Minggu, 12 Juni 2016

Adab Dalam Ilmu

Kehebatan Imam Malik tidak lepas dari peranan ibunya. Wanita pendidik sejati yang benar-benar perhatian terhadap urusan tarbuyah. Ibunya ingin agar Imam Malik tumbuh menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama Rabi’ah bin Abdurrahman. Ibunya membelikannya pakaian terbaik, dan sebelum berangkat, ibunya berpesan ; “Pelajarilah adab Syaikh Rabi’ah sebelum belajar ilmu darinya”.
Adab memang sangat penting dalam menuntut ilmu, kini ada begitu banyak orang yang berilmu tinggi namun cacat adabnya. Padahal pendahulu kita para ulama sangat memperhatikan hal itu.
Betapa pentingnya adab juga terlihat dari kisah Abdurrahman bin al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab”.
Semoga kita bisa menjadi orang yang memiliki adab yang baik.
Amiinn Yaa Robbal 'Alamin.

Keindahan Wajah Sayyidina Muhammad SAW

Dijelaskan oleh Abbuya Al Allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Jika para wanita memotong jari-jarinya karena terpesona saat melihat wajah nabi Yusuf As (QS. Yusuf : 31), Abbuya As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa wajah Rasulullah yang ada didunia ini hanya dilihatkan yang 1 bagian dari 10 bagian keindahan wajah rasulullah, yang 9 bagian lainnya akan di perlihatkan kelak di telaga haudh, Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi karena jika yang 9 bagian itu ditampakkan dibumi maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Subhanallah… wallahu a’lam

Al-Hikam 4 : Orang 'Arif Tidak Mencampuri Urusan Allah II

أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ

"Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu.
Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk ikut campur." 


-ibnu Atha'illah al Iskamdari-



SESEORANG KERAP merencanakan berbagai hal bagi dirinya sendiri sesuai keinginan nafsunya.
Kemudian, untuk menggapai rencana yang telah ditetapkannya itu, ia melakukan berbagai pekerjaan yang menyibukkan dirinya. Tentu saja, hal ini akan membuatnya lelah. Bahkan mungkin pula kecewa, terutama bila sebagian besar perkara yang telah direncanaknnya itu tidak berhasil diwujudkan.
     Dengan menggunakan lafal "Istirahat" , Ibnu Atha'illah ingin menjelaskan kepada para murid bahwa mereka dituntut untuk meninggalkan segala perkara yang menyebabkan keletihan dan penderitaan. Kecuali, jika perencanaan atau pengaturan tersebut ditujukan untuk sekedar memenuhi tuntutan hidup dan tak sampai memberatkan. Tentu saja, hal ini tidak merugikan diri. Bahkan pepatah mengatakan " Perencanaan adalah setengah dari kehidupan."
     Urusan-urusan yang telah diatur Allah hendaknya dijauhi oleh seorang murid. Ia tak perlu lagi sibuk mengurusi apa yang telah ditangani Allah karena tindakan seperti itu termasuk sikap "sok tahu" yang tak layak dilakukan oleh orang yang berakal. Lagi pula, tindakan itu bertentangan dengan prinsip rububiyah (kepengaturan) dak takdir Allah, selain juga bisa melalaikan ibadah.
     Hikmah ditas ditujukan sebagai peringatan bagi para murid karena biasanya apabila seseorang murid sedang menghadap Tuhannya dan sibuk dengan dzikir-dzikir dan ibadah-ibadahnya, seluruh sebab penghidupan duniawi akan terputus darinya. Saat itulah, setan datang dan mulai membisikinya, ,mengiming-iminginya dengandengan berbagai hal yang sebagian besarnya tidak akan pernah terwujud. Bisikan setan itu kemudian akan membuat si murid lalai, bahkan meninggalkan kebiasaan zikir dan ibadah. Tips untuk menghindari hal itu ialah banyak berxikir dan riyadhah(olah jiwa). Dengan xikir dan riyadhah, seseorang murid akan dijauhi setan dan terhindar dari kesibukkan menyusun rencana ini dan itu yang membuatnya letih.
(Ulasan Syekh Abdullah asy-Syarqawi)

Tips Agar Terhindar dari Sifat Sombong

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz :"Melawan kesombongan adalah dengan merasa hina, memberantas hawa nafsu adalah dengan selalu mengerjakan sunnah, melawan rasa bangga diri adalah dengan menyadari bahwasannya semua itu semata mata hanyalah anugrah"
Suatu ketika (dalam bahasa jawa) kami ditanya oleh Hadratus Syekh KHA. Nawawi Abd. Djalil Pengasuh PP. Sidogiri tentang makna kalimat dalam doa iftitah yang kita baca setiap shalat:
ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillahi rabbil aalamiin
Kami jawab, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semua aku lakukan (ikhlash) hanya karena Allah"
Kemudian beliau KHA. Nawawi berkata, "Itu kan makna secara fiqih. Kalau makna dalam ilmu tauhid bagaimana?"
Kami diam sejenak lalu berkata, "Maaf kami tidak tahu"
Beliau lalu dawuh, "Semua shalatmu, ibdahmu, hidup dan matimu itu karena dikehendaki Allah. Artinya semua itu atas kehendak Allah"
Jadi bersyukurlah kita yang shalat, kita yang puasa karena Allah menghendaki kita menjadi orang baik. Ketika kita melihat pemabuk, pencuri, pelacur, para pelaku ma'shiyat, cepat-cepatlah kita pegang dada kita, bersyukur kepada Allah karena kita oleh Allah tidak dikehendaki menjadi ahli ma'shiyat. Dan jangan sekali-kali merasa lebih baik dari mereka. Karena pada hakikatnya yang kita lakukan dan yang mereka lakukan, semua atas kehendak Allah.
Dengan berpikir demikian insya allah kita bisa untuk tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Jangan Salah Mencintai


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seseorang bersama dengan yang dicintainya (di akhirat kelak)”
(HR Al-Bukhari no 6169)
Sungguh menyedihkan, tatkala banyak kaum muslimin terutama dari golongan pemuda yang sangat mencintai para pelaku maksiat, bahkan dari kalangan orang-orang kafir!!! (terutama para pemain film dan para penyanyi serta para olahragawan). Foto orang-orang kafir tersebut mereka pajang di kamar-kamar mereka, menjadi penyejuk pandangan mereka, sebelum tidur dan tatkala bangun tidur.
Bahkan mereka meniru gaya berpakaian orang-orang kafir tersebut, mereka hafalkan lantunan-lantunan orang-orang kafir tersebut, mereka pelajari perjalanan hidup orang-orang kafir tersebut…!! Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang sejarah…, nama…, dan nasehat-nasehat Sayyidina Abubakar, Imam­ Syafii??, maka terdiamlah ia !!!
Bahkan kecintaan sebagian mereka sudah sangat mendalam kepada orang-orang kafir tersebut, terbukti tatkala para artis tersebut datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, hingga ada yang histeris tatkala menyaksikan idolanya, bahkan ada diantara mereka yang pingsan karena terlalu gembira !!!.
Apa yang akan mereka perbuat dengan sabda Nabi “Seseorang (dikumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!
Karenanya, cintailah orang-orang sholeh. Tirulah gaya hidup mereka, patuhilah petuah-petuah mereka, yaitu orang-orang yang jika kita mengingat mereka maka kita mengingat akhirat
Anas Bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:
“Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka” (HR Al-Bukhari no 3688).

Terlanjur Basah


Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata:
"Barang siapa pada mulanya merasa berat untuk melakukan perbuatan maksiat, kemudian ia mencoba untuk melakukannya satu kali saja, maka setelah itu ia akan merasa ringan untuk melakukannya lagi secara berulang-ulang.
Sebagaimana diceritakan, pernah seseorang berjalan dipinggir tanah yang berlumpur sambil mengangkat ujung celananya tinggi-tinggi. Ia sangat berhati-hati agar tidak jatuh serta tidak terkena percikan lumpur dan tanah kotor tersebut. Namun akhirnya ia terjatuh juga. Ia pun kemudian berjalan ditengah lumpur dan membiarkan celananya terjulur hingga menyentuh tanah sambil menangis.
Ketika ditanya mengapa menangis, ia menjawab, "Sebelumnya saya takut terjatuh dalam tanah lumpur ini, akan tetapi baru saja saya jatuh di sana, dan setelah itu hati saya merasa ringan untuk berjalan di tengah lumpur yang kotor tersebut. Demikian pula dengan maksiat."

Tips Memilih Istri

KH. Maimun Zubair dhawuh,
Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune.
(Kalau memilih istri itu yang kurang begitu paham urusan dunia. Sebab seberapa sholehnya anakmu, seberapa sholehnya ibunya)

Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas.
(Sahabat Abbas itu punya istri tidak suka berhias, sampai sahabat Abbas malu jika keluar dengan istrinya. Tapi beliau memiliki putra alimnya minta ampun, yakni Abdullah bin Abbas)
Sayyidina Husain nduwe bojo anake rojo rustam (rojo persia). Walaupun asale putri rojo, sakwise dadi bojone sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi.
(Sayyidina Husain punya istri putri raja Rustam (raja Persia). Walaupun asalnya putri raja, setelah menjadi istri Sayyidina Husain sudah tidak begitu suka dunia. Makanya punya putra Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alimnya keturunan Kanjeng Nabi.)
Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng POSO.
(Kiai-kiai Sarang alim-alim seperti itu, sebab nenek-neneknya suka puasa)
Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal padang yang tinggal di mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng
transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin.
(Syekh Yasin al-Padangi itu punya istri pandai dagang, punya dua orang putra. Yang satu menjadi ahli bangunan. Yang lain ahli transportasi. Semua putranya tidak ada yang meneruskan dakwah Syekh Yasin)
Neng Al Qur-an (di al-Qur'an)
نساؤكم حرث لكم
Istri iku ladang kanggo suami. (Istrimu ladang suami)
Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik.
(Seberapapun bagusnya bibit (padi) tapi jika tanah atau ladangnya tidak baik, maka tidak akan bisa menghasilkan padi yang bagus.)
Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ORA PATIYO NGURUSI DUNYO LAN KHIDMAH POLL KARO SUAMINE.
(Intinya bisa punya anak alim, kalau istrinya TIDAK BEGITU PEDULI URUSAN DUNIA DAN KHIDMAH TANPA BATAS KEPADA SUAMI)
Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat.
(Kalau kamu memilih istri pandai urusan dunia, kamu harus berani tirakat)
Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo.
(Kalau tidak berani tirakat, ya carilah isgri yang ahli dzikir, kamu yang berpikir urusan dunia alias kerja)