Selasa, 14 Juni 2016

Lebih Dekat Mengenal Syech Ibnu Atha'illah al Iskandari

Sekilas Tentang Syech Ibnu Atha'illah al-Iskandari
     Ia bernama lengkap Abu al-Fadl Ibnu Atha'illah al-Iskandari ( ada yang menyebutnya as-Sakandar ). Dia merupakan salah satu Imam Sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang dai (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadist, dan ahli fikih Mazhab Maliki sehingga kredibilitas Ibnu Atha'illah dalam kancah intelektualitas dan keulamaan tak perlu diragukan lagi. Beliau lahir di kota iskandariah,Mesir, sebuah negara yang penduduknya selalu bangga menyebut negaranya sebagai "Ummu ad-Dunya" (Ibu Dunia). Sejak kecil, Ibnu Atha'illah sudah cukup akrab dengan literatur-literatur Islam dan pernah belajar berbagai macam cabang ilmu kepada kiai-kiai besar Mesir pada zamannya.
     Hal itu tak mengherankan karena ia termasuk orang yang beruntung, yaitu lahir di tengah lingkungan bangsawan penganut Mazhab Maliki. Padd umumnya yang masih relatif belia, dikabarkan bahwa ia juga telah menguasai beberapa disiplin ilmu, sperti ilmu nahwu, tafsir, ushul fiqih, fikih, dan hadis, Bahkan, Ibnu Atha'illah masih sangat muda ketika ia terkenak sebagai salah seorang pakat Mazhab Maliki.

Karya-Karya  Ibnu Atha'illah al-Iskandari
     Singkat cerita, setelah mengalami berbagai macam fase kehidupan yang penuh dinamika intelektual dan spiritual, Ibnu Atha'illah pun dinobatkan oleh umat menjadi seorang guru ketiga tarekat asy-Syadziliyah. Padhal, seperti diceritakan banyak orang, sebelumnya ia termasuk orang yang paling kritis terhadap ilmu tasawuf dan tarekat.
     Sebagai seorang guru tarekat, Ibnu atha'illah bukanlah guru tarekat biasa. Ia juga seorang intelek yang berkarya. Selain al-Hikam, ia juga menulis buku-buku lain, misalnya Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikirillah al-Karim, al-Fattahull-Muraqqi ilal-Qadir. 'Unwanut-Taufiq fi Ada'it Thariq, dan al-Qaulul-Mujarrad fil-Ismil-Mufrad.

Meninggal Pun saat Mengajar
     Ini kenyataan, bukan dramatisasi untuk melebih-lebihkan kehebatan tokoh yang satu ini. Alkisah, setelah mengarungi samudra kehidupan dengan segala macam amal ibadah dan karya-karya sosialnya yang nyata bagi umat Islam, akhirnya ia pun wafat, yaitu pada usia 60 tahun di Kairo, pada tahun 709H/1309M.
     Entah bagaimana-tentunya karean takdir Allah-Malikat Izrail menjemputnya ketika beliau sedang mengajar murid-muridnya di Madrasah Manshuriyah, Kairo Mesir. Duka cita pun membahana di seantero Mesir, bahkan dunia. Orang-orang berduyun-duyun melayat untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Sampai saat ini, tak ada cerita sedikitpun tentang warisan harta yang ditinggalkannya. Yang ada bahwa ia telah mewariskan ilmu yang luar biasa dan masih kita nikmati sampai sekarang;termasuk di dalamnya adalah kitab yang sedang Anda pelajari ini.

Kesimpulan
     Tentu saja, pembaca Kitab al-Hikam tak pelu khawatir akan melenceng dari ajaran agama Islam bila membaca Kitab ini, karena petikan-petikan hikmahnya mengandung makna mendalam dan senantiasa didasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah. Bahkan, buku ini menjadi penting karena menjelaskan kedua landasan utama agama Islam tersebut dalam masalah yang berkaitan dengan tauhid, etika, dan perilaku sehari-hari

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya,Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar