorang “nabi.” Dia merekayasa kebohongan kepada orang lain.
Perutusan Bani Thay’, yang dipimpin oleh Zaid al-Khail (Kuda Tambahan). Mereka masuk Islam dengan baik. Di dalam pertemuan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata kepada Zaid, “Engkau adalah Zaid al-Khair (Tambahan Kebajikan). Se­orang Arab berkata kepadaku bahwa engkau mempunyai keutamaan. Setelah datang sendiri kepadaku, kulihat engkau tidak mempunyai kekurangan selain nama Zaid al-Khail (Ku­da Tambahan). Nama ini tidak sesuai dengan keutamaan yang kau miliki.”
Juga ada utusan dari Bani Zabid yang dipimpin oleh ‘Amr bin Ma‘ad Yakrib. Semuanya masuk Islam kemudian pulang ke daerahnya. Tetapi setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat, ‘Amr bin Ma’ad kembali menjadi murtad.
Juga datang utusan dari Yaman. Mereka itulah yang oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dikatakan kepada para sahabat, “Da­tang kepada kalian penduduk Yaman, orang-orang yang berhati lembut dan berperasaan halus; iman adalah Yaman, dan hikmah adalah Yamaniyyah.” (Penduduk Yaman terke­nal dengan kebijaksanaannya—penerj.)
Utusan dari Bani Kindah, Bani Tsaqif, dan lain-lain da­tang pula kepada Rasulullah saw. di Madinah.
  • Di tahun kesembilan hijriyyah ini, terjadi Ghazwah Tabuk, dan merupakan peperangan satu-satunya yang ter­jadi di tahun itu. Dan hingga saat wafatnya, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak pernah lagi ikut serta dalam peperangan. Allah me­nyebut tahun itu di dalam Alquran dengan sebutan Sa’ah al-Usrah (masa sulit), karena pada tahun itu terjadi musim kering (gersang); udara amat panas; bahan pangan dan perbekalan serta ternak angkutan sangat minim. Menurut suatu riwayat, setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam tidak lagi disibukkan oleh perjuangan melawan kaum Musyrik Arab, beliau memerintahkan kaum Muslim untuk siap-siap berperang melawan Romawi. Beliau menganjurkan orang-orang yang kehidupannya longgar supaya membantu mereka yang men­derita kesukaran hidup. ‘Utsman bin ‘Affan r.a. menyam­but anjuran beliau dengan menginfakkan uang 1.000 dinar, 950 ekor unta, dan 50 ekor kuda. Karena besarnya harta kekayaan yang dia infakkan, dia disebut Mujahhiz Jaisy al-‘Usrah (orang yang menyiapkan pasukan di masa sulit).
Atas kedermawanan ‘Utsman, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, limpahkan keridhaan-Mu kepada ‘Utsman, karena aku ridha kepadanya.” Kepada para sahabat beliau berkata, “Utsman tidak akan rugi dengan apa yang dilakukannya saat ini.” Kemudian, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bekerja keras menyiap­kan tempat pemusatan pasukan Muslim di Tsaniyyah al- Wada. Mereka berkekuatan 70.000 orang (riwayat yang lain mengatakan 30.000 orang). ‘Abdullah bin Ubay bersama konco-konconya tidak turut serta dalam pasukan Muslim, karena mereka pengecut, munafik dan bermaksud jahat. Mengenai mereka, Allah berfirman dalam Surah al-Bara’ah (Surah at-Taubah), yang oleh Ibn ‘Abbas radhiallahu anhu disebut dengan nama Surah al-Fadhihah. Dia (Ibnu ‘Abbas) mengatakan: “Surah itu menyebut.. .di antara mereka .. .di antara mereka… hingga mereka mengira tak seorang pun dari mereka yang tidak disebut dalam surah itu.” Selain mereka, ada sejumlah orang yang tidak turut bergabung dengan pasukan bukan karena munafik atau ragu, melainkan karena hendak men­cari keselamatan dan malas. Kemudian setelah mereka bertobat, Allah berkenan menerima tobatnya. Ada pula seba­gian kaum Muslim yang tidak turut bergabung dalam pasu­kan karena memang benar-benar berhalangan, dan mereka ini dimaafkan Allah, melalui firman-Nya di dalam Alquran:

ليس على الضعفآء ولا على المرضى ولا على الذين لا يجدون وما ينفقون حرج إذا نصحوا لله ورسوله…

[التوبة :91]

Tiada dosa (karena tidak turut perang) mereka  yang lemah, sakit dan tidak mempunyai sesuatu yang mereka nafkahkan; bila mereka itu benar-benar setia kepada Allah dan Rasul- Nya. (QS 9:91)
Mengenai mereka, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata di Tabuk, “Di Madinah terdapat sejumlah orang yang selalu ber­sama kami, baik pada saat kami melintas lembah atau pun lereng gunung, namun sekarang mereka berhalangan.”
Rasulullah saw. berangkat meninggalkan Madinah pa­da hari Kamis. Beliau lebih menyukai berangkat pada hari itu yang jatuh pada akhir bulan Rajab. Semua urusan ke­luarga yang beliau tinggal di Madinah, dipercayakan kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Mengetahui hal itu kaum munafik memperolok-oloknya sebagai orang yang sengaja minta di­tinggalkan. Mendengar olokan-olokan itu dia segera mene­mui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda membiarkan aku tinggal di tengah perempuan dan anak-anak?” Beliau menjawab, “Apakah engkau tidak ridha mendapat kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, namun tiada lagi nabi sesudahku.”
Berangkatlah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama pasukan Mus­lim. Ketika dalam perjalanan melewati daerah bekas pemu­kiman kaum Tsamud, kepada pasukannya beliau mempe­ringatkan, “Janganlah kalian memasuki bekas pemukiman suatu kaum yang telah berbuat zalim pada diri mereka sen­diri, agar kalian tidak ditimpa musibah seperti yang dahu­lu pernah menimpa mereka, sehingga kalian akan menyesal dan hanya bisa menangis.” Kemudian beliau menutup ke­palanya dan mempercepat peijalanan hingga tiba di Tabuk. Semua pasukan tinggal di Tabuk kurang lebih sepuluh hari. Karena tidak menjumpai pasukan musuh, beliau pulang kembali ke Madinah, tanpa mengalami bentrokan senjata.
Dalam Ghazwah Tabuk itu Dzul-Bijadain al-Muzni wa­fat. Mengenai kejadian ini Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu  menuturkan: “Saya melihat sendiri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari liang lahad ber­kata kepada Abü Bakar (yang bersama Ibnu Mas’ud sedang mengangkat jenazah Dzul-Bijàdain untuk dimasukkan ke dalam lahad), ‘Ulurkan saudara kalian itu kepadaku.’ Beliau lalu berdoa, ‘Ya Allah, aku sungguh ridha kepadanya, maka hendaklah Engkau meridhainya’.” Pada saat itu, Ibn Mas’ud berucap, “Alangkah bahagia bila aku yang menjadi penghuni lahad itu.”
Peristiwa lain yang teijadi pada waktu Ghazwah Tabük ialah wafatnya Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah di Madinah. Ra­sulullah saw. menshalati jenazahnya dari Tabük. Saat itu turun malaikat Jibril alaihissalam bersama 70.000 malaikat lainnya. Malaikat jibril meletakkan sayap kanannya di atas gunung- gunung sekitar kawasan hingga semuanya menjadi datar dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dapat melihat Makkah dan Madinah dengan jelas dari Tabük. Beliau kemudian melakukan shalat jenazah bersama Jibril dan para malaikat yang hadir. Usai shalat beliau bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, apa sebab Mu’awiyah sampai mendapat kedudukan setinggi itu?” Jibril menjawab, “Karena dia selalu membaca QulHuwallahu ahad, baik pada saat berdiri, rukuk, duduk di atas tunggang­an maupun sedang berjalan kaki.” Demikian menurut se­buah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn as-Sani dan al-Baihaqï.
  • Pada tahun itu sekelompok orang dengan sengaja membangun sebuah masjid untuk menggangu atau me­nyaingi Masjid Quba’. Mereka yang membangun masjid itu menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam saat beliau sedang dalam perja­lanan pulang dari Tabuk. Mereka minta agar beliau sing­gah di masjid mereka. Turunlah firman Allah:

وَالّّذِيْنَ اتّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيْقاً بَيْنَ المُؤْمِنِيِْنَ وَإرْصَاداً لِمَنْ حَارَبَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ… [ التوبة : 107]

Dan (di antara kaum Munafik) ada yang  mendirikan masjid  untuk menimbulkan kemudharatan (gangguan) untuk mem­bangkitkan kekufuran, untuk  memecah-belah kaum beriman dan untuk menampung kedatangan orang-orang yang sejak dahulu memerangi Allah dan Rasul-Nya… (QS 9:107)
Dengan turunnya firman Allah tersebut beliau segera memanggil beberapa sahabat dan memerintahkan mereka, “Berangkatlah ke masjid yang didirikan orang-orang zalim itu! Hancurkan dan bakarlah!”
  • Ada tiga orang yang dengan sengaja dan tanpa halang­an tidak mau bergabung dengan pasukan Muslim yang be­rangkat ke Tabuk. Mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Hilal bin ‘Umayyah, dan Mararah bin ar-Rabi’. Mengenai sikap itu Allah berfirman :

وعلى الثلثة الذين خلِّفوا حتى إذا ضاقت عليهم الأرض بما رحبت وضاقت عليهم أنفسهم وظنوآ أن لّا ملجَاَ من الله إلّآ إليه  ثم تاب عليهم ليتوبوا  إنّ الله هو التواب الرحيم  [ التوبة : 118]

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan . tobatnya) hingga bumi yang luas ini mereka rasakan sempit, dan sampai mereka menyadari tak ada tempat untuk berlin­dung dari siksaan Allah selain berlindung kepada-Nya. Allah kemudian menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS 9:118)
  • Pada tahun itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menjauhi para istrinya. Mengenai hal itu Allah menurunkan ayat takhyir (ayat yang mempersilakan para istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memi­lih):

يآَيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحيوة الدّنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحا جميلا .وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة َ فإنّ الله أعد للمحسنات منكن أجرا عظيما [الاحزاب : 28ـ29]

‘
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kalian meng­inginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah kube­rikan mut’ah[2] dan kalian kuceraikan secara baik-baik. Na­mun, jika kalian menghendaki (keridhaan) Allah  dan Rasid- Nya serta (kebahagiaan) di negeri akhirat, maka sesungguh­nya Allah menyediakan pahala besar bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik. ” (QS 33:28-29)
  • Di tahun itu pula turun ayat tahrim (ayat tentang peng­haraman sesuatu), yaitu :

يآيّها النبي لم تحرم مآ احلّ الله لك تبتغي مرضات أزواجك  والله غفورٌرحيمٌ

[التحريم :1]

Hai Nabi, mengapa engkau mengharamkan  sesuatu yang di­halalkan Allah bagimu (hanya karena) engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu… (QS 66:1)
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bagi diri beliau sendiri. Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bah­wa beliau mengharamkan madu untuk dirinya. Sementara ulama yang lain mengatakan bukan madu.
  • Di tahun itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallammemutuskan kasus dua orang bersaudara dari Bani ‘Ajian yang saling mengutuk (melaknat). Karena peristiwa itu, berlakulah ketetapan hu­kum syariat tentang li’an, yaitu suatu pernyataan yang di­ucapkan sebagai hujjah bagi pihak yang menuduh orang lain telah berbuat mencemarkan kehormatan istrinya sehingga dia (suaminya) sangat dipermalukan.
Ketentuan hukum syariat seperti itu dinamai “hukum li’an,” karena bunyi kalimat yang diucapkan dalam pernya­taan itu adalah, “Laknat Allah atas dirinya jika dia berdusta.” Mengenai kisah turunnya ayat li’an di dalam Alquran, para ulama tafsir sependapat bahwa penerapan hukum li’an di masa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam hanya satu kali, yaitu antara Hilal bin Umayyah dan ‘Uwaimir al-‘Ajlani.
  • Terjadi pula di tahun itu peristiwa antara seorang pe­rempuan bernama al-Ghamidiyyah dan seorang lelaki bernama Ma‘iz bin Malik. Dua orang itu datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan mengaku telah berbuat zina. Beliau menjatuhkan hukuman (hadd) atas keduanya. Mengenai al-Ghamidiyyah, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata, “Dia telah bertobat dengan tobat yang jika dibagi di antara 70 orang penduduk Madinah, niscaya akan meliputi mereka semua. Apakah ada tobat yang lebih tinggi nilainya (lebih afdhal) dibanding tobat kepada Allah yang diusahakan sendiri oleh yang bersangkutan?”
  • Pada tahun ini pula, Ummu Kaltsum binti Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat. Dia adalah istri kedua ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhu.
  • Juga di tahun ini, An-Najasyi (nama aslinya: Ashhamah, yang berarti pemberian) meninggal dunia. Mengenai wafatnya itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata kepada para sahabat, “Hari ini orang salih dari Habasyah meninggal dunia.”
  • Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kaum Muna­fik, juga meninggal dunia di tahun ini Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menshalatinya, kemudian turun firman Allah berupa tegur­an:

وَلا تُصَلِّ عَلىَ أحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ أبَدًا… [التوبة : 84]

Dan janganlah sekali-kali engkau menyembahyangkan (jena­zah) seorang pun dari mereka (kaum Munafik)… (QS 9:84)
Demikian menurut sebagian besar riwayat.
  • Di tahun ini pula, ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi wafat. Ia dibunuh oleh kaumnya sendiri saat mengajak mereka memeluk Islam. Dia dianggap sebagai pembawa bencana bagi masyarakat Arab.
  • Juga wafat ditahun ini Suhail bin Baidha’al-Fihri Rasu­lullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menshalati jenazahnya di Madinah.
  • Maharaja Persia mati terbunuh juga di tahun ini. Kedu­dukannya digantikan oleh putrinya, Bauran. Mengenai pe­nobatannya sebagai ratu, beliau berkata kepada para sahabat, “Tidak akan sukses suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.”
  • Pada tahun ini Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu ditugasi Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallamuntuk memimpin jamaah menunaikan iba­dah haji. Namun kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu  menyusul dengan unta tunggangan Rasu­lullah yang bernama ‘Udhba’. Dia ditugasi memimpin pem­batalan perjanjian dengan kaum Musyrik Quraisy, dan mem­bacakan ayat-ayat permulaan Surah at-Taubah kepada kaum Muslim. Pada yaum an-nahr (hari penyembelihan hewan kur­ban) diumumkan: sesudah tahun itu tak dibolehkan lagi seorang Musyrik menunaikan ibadah haji, dan tidak dibolehkan lagi ada orang berthawaf tanpa busana (telanjang). Para ulama berkata, “Diutusnya ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ber­angkat menyusul Abu Bakar radhiallahu anhu karena menurut etika ma­syarakat Arab, yang berwenang mengadakan perjanjian dan membatalkan hanyalah pemimpin mereka atau orang dari kabilah (rahth) mereka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu untuk menghilangkan salah pengertian, agar tidak ada orang yang berkata: Kami tidak mengenal dia dan tidak menganggapnya berwenang (untuk mengadakan atau membatalkan perjanjian).”

[1]     Mubahalah: pihak-pihak yang berbeda pendapat mohon bersama- sama kepada Allah agar menimpahkan laknat kepada pihak yang berdusta.
[2]     Pemberian suami kepada istrinya yang dicerai, menurut kemampuan­nya.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 30

Tahun Kedelapan Hijriyyah
  • Pada tahun ini, datang perutusan Bani ‘Abdul Qais. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyambut kedatangan mereka dengan ucapan, “Selamat datang orang-orang yang tidak nista (Khazaya) dan tidak menyesal (nidama). “Kepada pemimpin me­reka, al-Asyaj, beliau berkata, “Engkau mempunyai dua sifat yang disukai Allah dan Rasul-Nya, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.”
     Di antara perilakunya yang mengesankan adalah: pa­da waktu terjadi gerakan murtad di beberapa kabilah Arab, abasyah sama sekali tidak mau bersembah sujud kepada Allah di muka bumi selain di tiga masjid, yaitu Masjid Mak­kah, Masjid Madinah dan Masjid Abdul Qais.
  • Amir bin al-Ash, Khalid bin Walid’, dan ‘Utsman bin Thalhah memeluk Islam pada tahun ini.
  • Pada tahun ini pula, putri sulung Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Zai­nab, istri ‘Abu al-‘Ash bin ar,-RabI‘, wafat. Sesudah jenazahnya dimandikan dan dikafani, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menutup ja­sadnya dengan baju beliau agar putrinya mendapat berkah dari bekasnya.
  • Juga terjadi pada tahun ini, kenaikan harga-harga kebutuhan hidup di Madinah. Kaum Muslim berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.: “Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga-harga bagi kita.” Beliau menjawab, “Allahlah yang menentukan harga-harga (al-Mus‘ir), yang menyempitkan rezeki dan melapangkannya. Dia-lah Pemberi rezeki.”
  • Pada tahun ini pula terjadi Perang Mu’tah, dan Rasu­lullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. tidak turut serta di dalamnya. Penyebabnya ada­lah: Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus al-Harits bin ‘Umair al-Azdi dari Bani Lahab membawa surat beliau ke negeri Syam un­tuk disampaikan kepada Kaisar Romawi. Riwayat yang lain mengatakan, surat beliau untuk disampaikan kepada Raja Bushra (di daerah Hauran, termasuk di wilayah Syam yang seluruhnya berada di bawah imperium Romawi—-penerj.). Utusan beliau dihadang oleh Syarahbil bin ‘Amr al-Ghassani. Al-Harits lalu diikat, kemudian dipenggal lehernya. Tetapi, Syarahbil tidak mau mernbunuh utusan lainnya (yang menemani al-Harits). Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam sangat gusar ketika mendengar berita itu. Beliau lalu memberangkatkan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Beliau berpesan, “Bila Zaid gugur, Ja‘far menjadi pengganti­nya, dan jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.” Sambil membawa panji perang Zaid bin Ha­ritsah terjun ke medan laga hingga gugur. Panji pasukan Muslim kemudian diambil-alih oleh Ja‘far bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Dia berperang mati-matian hingga tangan kanannya pu­tus ditebas pedang musuh. Panji pasukan lalu dikibarkan dengan tangan kirinya, tetapi tangan kirinya putus juga. Panji segera didekapnya dengan dua pangkal lengannya yang tersisa. Dia tidak dapat lagi menangkis serangan mu­suh hingga akhirnya jatuh dan gugur. Berkaitan dengan peristiwa yang mengenaskan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam konon per­nah berkata, “Allah mengganti dua lengan Ja’far dengan dua sayap. Dengan dua sayap itu dia terbang ke surga.”
Selanjutnya panji pasukan diambil-alih oleh Abdullah bin Rawahah, dan dia berperang hingga gugur. Kemudian pasukan Muslim sepakat agar Khalid bin Walid mengambil alih panji. Khalid maju menyerang musuh sambil meme­gang panji. Pada akhirnya, di bawah pimpinan Khalid bin Walid, pasukan musuh dapat dikalahkan.
Sebelum berita tentang gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Ibn Rawahah sampai kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam beliau sudah lebih dahulu mengatakan kepada para sahabat di Madinah: “Setelah pemegang panji, Zaid gugur, panji akan diambil- alih oleh Abdullah bin Rawahah, dan dia pun akan gugur.” Dengan mata berlinang, beliau melanjutkan, “Panji kemu­dian diambil-alih oleh Saifullah (yakni, Khalid bin Walid yang oleh beliau dijuluki “Pedang Allah”) dan, pada akhir­nya, Allah memenangkannya dalam peperangan.” Ketika pasukan Muslim tiba kembali ke Madinah, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyambut kedatangan mereka. Beliau berkata, antara lain, “Kalian bukan orang-orang yang melarikan diri, tapi orang- orang yang—insya Allah—akan mengulangi perang kembali.”
Sebagian riwayat menuturkan bahwa dalam Perang Mu’tah pasukan Muslim yang hanya berkekuatan kurang dari seper sepuluh kekuatan Romawi terdesak mundur dan nyaris terkalahkan. Akan tetapi, berkat taktik militer yang ditempuh Khalid bin Walid pasukan Muslim dapat meng­hindari kekalahan. Mereka berhenti sementara, lalu pulang ke Madinah untuk mempersiapkan kekuatan menghadapi peperangan berikutnya. Itulah sebabnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berucap, “Kalian bukan orang-orang yang melarikan diri, melainkan orang-orang yang akan mengulang perang kem­bali.”
  • Pada tahun ini pula terjadi Ghazwah al-Fath (penak­lukan kota Makkah). Dalam peperangan ini Makkah jatuh ke tangan kaum Muslim. Ghazwah al-Fath disebut juga Fath al-Futuh dan al-Fath al-A‘zham. Dengan peperangan ini, sekalipun tidak sebesar Perang Mu’tah, Khandaq, dan Badr, Allah memenangkan agama-Nya, bala tentara-Nya, tanah dan Rumah Suci-Nya, al-Ka‘bah al-Musyarrafah. Peperang­an ini dipicu oleh tindakan kaum Musyrik Quraisy yang membantu kabilah Bakr (sekutu mereka) dalam pertikaian bersenjata dengan kabilah Bani Khuza’ah, sekutu pihak Muslim. Dengan demikian, kaum Musyrik Quraisy berarti melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama dengan kaum Muslim di Hudaibiyyah. Bani Khuza ah menghadap Rasulullah saw. meminta bantuan untuk menghadapi Bani Bakr. Beliau mengirim utusan kepada Quraisy-untuk meng­ajukan tiga pilihan: membayar diyah (tebusan, ganti rugi) atas orang-orang yang mati terbunuh dari kalangan Bani Khuza’ah, atau lepas tangan dari Bani Bakr, dan pilihan ketiga berperang. Ternyata kaum Musyrik Quraisy lebih su- ka memilih perang. Pada tanggal 10 Ramadhan, ketika kaum Muslim sedang berpuasa, berangkatlah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ber­sama pasukan berkekuatan besar menuju Makkah. Ketika telah sampai dekat ‘Asafan, beliau dan kaum Muslim berbuka puasa (menangguhkan pelaksanaan ibadah puasa). Setibanya di Murr azh-Zhahran, Abu Sufyan bin Harb (pemimpin besar kaum Musyrik Makkah) menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Setelah berdialog dan berunding beberapa saat, pada akhirnya Abu Sufyan mau memeluk Islam dan memin­ta jaminan keselamatan bagi penduduk Makkah kepada be­liau. Atas permintaan Abu Sufyan, beliau mengumumkan keputusan kepada penduduk, “Barangsiapa masuk ke dalam masjid (Masjid al-Haram), maka ia aman. Dan barang- siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, maka dia aman.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama pasukan memasuki kota Mak­kah, dan tidak terjadi bentrokan senjata. Beliau memerin­tahkan Khalid bin al-Walid bersama pasukannya masuk kota Makkah lewat dataran rendah Makkah. Di sana, dia berpa­pasan dengan sejumlah kaum Musyrik yang menghadang­nya. Terjadilah pertarungan senjata dan berakhir dengan kekalahan pasukan Musyrik.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kemudian berthawaf mengitari Ka‘bah, lalu masuk ke dalarihiya, dan membersihkannya dari pa­tung-patung berhala, tisai pembersihan Ka’bah, beliau me­nyatakan pengampunan umum. Kepada penduduk Mak­kah yang dengan cemas berkerumun menanti keputusan apa yang hendak diambil Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam atas mereka, beliau bersabda, “Bubarlah, kalian semua bebas merdeka (thulaqa’)\” Kalimat sesingkat itu terkenal luas di kalangan penduduk Makkah dan tercatat dengan tinta emas dalam seja­rah. Sejak itulah orang berbondong-bondong memasuki agama Allah, Islam.
  • Pada tahun kedelapan hijriyyah ini teijadi pula Ghazwah Hunain.[1] Penyebab terjadinya adalah: Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menerima laporan dari para sahabatnya, bahwa orang-orang Hawazin (kabilah yang terkenal bertabiat keras dan berkeberanian tinggi) sedang bergerak maju untuk meme­rangi kaum Muslim. Untuk menghadapi mereka Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengerahkan hampir semua pasukan al-Fath (pasukan yang baru saja menaklukkan Makkah) serta orang-orang Makkah yang baru memeluk Islam dan mau bergabung. Dalam peperangan ini, pada mulanya, pasukan Muslim menderita kekalahan, tetapi kemudian Allah menolong me­reka hingga berhasil meraih kemenangan. Allah berfirman dalam Alquran:

لقَدْ نَصَرَ كُمُ اللهُ فِيْ مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ وَّيَوْمَ حُنَيْنٍ إذْ أعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأرْضَ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلّيْتُمْ مُدْبِرِيْنَ [ التوبة : 25]

Sunggun  Allah telah menolong  kalian (hai kaum beriman) di berbagai medan  perang. Dan (ingatlah) akan Perang Hunain, ketika itu kalian congkak membanggakan banyaknya jumlah (pasukan kalian). Ternyata jumlah yang banyak itu tidak mem­beri manfaat sedikit pun kepada kalian. Dan bumi yang luas itu kalian rasakan menjadi sempit, kemudian kalian lari ke belakang, mundur dan bercerai-berai. (QS 9: 25)
Perang Hunain berakhir dengan kemenangan di pihak Muslim. Musuh lari tunggang langgang ke lembah Authas, dan di sana teijadi perang Authas dan kaum Muslim men­dapat kemenangan. Kemudian musuh lari ke Tha‘if, ber­lindung dalam benteng. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama pasukan bergerak mengejar mereka kemudian mengepung benteng itu, tetapi kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama pasukan mem­biarkannya. Beliau kembali ke Ji’ranah dan tinggal di sana selama lima belas hari.
Usai membagi harta rampasan perang, beliau berihram, kemudian berangkat ke Makkah untuk melakukan umrah. Umrah itu merupakan umrah ketiga yang dilakukan Rasu­lullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Usai menunaikan umrah, beliau pulang ke Madi­nah. Beberapa hari kemudian datang orang-orang Hawazin menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dengan maksud hendak me­meluk Islam. Mereka minta agar beliau mengembalikan ke­pada mereka harta benda dan para wanita keluarga mereka yang menjadi tawanan perang. Beliau mempersilakan me­reka memilih: pengembalian para wanita keluarga mereka, atau harta-benda mereka. Mereka memilih pengembalian para wanita keluarga mereka. Ternyata di antara wanita-wa­nita itu ada Syima’ binti al-Harits, saudara perempuan sepersusuan dengan beliau. Ketika beliau mengetahui bahwa wanita itu adalah saudara perempuan sepersusuannya, be­liau mempersilakan Syima’ untuk duduk di atas rida’ yang sengaja beliau hamparkan sebagai alas. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memberikan seorang budak lelaki dan seorang budak pe­rempuan kepada Syima’.
Kepada utusan Hawazin yang datang menghadap, be­liau berkata, “Beritahulah Malik bin ‘Auf (pemimpin Ha­wazin): jika dia datang kepadaku sebagai Muslim, akan ku­kembalikan kepadanya semua keluarganya, harta-bendanya, dan akan kuberi seratus ekor unta.” Mendengar tawaran tersebut, Malik bin Auf berangkat meninggalkan Tha’if me­nuju Madinah. Namun, dia bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam di Ji‘ranah, atau Makkah, dan menyatakan kesediaan­nya memeluk Islam. Beliau lalu memberikan kepadanya apa yang telah dijanjikan. Ternyata Malik bin Auf kemudian menjadi seorang Muslim yang baik. Dialah yang dalam se­buah bait syairnya menyatakan:
Tak pernah kulihat dan kudengar
ada yang seperti dia.
Di kalangan manusia  tak ada orang
seperti Muhammad!
Salah satu peristiwa yang terjadi dalam suasana Perang Hunain adalah: sejumlah kaum Anshar berani menyalah­kan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengenai pembagian ghanimah, karena sebelum mereka menerima bagian, barang-barang ghanimah telah habis. Kepada mereka beliau menjawab, “Apakah ka­lian tidak rela melihat orang-orang lain pergi membawa kam­bing dan unta, sedangkan kalian sendiri pulang ‘membawa’ Nabi? Sekiranya bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi orang Anshar. Seumpama aku melihat banyak orang berjalan melalui lembah atau lereng, niscaya aku berjalan mela­lui lembah dan lereng gunung yang dilalui kaum Anshar. Kaum Anshar adalah syi’ar (lambang kehormatan), sedang­kan orang-orang lain (selain mereka) adalah ditsar (seli­mut).”9
  • Pada tahun ini pula, dari Makkah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Khalid bin Walid kepada kabilah Bani Judzaimah (anak suku Ban! Kinanah) untuk mengajak mereka meme­luk agama Islam. Itu teijadi pada bulan Syawal, yakni tidak beberapa lama setelah kota Makkah jatuh ke tangan kaum Muslim (Ghazwah al-Fath). Orang-orang Bani Judzaimah tidak menyambutyakan itu dengan baik. Mereka bersikeras menolak mengikrarkan “Kami masuk Islam,” bahkan ber­ulang-ulang mengucapkan, “Kami penganut Shabi’ah,[2] kami penganut Shabi’ah.” Menghadapi kenyataan itu, Kha­lid tidak dapat mengendalikan diri. Sebagian mereka dibu­nuh dan sebagian lainnya ditawan. Mendengar berita terse­but Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata, “Ya Allah, aku berlepas diri dari (tidak bertanggungjawab atas) apa yang diperbuat oleh Khalid.” Dua kali beliau mengucapkannya. Kemudian be­liau mengutus ‘Afi bin Abi Thalib membawa uang banyak untuk membayar diyah (tebusan, ganti rugi) kepada keluar­ga masing-masing korban pembunuhan dan untuk meng­ganti harta benda mereka yang hilang. Sisa yang masih ting­gal diberikan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu kepada mereka sebagai tambahan, disertai ucapan, “Ini saya berikan kepa­da kalian sebagai pengganti atas apa yang tidak diketahui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan yang kalian juga tidak mengetahui (ba­gaimana hal itu dapat terjadi).
    Sepulangnya dari Bani Judzaimah, ‘Ali segera melapor kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan beliau berkata, “Engkau telah bertindak tepat dan baik.”
  • Pada tahun ini pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus Khalid bin al-Walid ke Nikhlah dengan tugas menghancurkan ber­hala yang bernama ‘Uzza. Nikhlah adalah nama sebuah tem­pat yang terletak antara Makkah dan Tha’if. Khalid meng­hancurkannya hingga luluh-lantak. Bersamaan dengan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus ‘Amr bin al-‘Ash untuk meng­hancurkan berhala Bani Hudzail yang bernama Suwa‘. Dan ‘Amr menghancurkan berhala itu.
  • Tidak lama setelah Makkah jatuh ke tangan kaum Mus­lim, Ka’ab bin Zuhair datang menghadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam di Madinah. Dia masuk Islam, bertobat atas kesalahan yang telah diperbuat. Dengan kasidahnya yang terkenal, dia minta syafaat kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Si Su’ad menjauh dan hatiku kini menjadi hancur
Mengikuti jejaknya tak menjadikanku terbelenggu.
Terjadi pula di tahun ini, Ghazwah Dzatus-Salasil (pasukan berantai). Konon disebut dengan nama itu karena kaum Musyrik, ketika menghadapi pasukan Muslim, mengikat kaki masing masing dengan rantai agar tidak dapat lari namun, ada pula yang menyatakan, nama itu berasal dari nama sebuah sumur (sumber air), tempat berakhirnya pertarung­an senjata. Penyebabnya adalah: Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutus sejumlah sahabat dan mengangkat ‘Amr bin al-‘Ash sebagai pemimpin mereka. Tugas mereka ialah mengajak orang-orang Arab badawi (orang-orang pedusunan yang hidup mengembara di padang pasir) agar mereka mau menerima dan memeluk Islam. Akan tetapi, di tengah perjalanan, rom­bongan dari Madinah itu dihadang musuh. Kemudian Amr bin al-‘Ash minta tambahan pasukan kepada Rasulullah. Beliau memenuhi permintaan itu dengan mengirim para sahabat terdekat,’ Abu Bakar ash-Shidiq, ‘Umar bin al-Khaththab, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Pertarungan berlangsung dan berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslim.
  • Di tahun ini, ‘Itab bin As-yad melakukan ibadah haji. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam telah menguasakan kota Makkah kepadanya sejak usai Penaklukan. Jadi, ‘Itab bin As-yad adalah guber« nur pertama kota Makkah di masa Islam. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berpesan kepadanya untuk memperlakukan penduduk Makkah dengan baik, dengan berkata: “Sesungguhnya me­reka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
  • Pada tahun ini pula lahir Ibrahim, putra Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dari Mariyah al-Qibthiyyah.
  •  Juga pada tahun ini, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, Abu Sufyan bin al-Harits, ‘Abdullah bin Umayyah al-Makhzumi, dan Abu Quhafah (ayah Abu Bakar ash-Shiddiq) me­meluk Islam.

 [1]    Nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Tha’if.
[2]   Nama agama kuno, disebutkan dalam Alquran, di antara orang-orang Ahlul-Kitab ada yang menjadi pemeluk agama tersebut. Mereka bermukim di Harran, sebuah kota kuno terletak di sungai Efrat dan Tigris (baina an-nahrain)—penerj.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 29

Tahun Ketujuh Hijriyah
  • Pada tahun ketujuh hijriyyah ini terjadi Perang Khaibar.[1] Kemenangan Perang Khaibar telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya saw. ketika beliau berada di Hudaibiyah dengan firman-Nya:

… وَأثـَا بَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا [ الفتح : 18]

….Dan Allah akan memberi balasan kemenangan dalam waktu dekat.(QS48: 18)
Demikian menurut sebagian ulama tafsir. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam keluar dari Madinah memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi kaum Yahudi Khaibar. Dalam peperangan itu panji pertempuran diserahkan kepada ‘Ali bin Abi Thálib r.a. (pemegang panji adalah panglima). Sehari sebelumnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam telah menyatakannya, “Esok hari panji akan aku serahkan kepada seorang yang dengan tangannya Al­lah akan memenangkan peperangan. Dia seorang yang di­cintai Allah dan Rasul-Nya.” Pada saat pertempuran mulai berkobar, Ali bin Abi Thálib r.a. dan pasukannya mendob­rak gerbang benteng hingga berhasil menjebol daun pin­tunya lalu dilemparkan ke tanah. Benteng-benteng Yahudi yang direbut pasukan Muslim dalam Perang Khaibar ialah: Benteng Na‘im, Benteng Qamüsh, Benteng ash-Sha‘ab bin Mu‘adz dan lain-lain.
Dalam Perang Khaibar gugur sebagai pahlawan syahid lima belas orang sahabat Nabi. Dalam peperangan ini Shafiyyah binti Huyay (wanita Yahudi) tertawan. Beberapa lama kemudian dia memeluk Islam, dimerdekakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., dan kemudian dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Dalam suasana perang itu seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti al-Harits mencoba hendak membu­nuh Rasulullah saw. ketika dia mendengar bahwa beliau suka makan panggang daging paha (kambing). Dia meng­undang Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. dan menyajikan panggang daging paha yang dilumuri dengan racun mematikan. Ketika menghadapi sajian tersebut Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. berkata, “Paha (kambing) ini memberitahuku bahwa ia dilumuri racun.” Beliau lalu memanggil dan menanyakannya kepada Zainab, dan dia mengakui perbuatannya.
Malam hari dalam perjalanan pulang dari Khaibar, Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. bersama para sahabat mengantuk hingga ter­tidur sampai ketinggalan shalat subuh dan bangun saat matahari terbit. Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang lebih awal bangun.
  • Para sahabat Nabi yang berhijrah ke Habasyah, Ethiopia, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, pulang ke Madinah. Rasulullah saw. menyambut kedatangan mereka dan berucap, “Aku tidak tahu mana yang lebih menye­nangkan: kemenangan perang Khaibar atau kedatangan Ja‘far.”
Seiring kedatangan Ja‘far radhiallahu anhu menyusul kemudian Abu Musa al-Asy‘an bersama  sejumlah orang Asy’ariyyin.
  • Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun ini. Itu ter­jadi di Khaibar.
  • Pada tahun ini terjadi pula ‘Umrah al-Qadha, yaitu umrah kedua bagi Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Beliau berangkat dari Madinah di bulan Dzul-Qa‘dah. Umrah ini dinamai ‘Umrah al-Qishdsh (Umrah Tebusan) berhubungan dengan turunnya firman Allah, “Walhurumatu qishash, ’’yakni, sesuatu yang ha­rus dihormati, bila dilanggar, berlakulah hukum qishash. Umrah ini juga dinamai ‘Umrah al-Qadhiyyah, karena umrah inilah yang pada tahun sebelumnya dihalangi kaum Musyrik Makkah, dan setelah berunding, tercapai kesepakatan: pada tahun itu kaum Muslim harus pulang ke Madinah, mereka baru dibolehkan masuk ke Makkah untuk berumrah pada tahun depan. ‘Umrah al-Qishash itulah yang disebut dalam firman Allah:

لقد صدق الله رسوله الرءيا بالحق لتدخلن المسجدَ الحرامَ ان شآء الله آمنين محلقين رءوسكم و مقصرين لا تخافون… [ الفتح : 27]

Sungguh Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya, bahwa kalian akan memasuki al-Masjid al-Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dalam keadaan bercukur rambut dan memendekkannya, dah tidak merasa takut… (QS48:27)
  • Terjadi pula di tahun ini Ghazwah Wadil-Qura[2] yang penyebabnya adalah: dalam perjalanan pulang dari Khaibar ke Madinah, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama rombongan melewati pedusunan itu. Beliau menyeru penduduknya agar meme­luk Islam, tetapi mereka menolak keras. Pada akhirnya, ter­jadilah konflik bersenjata. Dalam insiden bersenjata ini Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama kaum Muslim berhasil memaksa me­reka tunduk dan menyerahkan sebagian harta kekayaan me­reka.
  • Pada tahun ini juga terjadi suatu mukjizat pada mim­bar yang selalu digunakan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam untuk berkhutbah, yang terbuat dari pangkal pohon kurma. Pada waktu mimbar itu beliau tinggalkan pertama kali, ia merintih merasa kehilangan beliau. Rintihannya terdengar jelas oleh orang-orang yang masih berada di dalam masjid. Mende­ngar rintihannya, Rasululullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam lalu mendekapkan dada beliau padanya, dan diamlah mimbar itu. Demikian menu­rut riwayat didalam hadits yang sahih.
 [1]    Nama benteng-benteng kaum Yahudi dan juga nama kawasan setem­pat yang terletak kurang-lebih 120 mil di sebelah utara Madinah.
[2]    Nama sebuah pedusunan kaum Yahudi, terletak di antara Madinah dan Khaibar, sekarang bernama al-‘Ula.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 28

Tahun Keenam Hijriyyah
  • Di tahun keenam hijriyyah inilah ibadah haji mulai disyariatkan, demikian menurut riwayat yang sahih di ka­langan mayoritas penganut mazhab Syafi‘i. Sebagian yang lain mengatakan, pada tahun kelima hijriyyah. Penetapan kewajiban ibadah haji itu didasarkan pada firman Allah dalam.Alquran:

… وَللهِ عَلىَ النّاَس ِحِجّ اْلبَيْتِ… [آل عمران : 97]

Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah… (QS3:97).
  • Pada tahun ini terjadi musim gersang, dan kaum Mus­lim mendirikan shalat istisqa’ (shalat mohon turun hujan). Kemudian turunlah hujan tepat pada bulan Ramadhan.
  • Pada tahun ini juga terjadi gerhana matahari, dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Melakukan shalat kusuf  (shalatgerhana matahari.)
  • Pada tahun ini pula, turun ayat yang menetapkan hu­kum zhihar.[1] Penyebabnya adalah ucapan seorang Muslim bernama Aus bin Shamit kepada istrinya, Khaulah binti Malik, “Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku sen­diri!” Berkaitan dengan itu turun ayat pertama hingga ke­empat Surah al-Mujadilah.
  • Pada tahun ini terjadi Ghazwah Hudaibiyyah dan Ba ‘atur-Ridhwan.[2] Penyebabnya adalah: Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mimpi memasuki al-Bait (Ka’bah al-Mukarramah) bersama para sahabat dengan aman, dalam keadaan bercukur rambut kepala dan kuku terpotong pendek. Beberapa waktu kemu­dian Rasulullah saw. bersama kaum Muslim keluar mening­galkan Madinah berangkat ke Makkah dengan maksud me­lakukan umrah. Tetapi karena terhalang oleh sikap kaum Musyrik Quraisy, beliau tidak dapat masuk ke Makkah. Ka­rena itu beliau ber-tahallul di perbatasan. Dalam ghazwah itu teijadilah Baiatur-Ridhwan. Sebab terjadinya pernyataan sumpah setia (baiat) itu adalah berita tentang terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan r.a. yang diutus oleh Rasulullah saw. untuk berunding dengan para pemimpin Quraisy di Mak­kah. Sehubungan dengan peristiwa itu turun firman Allah sebagai berikut:

لَقدْ رَضِيَ اللهُ عَن ِاْلمُؤْمِنِيْنَ إذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ… [الفتح : 18]

Sesungguhnya  Allah  ridha terhadap orang-orang beriman, ketika mereka berjanji setia (bersumpah setia) kepadamu (hai Nabi) di bawah pohon… (QS48: 18)
Pada peristiwa Ghazwah Hudaibiyyah itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengadakan perjanjian perdamaian dengan kaum Musyrik Quraisy, peijanjian yang pada lahirnya menunjukkan keka­lahan kaum Muslim, tetapi pada hakikatnya adalah keme­nangan bagi mereka. Dalam perjanjian tersebut disepakati tiga hal penting: (1) Jika ada orang dari pihak Quraisy yang datang kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  (di Madinah), beliau harus mengembalikan kepada mereka. Sebaliknyajika ada peng­ikut Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam yang datang kepada Quraisy, mereka tidak akan mengembalikannya kepada beliau; (2) Peperang­an antara kedua pihak dihentikan (gencatan senjata) selama 10 tahun untuk menjamin keamanan bagi semua orang; (3) Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan kaum Muslim di tahun itu tidak jadi masuk Makkah (untuk berumrah). Kesempatan untuk itu ditangguhkan hingga tahun mendatang.
Keuntungan yang dapat dipetik dari gencatan senjata itu antara lain:
  1. Kaum Muslim yang lemah yang berada di Makkah ter­jamin keselamatannya.
  2. Banyak orang Quraisy yang tertarik masuk ke dalam agama Islam, akibat pergaulan mereka dengan kaum Muslim dan setelah mereka datang ke Madinah, mereka mendengar sendiri Kalamullah (firman-firman Allah da­lam Alquran) dan menyaksikan sendiri mukjizat-mukji­zat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  3. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendapat kesempatan leluasa untuk mengajarkan berbagai soal agama kepada kaum Mus­lim, melakukan surat-menyurat dengan raja-raja dan para penguasa negeri yang belum memeluk Islam. Pada akhirnya kaum Muslim menyadari bahwa terhalangannya mereka masuk ke Makkah dan kembalinya lagi ke Madinah; semua itu pada lahirnya nampak sebagai ke­kalahan, tetapi pada hakikatnya merupakan kemenangan dan menambah kekuatan.
Banyak pula keistimewaan lain yang diperoleh kaum Muslim dari peristiwa di atas, antara lain: Turunnya firman Allah yang menegaskan keridhaan Allah kepada kaum ber­iman yang membaiat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam di bawah pohon (Baiat ar-Ridhwan). Turunnya firman Allah yang lain yang lebih menegaskan dan merinci keridhaan Allah, yaitu:

والسبقون الأولون من المهاجرين واللأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رَّضِيَ اللهُ عنهم ورضوا عنه واعدَّ لهم جنَّتٍ تَجْرِيْ تحتها الأنهار خلدين فيهآ ابدًا  ذلك الفوز العظيمُ

 [التوبة : 100]

, Orang-orang  yang terdahulu yang pertama-tama (meme­luk Islam) di antara kaum            orang yang mengikuti (jejak) mereka dengan baik; Allah ridha  kepa­da mereka dan  mereka ridha  kepada Allah.  Bagi mereka Allah menyediakan  surga  yang di dalamnya  mengalir sungai-su­ngai. Mereka kekal selama lamanya. Itulah keuntungan yang amat besar. (QS 9: 100)
Para ulama mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang turut serta dan menyaksikan peristiwa “Baiat ar-Ridhwan.”
Kisah sejarah mengenai berlangsungnya perjanjian ter­sebut berbuntut pada peristiwa Abu Jandal bin Suhail. Pada saat penandatanganan perjanjian Hudaibiyyah sedang berlangsung, dia berada di bawah lindungan kaum Muslim. Padahal ayah Abu jandal sendiri, Suhail, adalah yang mewa­kili kaum Musyrik Quraisy dalam perjanjian itu. Kepada Rasulullah saw dia berkata, “Hai Muhammad, inilah gugat­an saya yang pertama kepadamu. Engkau harus mengem­balikan dia (Abu Jandal) kepada saya.” Abu Jandal ketika di Makkah termasuk Muslim yang banyak mengalami siksaan dari kaum Musyrik. Namun Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam harus me­ngembalikannya ke Makkah sesuai dengan perjanjian yang baru saja ditandatangani. Beliau berkata kepada Abu Jandal, “Sabarlah dan bertawakallah kepada Allah. Kita tidak boleh mengkhianati peijanjian, Allah akan melepasmu dari kese­dihan dan memberikan jalan keluar bagimu.”
  • Di tahun keenam hijriyyah ini, seorang Muslim yang bernama Abu Bushair keluar meninggalkan Makkah lari ke Madinah. Orang-orang Quraisy mengirim seorang utusan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam untuk mengembalikannya. Abu Bu­shair dikembalikan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Ia pulang ke Mak­kah bersama utusan yang menuntut pengembaliannya dari Madinah. Akan tetapi dalam perjalanan dia mencari akal untuk dapat membunuh utusan Quraisy yang menemani­nya, dan pada akhirnya dia berhasil membunuhnya. Lalu dia pulang kembali ke Madinah dan melapor pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. “Ya Rasulullah, Allah telah memenuhi apa yang menjadi tanggungan Anda. Anda telah mengembalikan saya kepada mereka, namun kemudian Allah menyelamatkan saya dari kejahatan mereka.” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memahami perkataan Abu Bushair. Karena itu beliau lalu bersabda, “Ce­laka, itu dapat mengobarkan peperangan!” Abu Bushair juga memahami kekhawatiran Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Karenanya ia tidak tinggal di Madinah, tapi pergi ke kawasan pantai, tempat kaum Musyrik Quraisy berlalu-lalang melalui jalan yang menuju ke negeri Syam. Mendengar berita keberadaan Abu Bushair di kawasan tersebut, sejumlah kaum lemah (mustadh‘afin) di Makkah segera menyusul dan menggabungkan diri. Di kawasan itu mereka tidak memberi kesem­patan kepada orang-orang Quraisy untuk melewati jalan itu. Setiap orang Quraisy yang mereka tangkap, langsung dibunuh. Tiap kafilah Quraisy yang mereka jumpai, diram­pok dan dijarah.
Pada akhirnya kaum Musyrik Quraisy menulis surat ke­pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. minta agar bersedia menampung mereka (Abu Bushair dan kawan-kawan) di Madinah, dan orang-orang Quraisy tidak akan menuntut mereka kembali ke Makkah. Permintaan orang-orang Quraisy itu disetujui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., dan tidak lama kemudian Abu Bushair dan kawan-kawannya tiba di Madinah menghadap beliau. Peris­tiwa itu merupakan mukzizat dan karamah.
  • Terjadi pula di tahun ini Ghazwah Dzi Qird, di suatu tempat dekat kota Madinah. Ghazwah itu disebut juga “Ghazwah al-Ghabah.” Penyebabnya adalah: di tempat itu Rasulullah saw. mempunyai beberapa ekor unta betina yang berusia siap berkembangbiak (liqah) dan digembalakan di sana. Empat puluh orang gerombolan penunggang kuda Bani Ghathafan di bawah pimpinan ‘Uyainah bin Hishn al-Fazari tiba-tiba menyergap unta-unta beliau yang sedang digembalakan oleh Dzarr bin Abi Dzarr al-Ghifari. Mereka menjarah dan membawa kabur unta-unta itu serta mem­bunuh penggembalanya, bahkan istri Abu Dzarr (ibu si penggembala kambing) mereka tawan. Keluarlah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. bersama sejumlah pasukan Muslim dari Madinah un­tuk mengejar dan menghancurkan mereka. Berkat perto­longan Allah, gerombolan ‘Uyainah akhirnya dapat ditum­pas habis.
  • Juga terjadi di tahun ini beberapa sarriyah, diantaranya yang terjadi di bawah pimpinan ‘Ukasyah, Muhammad bin Maslamah dan putusan di bawah pimpinan Abu Ubaidah. Sariyyah lainnya adalah: sarriyah di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah ke pemukiman Bani Sulaiman, kemudian ke daerah Ish dan Wadil-Qura; sariyyah di bawah pimpinan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, sarriyah di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ke pemukiman Bani Sa’ad bin Bakr; sariyyah di bawah pimpinan Ibnu‘Atik ke pemukiman Ibn Rafi‘; sa riyyah dibawah pimpinan Amr bin Umayyah adh-Dhamiri dan Salmah bin Aslam dengan tugas rnemerangi gembong kaum Musyriki, Abu Sufyan bin Harb.
  • Pada tahun ini, Saudara kandung Imam Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. yaitu ‘Aqil bin Abi Thalib memeluk Islam. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. menyambut keislaman Aqil dengan ucapan, “Aku mencintaimu karena dua alasan: pertama, karena engkau kerabatku, dan kedua,karena aku mengetahui benar ke­cintaan pamanku, Abu Thalib, kepadamu.” Demikian menurut penuturan Ahmad bin Hanbal dan al-Bukhari di da­lam Kitab Al-Adab al-Mufrad.
  • Pada tahun ini ‘pula Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyiapkan surat-surat yang hendak dikirim kepada raja-raja dan para pe­nguasa di berbagai negeri. Dihyah al-Kalbi diutus ke Kaisar (Romawi), Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi kepada Kisra (Maharaja Persia), Amr bin Umayyah adh-Dhamin kepada Raja Najasyi (Ethiopia-Habasyah), Hathib bin Abi Balta‘ah kepada Muqauqis .(penguasa Mesir), Syuja’ bin Wahb kepa­da al-Harits bin Abl Syamr al-Ghassani. dan Salqh bin Amr al-‘Amhi kepada Haudzah bin Ali al-Hanafi.
  • Terjadi pula di tahun ini insiden ‘Irniyyin. Sebabnya adalah: beberapa orang dari Akl dan Arinah datang meng­hadap Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallamdi Madinah. Mereka lalu memeluk Islam. Mereka tidak kerasan tinggal di Madinah, sehingga beliau menyarankan mereka untuk meninggalkan Madinah dan diberi seekor unta, tetapi mereka harus mau minum air kencingnya, tidak hanya susunya saja. Beliau menyaran­kan demikian karena beliau tampaknya sudah mengetahui niat mereka yang tidak ikhlas untuk memeluk Islam. Mereka mengiyakan saran beliau dan akan melakukannya sebelum berangkat. Benar, mereka lalu membuktikan kesanggupan­nya. Tiba-tiba mereka berteriak menyatakan keluar dari Is­lam (murtad), membawa lari unta itu dan membunuh seratinya.
Karena perbuatan itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam segera mem­berangkatkan pasukan Muslim untuk mengejar dan me­nangkap mereka.
[1]    Ucapan seorang suami atau pernyataannya yang menyamakan ke­dudukan istrinya dengan kedudukan ibunya sendiri, atau menganggap istrinya sebagai ibunya sendiri.
[2]    Pernyataan sumpah setia kaum Muslim yang menegaskan mereka ber­sedia mati syahid membela kebenaran Allah, melawan kaum Musyrik Quraisy.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 27

Tahun Kelima Hijriyyah
  • Pada tahun kelima hijriyyah ini, terjadi Ghazwah Daumatul-Jandal, sebuah kota yang berjarak sekitar lima hari perjalanan dari Damaskus Penyebab terjadinya adalah la­poran yang diterima Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bahwa sekelompok orang di Daumatul-Jandal berbuat sewenang-wenang kepada setiap orang yang melewati daerah mereka, bahkan mereka hendak mendekati Madinah untuk melakukan perbuatan serupa terhadap penduduknya. Berangkatlah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam membawa sejumlah pasukan untuk menumpas mere­ka. Tetapi ketika mereka mendengar keberangkatan Ra­sulullah saw., mereka lari menghilang. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ber­sama pasukannya pulang ke Madinah dengan selamat.
  • Terjadi pula di tahun ini Ghazwah Dzatur-Riqa‘. Sebuah riwayat menuturkan bahwa Ghazwah itu disebut Dzatur-Riqa (sobekan kain), karena pada waktu pasukan melalui suatu daerah, jejak kaki mereka meninggalkan bekas berupa ku­bangan kecil-kecil. Untuk menghilangkan jejak, mereka me­nyobek pakaian masing-masing untuk menutupi jejak. Ko­non ada pula yang menuturkan bahwa ketika itu banyak ang­gota pasukan yang menambali kain mereka di tengah per­jalanan ke arah lokasi gerombolan yang daerah operasinya di daerah Najd. Namun tidak teijadi pertikaian senjata an­tara kaum Muslim dan orang-orang Bani Ghathafan.
  • Ghazwah al-Ahzab juga terjadi di tahun ini, terkenal dengan “Perang Khandaq” atau “Perang Parit” yang menjadi pemicunya adalah: ketika Rasulullah saw. mengusir kaum Yahudi Bani an-Nadhir dari Madinah, tokoh Yahudi lain yang bernama Huyai bin Akhthab secara diam-diam mengajak kaum Musyrik Quraisy di Makkah untuk bersama-sama memerangi Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Ajakan itu disambut baik oleh kaum Musyrik Quraisy. Dalam persiapan mengha­dapi peperangan melawan mereka, seorang sahabat Nabi bernama Salman al-Farisi mengusulkan penggalian parit-parit pertahanan. Di tengah pekerjaan menggali parit-parit, kaum Muslim menyaksikan terjadinya berbagai mukjizat dan kejadian lain yang luar biasa (khawariq lil-‘adah). Bala tentara Ahzab gelombang demi gelombang datang dari Mak­kah. Mereka lalu mengepung kaum Muslim yang berada di dalam kota Madinah. Kaum lemah iman dan kaum munafik sangat terguncang menghadapi pengepungan terse­but. Mengenai itu turun firman Allah:
…(Yaitu) ketika mereka datang dari atas dan bawah kalian, dan ketika penglihatan kalian menjadi tidak mantap lagi dan hati kalian pun menyesak sampai ke tenggorokan (menggam­barkan betapa besar ketakutan dan kegentaran kaum Muslim), bahkan kalian berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah… (QS 33:10)
Sekelompok kaum Musyrik menyergap lewat parit, na­mun mereka dihadapi oleh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu bersama sejumlah kaum Muslim hingga berhasil memukul mundur mereka. Kemudian Allah mendatangkan angin ribut disertai udara sangat dingin hingga pasukan Ahzab (pasukan Musy­rik) kalangkabut dan tenda-tenda yang mereka dirikan ro­boh berantakan. Pada akhirnya pasukan Ahzab menderita kekalahan yang sangat memalukan.
  • Terjadilah pula di tahun ini Ghazwah bani Quraizhah. Penyebabnya adalah, kaum Yahudi Bani Quraizhah secara terrang-terangan memperlihatkan maksud jahatnya hendak mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Dalam perang Ahzab mereka bergabung dengan pasukan Musyrik melawan kaum Muslim. Esok harinya setelah pasukan Ahzab mundur dan pulang kembali ke Makkah, di tengah hari Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyimpan senjata lalu mandi. Pada saat beliau sedang membersihkan kepala dari debu, datanglah Malaikat Jibril alahi sallam berkata kepada beliau : “Engkau meletakkan senjata? Demi Allah, kami tidak meletakkan senjata. Keluarlah menghadapi mereka!” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. bertanya, “Dimana?” Malaikat Jibril alahisallam menunjuk ke arah Bani Quraizhah. Pada saat itu juga beliau memerintahkan pembantunya untuk menyem kaum Muslirm “Jangan ada seorang pun yang menunaikan shalat ashar sebelum berada di te­ngah Bani Quraizhah!”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama kaum Muslim segera bergerak untuk mengepung Bani Quraizhah. Kaum Mukmin sepakat menunjuk Sa‘ad bin Mu’adz untuk menetapkan hukuman apa yang hendak dijatuhkan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Ketika itu Sa‘ad sedang sakit. Pada akhirnya ia menetapkah hukuman mati atas semua lelaki Bani Quraizhah, menyita semua harta kekayaan mereka dan mena­wan semua perempuannya. Atas keputusan yang diambil oleh Sa’ad beliau berkata, “Ehgkau telah memutuskan hu­kuman atas mereka berdasarkan hukum Allah dan engkau telah melaksanakannya.”
  • Sa‘ad bin Mu’adz wafat di tahun ini, Ia seorang saha­bat Nabi terkemuka yang karena kematiannya berguncanglah Arsy ar-Rahman (demikian menurut riwayat).
  • Pada tahun ini terjadi pula Ghazwah al-Muraisi‘, atau yang disebut “Ghazwah Bani al-Mushthaliq.” Penyebabnya adalah: ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendengar bahwa mereka mempersiapkan kekuatan untuk memerangi beliau, maka Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama sejumlah pasukan berangkat untuk menghadapi mereka di suatu tempat dekat sumber mata air yang disebut al-Muraisi. Dan Allah menghancurkan pa­sukan mereka.
Dalam Ghazwah itu, turun Surah al-Munafiqun sehu­bungan dengan terjadinya fitnah (persengketaan) antara seorang kaum Muhajirin dan seorang kaum Anshar, akibat kata-kata yang tidak selayaknya tentang kaum Muslim, yang diucapkan oleh seorang munafik bernama Abdullah bin Ubay.
Dalam Ghazwah itu turun firman Allah mengenai tayammum. Yang menjadi penyebabnya adalah: dalam perjalanan pulang, Ummul-Mu’minin ‘A’isyah radhiallahu anha kehilangan kalung. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan para sahabat berhenti beberapa lama untuk berusaha menemukannya. Di tempat itu sama sekali tidak ada air. Berkaitan dengan itu turun firman Allah ten­tang tayammum. Atas peristiwa tersebut, salah seorang pe­mimpin rombongan bernama Usaid bin Hudhair berkata, “Ini bukan berkah kalian yang pertama, wahai keluarga Abu Bakar!”
Dalam Ghazwah itu juga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam memberi kehor­matan kepada Juwairiyyah binti al-Harits (al-Harits dalam peperangan itu adalah seorang pemimpin pasukan musuh). Juwairiyyah termasuk sejumlah perempuan yang jatuh seba­gai tawanan. Ia ditolong oleh Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Dengan jalan membelinya untuk dimerdekakan. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menikahinya, dan ia menjadi seorang Ummul-Mu’minin.
Dalam Ghazwah Bani al-Mushthaliq itu terjadi pula Hadits al-Ifk (berita bohong). Penyebabnya adalah: ketika Ummul-Mu’minin ‘A’isyah mengetahui kalungnya jatuh ditengah perjalanan, ia mencari-carinya ditempat itu, tetapi tak juga dapat menemukannya. Ia tertinggal seorang diri karena rombongan tidak tahu bahwa ia turun dari haudaj (rumah-rumahan di atas punggung unta) untuk mencari kalungnya yang jatuh. Karena sudah tertinggal jauh, maka terpaksa ia berada seorang diri di tempat itu. Tiba-tiba mun­cul seorang anggota pasukan yang terlambat pulang ber­nama Shafwan bin Muaththal as-Silmi. Ia kemudian mene­mani ‘Ummul-Mu’minln ‘A’isyah radhiallahu anhu dalam perjalanan pulang ke Madinah. Kejadian itu oleh orang-orang munafik di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul didesas-desuskan disertai kabar bohong. Diam-diam mereka menye­barkan berita kepulangan ‘A’isyah radhiallahu anhu berdua dengan Shaf­wan bin al-Mu‘aththal untuk membangkitkan prasangka buruk terhadap keluarga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Namun kemudian Allah menurunkan 10 ayat Alquran yang menegaskan bah­wa istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam itu benar-benar bersih dari semua yang didesas-desuskan kaum Munafik (Lihat Alquran al- Karim, QS 24:11-20).
  • Di tahun itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  menikahi Zainab binti Jahsy.
  • Turun ayat al-Hij ab yang berbunyi:
Hai Nabi, katakanlah kepada  istri-istrimu, anak-anak  pe­rempuanmu dan para istri kaum beriman; hendaklah mereka  memanjangkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang de­ngan demikian itu lebih mudah dikenal dan karena itu mereka  tidak akan diganggu. Dan Allah adalah Maha  Pengampun  lagi Maha Penyayang. (QS 33:59)

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 26

Tahun Keempat Hijriyyah
  • Pada tahun keempat hijriyyah ini terjadi peristiwa Bi’r Ma’unah. Atas permintaan ‘Amir bin Malik, seorang yang tersohor pandai bermain tombak, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. mengutus 70 orang terbaik dari kaum Muslim. Mereka dikenal sebagai qurra’ (para pembaca/penghapal ayat-ayat Alquran). Na­mun, setiba di Bi’r Ma’unah, ternyata mereka ditipu, di­khianati, dan dibunuh oleh warga kabilah-kabilah Sulaim, ‘Ashiyyah, Ri‘il, dan Dzakwan. Selama tiga puluh hari Rasu­lullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Berdo’a memohon kepada Allah agar para pem­bunuhnya dijatuhi azab pembalasan. Mengenai mereka yang menjadi korban penipuan dan pengkhianatan itu, Al­lah menurunkan ayat, namun kemudian di-nasakh (dihapus atau dibatalkan). Di antara mereka yang mati syahid pada peristiwa itu adalah ‘Amir bin Fuhairah, seorang yang oleh ‘Amir bin Thufail dikatakan, “Kulihat ia naik ke langit hing­ga aku sendiri melihatnya berada di antara langit dan bu­mi.”
  • Pada tahun ini pula terjadi sariyyah di bawah pimpin­an ‘Ashim bin Tsabit. Mereka berjumlah sepuluh orang, terdiri dari sahabat Nabi yang baik. Mereka keluar dari Madinah dan setibanya di ar-Raji (sebuah sumur milik Hudzail, terletak di antara ‘Asafan dan Murr azh-Zhahran, jauhnya kurang-lebih dua hari peijalanan dari Makkah) me­reka diserang secara tiba-tiba oleh warga Bani Lihyan. ‘Ashim bin Tsabit sendiri gugur bersama tujuh orang ang­gota pasukannya. Di antara tujuh orang itu adalah Khubaib bin ‘Adi yang ketika disalib berucap:
Tak peduli aku terbunuh sebagai Muslim
Dalam derita apapun kematianku demi karena Allah
 Dan itu berada di tangan Tuhan, yang jika menghendaki
Akan memberkahi tubuhku yang berkeping-keping
  • Pada tahun ini juga terjadi Ghazwah Bani an-Nadhir, suatu kabilah Yahudi. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam baru tiba di Madinah, mereka mengadakan perjanjian dengan beliau bahwa mereka akan turut serta berperang di pihak beliau dan tidak akan memerangi beliau. Namun, kemudian mere­ka mengkhianati perjanjian. Mereka berbuat makar hendak membunuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Mereka lalu diboikot dan dikepung oleh kaum Muslim atas perintah Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., dan kemudian mereka minta damai. Permintaan mereka diterima oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dengan syarat: Mereka harus pergi me­ninggalkan Madinah. Mereka lalu bertebaran, ada yang pin­dah ke Khaibar dan ada pula yang pindah ke negeri Syam.
  • Ummul-Mu‘minln Zainab binti Khuzaimah al-‘Amiriyyah (bernama julukan Ummul-Masakin) rashiallahu anha. wafat pada ta­hun ini. Dan pada bulan Syawal, Rasulullah menikahi Ummu Salmah radhiallu anha (nama aslinya: Hindun binti Umayyah). Dan di tahun itu pula turun firman Allah mengenai qashr ash-shalat :

وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح ان تقصروا من الصّلوة…

[ النساء : 101]

Dan apabila kalian bepergkmjauh (di muka bumi) tiada salah­nya kalian mengqashar shalat (menyingkat, mengurangi jum­lah rakaat…) (QS4:101).
  • Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mem­pelajari Kitab Yahudi (Taurat) untuk membantu kelancar­an tugas beliau, menuliskan surat-surat untuk mereka dan membacakan surat-surat mereka untuk Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  • Abdullah bin ‘Utsman, anak lelaki ‘Utsman dari Ru- qayyah binti Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam wafat pada tahun ini.
  • Di tahun ini pula Fathimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib, wafat. Pada saat penguburan jenazahnya, Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam masuk ke liang kuburnya dan berbaring sejenak di dalamnya.

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 25

Tahun Ketiga Hijriyyah
  • Pada bulan Ramadhan tahun ketiga hijriyyah ini, lahir cucu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
  • Di bulan dan tahun itu juga Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menikah dengan Hafshah binti ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu  kemu­dian menikah pula dengan Zainab binti Khuzaimah al- ‘Amiriyyah yang terkenal dengan julukan Ummul-Masakin. Dan ia wafat setelah tiga bulan menjadi istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Di bulan ini juga ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhu  menikah dengan Ummu Kaltsum binti Muhammad Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  • Pada tahun ini, turun firman Allah yang mangharamkan minuman keras.
  • Pada tahun ketiga hijriyyah ini terjadi Perang Uhud (Ghazwah Uhud), tepatnya terjadi mulai hari Sabtu perte­ngahan bulan Syawal. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyiapkan para sahabatnya sebagai pasukan bersenjata untuk menghadapi peperangan menangkal serangan kaum Musyrik. Beliau me­merintahkan regu pemanah supaya tetap pada posisi me­reka diatas bukit. Kepada mereka beliau berpesan, “Jangan­lah kalian meninggalkan posisi kalian.” Saat masih berlang­sung peperangan, mereka menduga bahwa peperangan telah berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslim. Kekeliruan mereka itu dimanfaatkan oleh kaum Musyrik. Mereka melakukan serangan ketika mengetahui bahwa bukit pertahanan bagian belakang pasukan Muslim ditinggal re­gu pemanah. Melihat kenyataan itu Khalid bin Walid (yang waktu itu masih berada di pihak kaum Musyrik) berteriak memberi aba-aba dari atas kudanya agar pasukannya me­nyergap sisa-sisa regu pemanah kaum Muslim yang masih bertahan di atas bukit. Semuanya berhasil dibunuh oleh pasukan Musyrik. Kemudian mereka melancarkan serangan gencar dan besar-besaran dari belakang hingga barisan pasu­kan kaum Muslim menjadi berantakan. Setelah pada mula­nya terpukul mundur, sekarang pasukan Musyrik maju me­negang hingga berhasil menerobos tempat pertahanan Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Mereka melempari beliau dengan batu. Bagian wajah beliau terkena lemparan batu hingga geraham beliau patah; pipi dan bibir bawah beliau terluka. Tersebarlah desas-desus bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam gugur di medan pertem­puran. Beliau tetap bertahan bersama sejumlah kaum Mus­lim. Setelah pasukan Muslim tahu bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam masih hidup, berhimpunlah mereka disekitar beliau dan pertempuran terus berlangsung hingga pasukan Musyrik dapat dipukul mundur dan dikalahkan. Dalam Perang Uhud ini 70 orang pasukan Muslimin gugur sebagai pahla­wan syahid, termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, pa­man Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  • Di tahun, ini terjadi pula Ghazwah Hamra’ al-Asad, yang dipicu oleh berita yang sampai kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bahwa Abu Sutyan bin Harb bersama sejumlah pengikutnya dari kaum Musyrik Quraisy hendak kembali melancarkan se­rangan untuk menumpas habis sahabat Nabi yang masih tinggal. Atas dasar itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam keluar memimpin pasukan untuk menghadapi musuh. Hamra’ al-Asad ada­lah nama tempat, 8 mil jauhnya dari Madinah, di sebelah kiri jalan menuju Dzul-Halifah. Di sana Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam ber­sama pasukan tinggal selama tiga hari (Hari Senin, Selasa, dan Rabu), kemudian pulang ke Madinah. Peperangan tidak terjadi karena pasukan musuh yang dinantikan tak kunjung tiba.
  • Juga terjadi di tahun ini, Ghazwah Badr ketiga, disebut juga “Badr as-Shughra” (Badr Kecil). Penyebabnya adalah: ketika Abu Sufyan bin Harb bersama pasukan Musyrik me­ninggalkan gelanggang Perang Uhud, ia mengumbar an­caman akan memerangi lagi pada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dan kaum Muslim di Badr. Waktu itu Badr merupakan salah satu tem­pat niaga (pasar) sejak zaman jahiliyyah. Sesuai dengan an­caman yang dijanjikannya, Abu Sufyan bersama sejumlah kaum Musyrik keluar dari Makkah untuk berperang. Tetapi setibanya di ‘Asafan ia pulang kembali ke Makkah. Sedang­kan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bersama sejumlah pasukan Muslim su­dah terlanjur keluar dari Madinah dan sudah tiba di Badr yang ramai oleh orang yang sedang berdagang. Pada akhir­nya, pasukan Muslim mengubah kegiatan dan turut ber­niaga. Mereka berhasil meraih keuntungan yang cukup be­sar. Barang-barang yang mereka beli dengan harga satu dirham, misalnya, dapat mereka jual dengan harga dua dirham. Setelah beberapa hari di Badr, mereka kembali ke Madinah dengan selamat. Berkaitan dengan kejadian itu Allah berfirman dalam Alquran:

 فانقلبوا بنعمة من الله وفضل لم يمسسهم سوءٌ واتبعوا رضوان الله  والله ذو فضل عظيمٍ

… Kemudian mereka kembali (ke Madinah) dengan membawa  nikmat dan karunia besar dari Allah. Mereka tidak mengalami bencana apapun, dan mereka mendapat keridhaan Allah. Dan (sesungguhnya) Allah mempunyai karunia sangat besar. (QS 3:174)

Sekilas Kehidupan An Nabi SAW Bagian 24

Tahun Kedua Hijriyyah
  • Pada tahun ini, kiblat kaum Muslim berubah arah, yang semula mengarah ke Bait al-Maqaddas menjadi ke Bait al-Haram (Rumah Suci Ka‘bah). Itu terjadi pada pertengah­an bulan Sya’ban. Di tahun itu juga diwajibkan puasa Rama­dhan, ditetapkan kewajiban zakat fitrah, zakat mal (harta) dan disyariatkannya ‘Idul Fitri.
  • Terjadi beberapa ghazwah di tahun ini, di antaranya, Ghazwah Wadan di bulan Shafar, Ghazwah al-Abwa’, lalu Ghazwah Buwath di bulan Rabi’ al-Akhir, Ghazwah al-‘Usyairah di bulan Jumada al-Ula, Ghazwah Sufwan, disebut juga Ghaz­wah Badr pertama, di bulan Jumada al-Akhirah, dan Ghaz­wah Juhainah pada pertengahan bulan Sya’ban.
  • Pada tahun irii pula turun perintah puasa Ramadhan. Perintah itu turun pada bulan Sya’ban, begitu pula perin­tah zakat fitrah.
  • Pada tanggal 17 bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyyah ini, bertepatan dengan hari Jumat, terjadi Perang Badr Kubra (Badr Besar). Peperangan ini adalah peperang­an penting yang menentukan nasib masa depan umat Is­lam. Bahkan hari depan umat manusia banyak bergantung kepadanya. Semua peristiwa yang terjadi, seperti futuhat (pe­naklukan kaum Musyrik) dan kemenangan-kemenangan da­lam peperangan, bahkan berdirinya negara-negara dan pe­merintahan-pemerintahan, benar-benar berutang kepada kemenangan gilang-gemilang yang diraih oleh kaum Mus­lim di Perang Badr. Karena itulah Allah menamai Perang Badr dengan sebutan Yaum al-Furqan (hari yang membeda­kan antara kebenaran dan kebatilan). Allah berfirman:

 … إن كنتم امنتم بالله ومآ أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعن  والله على كل شيءٍ قديرٌ [ الأنفال : 41

 .. .Jika kalian beriman kepacla Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (yakni: ayat-ayat Al- quran, Malaikat dan pertolongan Allah yang diturunkan ke­pada Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.) pada hari Furqan, yaitu hari berte­munya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS 8: 41)
Riwayat yang menceritakan Perang Badr menyatakan, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb sedang dalam peijalanan pulang dari negeri Syam dengan jumlah kafilah sangat besar yang membawa barang-barang dagangan dan harta kekayaan Quraisy lainnya. Pada waktu itu suasana perang masih berlaku antara kaum Muslim dan kaum Musyrik Quraisy. Orang-orang Quraisy tidak henti-hentinya memusuhi dan memerangi Islam, membendung semua jalan menuju kebenaran Allah dan merekayasa berbagai hambatan untuk mempersulit kaum Muslim. Mereka mengorbankan harta kekayaan, tenaga, dan pikiran serta berbagai macam senjata untuk memerangi Islam dan kaum Muslim dengan tujuan melemahkan kekuatan mereka. Ke­lompok bersenjata mereka sudah sampai di batas kota Madi­nah dan nyaris menguasai padang-padang penggembalaan.
Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb (tokoh Musyrik yang paling keras memusuhi Is­lam) sedang dalam peijalanan ke Makkah dari Syam dengan membawa pasukan, beliau mengerahkan sejumlah kaum Muslim untuk menghadangnya di tengah perjalanan. Pengerahan itu bukan sekadar untuk berkumpul beramai-ramai, sebab yang mereka hadapi adalah kafilah besar, bukan orang yang sedikit.
Ketika Abu Sufyan mendengar kabar tentang apa yang hendak dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepadanya, ia mengirim utusan ke Makkah secara diam-diam minta bantu­an kaum Musyrik Quraisy untuk melindungi dan menyela­matkan diri dan kafilahnya dari serangan kaum Muslim. Permintaan bantuan dari Abu Sufyan itu membangkitkan semangat penduduk Makkah. Dengan berbagai cara mereka menyambut seruan Abu Sufyan. Mereka segera bergerak. Tak ada satu pun dari tokoh Musyrik Quraisy yang keting­galan, kecuali beberapa gelintir orang. Mereka berangkat untuk menolong kafilah Abu Sufyan sambil mengerahkan suku-suku Arab lainnya. Mereka tiba di Badr dengan sema­ngat menyala-nyaladan perasaan geram.
Untuk menghadapi mereka, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam segera ke­luar dari Madinah memimpin pasukan bersenjata berke­kuatan 313 orang. Mereka tidak mempunyai kuda tung­gangan selain dua ekor dan 70 ekor unta. Masing-masing unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang. Tak ada bedahya antara prajurit dan komandan, antara pengikut dari yang diikuti. Di samping Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam sen­diri,’ dalam pasukan itu ada Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab dan para sahabat terkemuka lainnya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menyerahkan panji peperangan (liwa’) kepada Mush’ab bin ‘Umair. Bendera perang kaum Mu­hajirin beliau serahkan kepada ‘Ali binAbi Thalib dan ben­dera peperangan kaum Anshar beliau serahkan kepada Sa‘ad bin Mu‘adz.
Ketika Abu Sufyan bin Harb mendengar perihal kesiagaan kaum Muslim meghadapi peperangan, secara diam-diam ia menempuh jalan lain, menelusuri jalan pantai. Se­telahyakin bahwa dia dan kafilahnya selamat, ia menulis surat kepada kaum Quraisy yang telah siap berperang, agar mereka pulang saja. Karena, menurutnya,’mereka keluar dari Makkah adalah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Sebenarnya mereka sudah berniat untuk pulang, tetapi Abu Jahal memaksa untuk terus berperang. Pada waktu itu jum­lah kaum Musyrik Quraisy yang sudah siap berperang 1000 orang lebih, termasuk gembong-gembong dan tokoh-tokoh­nya, pasukan berkuda dan pendekar-pendekarnya. Melihat hal itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, “li­hatlah,, Makkah telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi kalian.”
Malam harinya Allah menurunkan hujan lebat hingga menyulitkan kaum Musyrik untuk maju. Sedangkan bagi kaum Muslim hujan itu menjadi rahmat. Mereka berada di posisi yang menguntungkan, karena berada di tempat yang bertanah keras dan berpasir hingga semangat dan hati mere­ka bertambah kuat dan mantap. Peristiwa itu digambarkan dalam Alquran:

وينزّل عليكم مّن السمآء مآءً لّيطهركم به ويذهب عنكم رجز الشّيطان وليربط على قلو بكم ويثبّت به الأقدام [ الأنفال : 11

…Dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian, dengan hujan itu Allah menghi­langkan dari kalian gangguan setan, dan untuk menguatkan hati serta memperteguh pijakan kaki kalian. (QS 8: 11)
Agar Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dapat mengawasi jalannya pepe­rangan, khusus bagi beliau dibuatkan gardu di dataran ting­gi. Dari tempat itu beliau dapat memberi petunjuk dan isya­rat: di sana si fulan harus mengambil posisi, di sana si B harus mengambil posisi, dan di sana si C harus mengambil posisi dan seterusnya. Tidak seorang pun dari pasukan Mus­lim yang melanggar petunjuk dan isyarat-isyarat yang beliau berikan.
Setiba kaum Musyrik di medan perang dan dua pasu­kan saling berhadapan, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallamberdoa: “Ya Allah, orang-orang Quraisy datang dengan congkak dan sombong untuk memerangi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu.
Dua pasukan bersenjata masing-masing telah siap siaga dalam barisan. Setelah meluruskan barisan pasukan Mus­lim, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kembali lagi ke gardu pengawas. Di da­lam gardu, beliau disertai Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu. ber- tadharru mohon kepada Allah dan berdoa: “Ya Allah, wujud­kanlah yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah… pertolongan-Mu, ya Allah.” Beliau mengangkat tangannya ke atas dan menengadah ke langit hingga rida’ yang dipakai­nya terjatuh dari pundak. Abu Bakar radhiallahu anhu menghibur beliau karena kasihan melihat beliau yang terus menerus meman­jatkan permohonan kepada Allah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallamkemudian keluar dari gardu pengawas, menghampiri pasukannya dan membangkitkan semangat mereka yang bersiap terjun ke medan tempur. Pasukan Mus­lim berkerumun di sekitar Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., saling berdekat­an. Ketika beliau melihat pasukan Musyrik mulai bergerak, beliau berseru kepada pasukan Muslim, “Ayo! Maju menuju surga yang seluas langit dan bumi!” Pasukan Muslim masih tetap pada barisan masing-masing. Dengan ketabahan hati dan kesabaran, mereka berzikir dan berdoa. Pertempuran mulai berkecamuk. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam dengan gigih dan tang­guh berperang. Bahkan beliau termasuk orang yang pa­ling dekat dengan musuh. Pada saat itu Allah menurunkan malaikat membawa rahmat dan menebarkan kemenangan dalam pertempuran melawan kaum Musyrik. Allah berfir­man di dalam Alquran:

إذ يوحي ربك إلى الملئكة انّي معكم فثبتوا الذين امنوا سَاُلْقِيْ في قلوب الذين كفروا الرُّعْبَ فاضربوا فوق الأعناقواضربوا منهم كُلَّ بَنَانٍ

 (Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah hati orang-orang beriman. Akan kutanamkan rasa takut di dalam hati orang-orang kafir, maka pancunglah kepala mereka dan pangkaslah (tangan-tangan) mereka...” (QS 8:12).
Dalam pertempuran itu para pemuda Muslim berlomba-lomba meraih keberuntungan mati syahid dan kebaha­giaan akhirat.
Perang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslim. Dari pihak kaum Musyrik terbunuh 70 orang, di antaranya gembong-gembong mereka Seperti Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi‘ah bersama saudaranya yang bernama Syaibah serta anaknya yang bernama al-Walid, dan 70 orang dari pasukan Musyrik tertawan.
Dari pihak kaum Muslim yang berasal dari Quraisy gu­gur 6 orang, yaitu: ‘Ubaidah bin al-Harits, ‘Umair bin Abi Waqqash, DzuSy-Syimalain, ‘Aqil bin al-Bukair, Mahja‘ (maula ‘Umar bin al-Khaththab), dan Shafwan bin Baidha’. Dan 8 orang dari kaum Anshar, yaitu: Sa’ad bin Khaitsamah, Mubasysyir bin ‘Abdul Mundzir, Yazid bin al-Harits, Umair bin al-Hamam, Rafi’ bin Ma‘la, Haritshah bin Suraqah, Auf dan Mu’awwadz (dua-duanya anak lelaki al-Harits) dari istri­nya yang bernama ‘Afra’..
  • Pada tahun ini ‘Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  •   Selain Ghazwah Badr, di tahun kedua hijriyyah juga terjadi sariyyah (perang yang tidak disertai oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam) melawan kaum Musyrik di Nikhlah, dipimpin oleh ‘Abdullah bin Jahsy, juga teijadi Ghazwah Qarqarah al-Kadr, sariyyah di bawah pimpinan Salim bin ‘Umair radhiallahu anha Ghazwah Bani Qainuqa‘ dan Ghazwah as-Sawiq.
  • Pada tahun ini juga ‘Utsman bin Mazh’un radhiallahu anhu. wafat. Ia adalah orang pertama dari kaum Muhajirin yang wafat di Madinah al-Munawwarah, sepulang dari perang Badr. Jenazahnya adalah yang pertama dikubur di pekuburan Baqi‘ al-Ghirqid. Ketika menjelang wafat, ia sempat dicium Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallammata kedua orang itu basah digenangi air mata. Ia dikubur berdampingan dengan kuburan putra Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam., Ibrahim. Beliau ketika itu berkata, “Kebenaran ada pada orang yang mendahului kami, ‘Utsman bin Mazh’un.”
  • Wafat pula di tahun ini, Ruqayyah binti Muhammad Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
  • Rasululah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mulai berkumpul dengan ‘A’isyah radhiallahu anha sebagai pasangan suami istri pada bulan Syawal tahun itu.
  • Di bulan Syawal itu, lahir ‘Abdullah bin az-Zubair dan Numan bin Basyir—radhiyallahu ‘anhuma. Yang disebut per­tama adalah anak yang pertama dilahirkan oleh seorang Muhajirin, dan yang yang kedua adalah anak pertama yang dilahirkan dari kaum Anshar.