Tampilkan postingan dengan label Al-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Adab Dalam Ilmu

Kehebatan Imam Malik tidak lepas dari peranan ibunya. Wanita pendidik sejati yang benar-benar perhatian terhadap urusan tarbuyah. Ibunya ingin agar Imam Malik tumbuh menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama Rabi’ah bin Abdurrahman. Ibunya membelikannya pakaian terbaik, dan sebelum berangkat, ibunya berpesan ; “Pelajarilah adab Syaikh Rabi’ah sebelum belajar ilmu darinya”.
Adab memang sangat penting dalam menuntut ilmu, kini ada begitu banyak orang yang berilmu tinggi namun cacat adabnya. Padahal pendahulu kita para ulama sangat memperhatikan hal itu.
Betapa pentingnya adab juga terlihat dari kisah Abdurrahman bin al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab”.
Semoga kita bisa menjadi orang yang memiliki adab yang baik.
Amiinn Yaa Robbal 'Alamin.

Kisah Qarun

KISAH QARUN
Foto islamuna.info Googlenya Aswaja. Jakarta, CyberDakwah.COM – Qarun adalah orang yang sangat kaya berasal dari golongan Bani Israil. Allah menganugerahkan kekayaan yang sangat melimpah kepadanya. Akan tetapi, Qarun tak pernah mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Ia tak membantu orang-orang miskin disekitarnya. Sungguh ia merupakan orang sombong pada saat itu.
Kekayaan yang dimilikinya menyilaukan mata hatinya. Ia tertipu daya oleh harta, emas dan perak miliknya. Ia memperlakukan kebanyakan orang dengan kesombngannya. Baginya, harta yang ia miliki adalah sumber kekayaan. Ia juga meniru gaya pakaian Firaun. Hidup dalam kemewahan dan glamour.
Orang-orang beriman mencoba menasehati Qarun agar tak tertipu oleh permata dunia. Mengingatkannya bahwa semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Mereka berharap Qarun menghentikan kesombongannya.
Orang-orang beriman berkata kepada Qarun, “Jangan lupakan hari akhir. Jangan lupakan kehidupan yang akan datang. Berbuatlah untuk kehidupanmu yang akan datang. Keluarkanlah emas dan perakmu untuk orang-orang miskin. Bersyukurlah kepada Allah karena apa yang telah Dia berikan padamu. Berbuatlah kebaikan pada sesama sebagaimana Allah berbuat kebaikan untukmu. Jangan berbuat kerusakan di negeri ini.”
.
Mendengar perkataan orang-orang beriman, Qarun malah menjawabnya dengan sombong. Ia berkata, “Aku telah mengumpulkan kekayaanku ini dengan tanganku sendiri. Aku tahu bagaimana cara mendapatkan uang. Aku telah mengumpulkan kekayaanku dengan pengetahuanku!”
Meski sifat dan sikapnya yang angkuh lagi sombong, sebagian orang menyukai dan mentaatinya. Mereka mematuhi apa yang diperintah Qarun dan ingkar terhadap Nabi Musa. Harapan mereka begitu besar terhadap Qarun. Suatu saat mereka berharap Qarun memberikan uangnya.
Suatu hari Qarun keluar mengenakan pakaian berhiaskan emas. Begitu bangganya dia mengenakan pakaian tersebut. Beberapa orang miskin yang melihatnya, merasa iri akan apa yang Qarun miliki. Mereka berkata, “Betapa bahagianya Qarun! Betapa beruntungnya ia! Jika saja kami memperoleh apa yang telah diperoleh Qarun! Sungguh ia memperoleh keberuntungan yang luar biasa!”
Orang-orang beriman yang mendengar perkataan orang-orang iri terhadap kekayaan Qarun, begitu sedih. Mereka mencoba menasehati orang-orang tersebut agar tak silau akan kekayaan dunia. Lebih baik mencari pahala ketimbang mencari harta yang bisa melupakan Allah Yang Maha Kuasa.
Nabi Musa mendatangi Qarun. Ia berkata padanya, “Jangan berbuat kerusakan di negeri ini. Janganlah tertipu dengan harta dan kekayaanmu.”
Apa yang dikatakan oleh Nabi Musa terhadap Qarun tidak dipedulikannya. Justru Qarun makin sombong dan ingin balas dendam kepada Qarun.
Qarun menaruh dendam terhadap Nabi Musa. Ia bersekongkol menentang Nabi Musa. Bahkan ia menuduh dan menyebarkan kepada Bani Israil tentang kepalsuan Musa. Ia melawan dan menentang akan apa yang Musa lakukan.
Nabi Musa berdoa kepada Allah agar menghukum Qarun yang sombong dengan hukuman seberat-beratnya. Allah pun juga murka akan apa yang dilakukan Qarun. Allah hendak menghukum orang yang sombong dan tertipu oleh harta.
Hukuman pun datang kepada Qarun. Ia melihat istana miliknya bergetar. Ia ketakutan dan hendak melarikan diri. Tapi naas, ia tak sempat melarikan diri karena bumi menelan jasadnya. Pada saat itulah, Qarun beserta semua harta kekayaan yang dimiliki hilang ditelan oleh bumi.
Kejadian yang menimpa Qarun merupakan suatu pelajaran bagi orang-orang yang melihatnya. Mereka yang awalnya iri dan ingin hidup seperti Qarun, menyesal dan mengerti setelah mengetahui apa yang menimpa Qarun. Mereka sadar bahwa perbuatan baik itu lebih utama ketimbang harta. Sikap baik hati kelak akan menolong dan tentu bermanfaat bagi sesama manusia. Sedangkan harta, emas, kekayaan, kesombongan justru akan menghancurkan pemiliknya.
–> Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid
Ayo Berbagi:

Di sebuah hutan belantara Papua ( Kisah Al-Habib Munzir al-Musawa )

“Hujan mulai deras, saya ( Munzir Al Musawa) tak tahan lagi dan memegang tangan Asri (Sopir bak terbuka), ‘Berhentilah Asri, berhenti !. Maka Asri pun menghentikan mobil. Saya katakan kepadanya: ‘Saya mau pindah ke belakang untuk menggantikan posisi ibu (biarawati) itu dan biarkan ia naik di depan tempat saya duduk."
Asri kaget bukan kepalang: ‘Tidak mungkin Habib turun pindah ke bak ke belakang ini ! Ini hujan deras Habib !!.
Saya berkata lagi, ‘Hati saya tercekik, sungguh walaupun ia non muslim, bagaimanapun ia seorang wanita cukup tua dan duduk di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia tabah dalam berjuang demi agamanya meski harus diterpa hujan dan panas. Sedangkan aku seorang penyeru ke Jalan Allah SWT, aku malu kepada Allah. Patutnya aku berjalan kaki 200 km bukan duduk di bak terbuka yang masih santai. Hati saya tercabik-cabik, saya malu, malu sekali”
--- Dikutip dari Buku "ENGKAU T'LAH MENGAJARKANKU CINTA... Mengenang Habib Munzir Al Musawa Pendiri Majelis Rasulullah SAW, karya Sayyid Abdullah Ba'alawi, Pustaka Basma, Malang ---
Al Fatihah Ila Rukhi HABIBANA MUNZIR BIN FUAD AL MUSAWA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ